Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengunjungi Uniknya Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang di Semen Kabupaten Kediri

Habibaham Anisa Muktiara • Senin, 11 Desember 2023 | 17:32 WIB
UNIK: Bangungan Gereja Tua Puhsarang memiliki atap yang melengkung.
UNIK: Bangungan Gereja Tua Puhsarang memiliki atap yang melengkung.

Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang berlokasi di lereng Gunung Wilis. Tepatnya di Jalan Raya Puhsarang, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Gereja ini menjadi salah satu tempat wisata religi. 

Jika pada umumnya gereja berbentuk runcing. Namun, berbeda dengan gereja satu ini. Atapanya terlihat seperti gunung. Atap bagunan berbentuk melengkung ini terdapat empat lengkungan kayu.

“Lengkungan ini menyangga jaringan kawat. Yang di atasnya dipasang genting,” ujar Petugas Informasi Gereja Puhsarang Yulius Santoso. 

Yulius menjelaskan bahwa Gereja Puhsarang ini dibangun pada tahun 1936. Di gereja ini terdapat sebuah altar yang terbuat dari batu. Beratnya mencapai tujuh ton. Altar tersebut berhias pahatan rusa. Altar luar berbentuk Stupa Borobudur. Menaranya berbentuk Candi Buntar. Selain itu terdapat pendopo, perangkat gamelan sebagai pengiring misa, tabernakel batu dengan desain batu terguling, makam, dan lain-lain.

“Yang membuat bangunan gereja ini adalah Ir Maclaine Pont. Seorang arsitektur dari Belanda,” terangnya. Arsitek yang lahir di Messter Cornlis itu mendesain gereja ini. Dengan memasukkan unsur budaya lokal. Sebagai seorang arsitek, Pont sangat mengagumi situs-situs penting di Jawa. Salah satunya yang ada di Trowulan, Mojokerto.

Hingga renovasi terkini, kompleks gereja ini memiliki luas lebih dari 6,5 hektar dengan perencanaan perluasan lagi. Di dalam kompleks Puhsarang, dapat kita temui beberapa hal unik. Pertama struktur gereja dan beberapa bangunan penting yang antic. Dengan diwarnai bentangan kawat baja sebagai ganti reng dan usuk untuk atap bangunan. Dalam gereja, relief-relief batu tentang lambang penulis Injil tergurat jelas.

Bangunan Induk memiliki atap berbentuk seperti cupola atau kubah. Di atap dipasang salib. Pada ujung atap dipasang gambar simbolis keempat pengarang injil. Yakni Santo Matius Penginjil yang digambarkan sebagai manusia bersayap. Santo Markus Penginjil digambarkan sebagai singa yang bersayap. Santo Yohanes Penginjil digambarkan sebagau burung rajawali. Lalu, Santo Lukas Penginjil digambarkan sebagai lembu jantan.

“Bangunan induk yang mirip dengan gunung merupakan bagian sakral atau kudus,” kata Yulius.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#lereng gunung wilis #gereja #Santa maria #katolik