Keputusan mereka beralih ke olahraga gateball ternyata tepat. Meskipun harus menjalani penyesuaian, namun mereka mampu dengan cepat menguasai. Hasilnya, medali emas di Porprov mereka dapatkan.
Halaman rumah di Desa Gayam, Kecamatan Gurah itu diisi beberapa orang yang memegang tongkat. Tongkat itu berbentuk T, dengan ujung bawah berbentuk silinder. Beberapa kali si pemegang menggunakan tongkat itu untuk memukul bola yang ukurannya sedikit lebih besar dari bola tenis. Ada angka di permukaan bola itu, mirip dengan yang digunakan di bola sodok.
“Seperti ini olahraga gateball itu,” ucap Heris Maulana Akbar. Pria yang biasa disapa Heris ini adalah atlet gateball yang baru saja meraih medali emas di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim beberapa waktu lalu. Dia merebut emas di nomor ganda campuran. Berpasangan dengan Flira Jihan Amelia.
Keduanya, dan beberapa lagi atlet yang tergabung dalam Persatuan Olahraga Gateball Seluruh Indonesia (Pergatsi) Kabupaten Kediri, sedang berlatih di halaman rumah Anang Widodo. Nama yang disebut terakhir itu adalah salah seorang pelatih gateball.
Baik Heris maupun Amel, panggilan Amelia, tergolong pemula di gateball. Hanya, pengalaman mereka pernah ikut di beberapa cabang olahraga menjadikan cepat beradaptasi. Hingga bisa lebih cepat expert. Tentu saja ditopang latihan keras.
Heris misalnya, ketika SD-di MI Asy-Syafi’iyah-menggeluti tenis meja. Pemuda asal Desa Klanderan, Kecamatan Plosoklaten ini juga punya koleksi trofi dari berbagai kejuaraan. Kemudian, dia juga gemar olahraga bola voli. Beberapa kali juga ikut pertandingan.
"Tiga kali juara satu tenis meja tingkat kabupaten. Saat Aksioma (Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah, Red) juga dapat juara harapan. Di turnamen umum beberapa kali juara," ujarnya mengingat-ingat.
Amel tidak jauh berbeda. Sudah bergelut dengan bola voli sejak SD. Gadis asal Desa Blimbing, Kecamatan Gurah, ini sering dibon-istilah yang dikontrak agar tampil di pertandingan antarkampung-oleh banyak klub amatir. Kemampuannya di olahraga ini memang mumpuni.
"Di tarkam sering menang. Saat SMP pernah juara 1 se-Jatim," aku gadis 18 tahun ini.
Tapi, mereka merasa kemampuannya di cabang itu sudah mentok. Tak bisa berkembang lebih baik lagi. Karena itu, ketika ditawari gurunya di SMAN 1 Pare agar terjun di gateball, keduanya langsung menganggukkan kepala.
Sebagai cabor baru, tapi sudah tampil di event sekelas PON, keduanya merasa punya peluang meretas prestasi. Dan, itu mereka buktikan saat tampil di Porprov Jatim.
Meskipun sempat tegang, terutama Amel, ketika tampil di final, namun mereka berhasil membawa pulang medali emas.
"(Amel) sempat nangis, tapi tak bilangi bentar-bentar, masih belum selesai," ingat Heris sembari tertawa.
"Soalnya tegang, walau skor unggul tapi kan ada kemungkinan bisa disalip," timpal Amel.
Pada akhirnya tangis haru yang pecah. Di final itu mereka menang dengan skor 12-9. Mengalahkan pasangan dari Kabupaten Bojonegoro. Medali cabor ini juga diraih oleh Raditya Ridfan Maulana Faiz, rekannya sesama atlet Kabupaten Kediri. Dia meraih medali perak di nomor tunggal.
Editor : Anwar Bahar Basalamah