Mata air ini terletak tepat di tengah permukiman warga. Tak ayal, warga setempat pula yang lebih banyak memanfaatkan mata air ini. Setiap harinya, hampir selalu ada warga yang mandi dan mencuci baju di sana.
Mata air ini berada tepat di tepi jalan raya. Saking dekatnya, sumber itu hanya dipisahkan jalan setapak. Di tepi Jalan Mastrip di Desa Klanderan, Kecamatan Plosoklaten terdapat sebuah pintu gerbang kecil. Melewati gerbang dan menuruni sedikit anak tangga, pengunjung sudah sampai di Sumber Tirta Ayu Wening.
Sebagaimana julukannya, mata air ini nampak sangat jernih. Ditambah, sumber ini telah diberi bangunan pengaman berupa plengsengan. Sehingga airnya makin jernih mengalir di sana. Kolam yang memanjang seluas lebih kurang 15x100 meter itu juga dipayungi pepohonan besar yang rindang.
“Di sini meskipun tempatnya nggak luas, tapi justru sumbernya paling besar,” ujar Hari, warga setempat yang membandingkan sumber ini dengan sumber-sumber lainnya di desanya.
Bahkan–menurutnya—aliran air dari Sumber Tirta Ayu Wening bisa menjangkau kawasan pertanian hingga desa tetangga. Salah satunya di Desa Donganti, Kecamatan Plosoklaten.
“Kalau di sini justru nggak dipakai untuk pengairan sawah. Tapi untuk cuci-cuci dan mandi,” sambung Sumirah, warga setempat lainnya.
Sumirah yang pada waktu itu juga mandi bersama cucunya menyebut tradisi kebiasaan itu sudah ada sejak lama. Di era sekarang, kebiasaan itu juga masih dilakukan oleh masyarakat.
“Sampai dulu bangunannya sempat dibikin lebih panjang. Biar nggak uleng-ulengan (berdesakan, Red). Tapi ya tetap ramai apalagi kalau Minggu. Hampir nggak ada sepinya,” sambungnya.
Tradisi itu agaknya juga didukung oleh lokasi mata air yang berada di tengah-tengah permukiman warga. Bahkan, rumah terdekat dengan mata air hanya berjarak sekitar 50 meter.
“Nggak hanya warga sini saja. Terkadang juga banyak orang dari luar yang ke sini. Entah mandi atau cuci-cuci karpet,” pungkasnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah