Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melahirkan Tiga Bayi Kembar Prematur, Inilah Kisah Hebat sang Ibu Dewi Sulistianingsih

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 1 Desember 2023 | 18:00 WIB
Photo
Photo

melakukan USG, jumlah janin di perut Dewi selalu terlihat dua. Baru ketahuan setelah ketubannya pecah dan terjadi pembukaan dua. Padahal, selama ini sang ibu hanya mempersiapkan perlengkapan bayi untuk dua anak saja. 

“Waktu operasi caesar, saya dapat bius setengah. Jadi, masih bisa mendengar tangisan bayi saya. Masak saya dikabarkan pingsan,” ucap seorang wanita sambil duduk di tepi ranjang Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kediri (RSKK).

Ibu muda itu baru saja mengubah posisinya yang semula berbaring. Dia adalah Dewi Sulistianingsih. Warga Dusun Notorejo, Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung ini baru saja melalui tahap paling mendebarkan, sekaligus membahagiakan dalam hidupnya. Melahirkan bayi kembar tiga! Kabar tentang dirinya pingsan itu juga salah satu yang mewarnai pengalaman hidupnya itu. Meskipun, dia menegaskan lagi bahwa kabar itu adalah tidak benar.

“Kalau perasaan ini sedikit kaget,” lanjutnya, masih dengan aura bahagia.

Wajar bila Dewi kaget. Dia memang sudah diberitahu bahwa akan mendapatkan bayi kembar. Namun, tidak tiga, melainkan hanya dua. 

“Saat di USG pertama kali ada dua, katanya bayi yang ketiga ini ketutupan,” terangnya. 

Karena itulah perempuan 26 tahun ini hanya meyiapkan perlengkapan untuk dua bayi saja. Membuat dia dan suaminya, Andik Setiawan, harus menambah satu set perlengkapan bayi lagi. Tentu saja untuk bayi ketiganya.

“Saya tidak percaya Allah mempercayai kami untuk merawat tiga putri,” ucapnya, mengulang rasa tidak percayanya.

Kini, tiga bayi itu sudah dia beri nama. Hampir mirip tentu saja. Hanya berbeda di nama depan. Berurutan sesuai waktu lahir, Dewi menamai anaknya dengan Elvira Syakila Putri Setiawan, Elvina Syakila Putri Setiawan, dan Elvani Syakila Putri Setiawan.

Terlepas dari kabar tidak benar tentang dia yang pingsan saat melahirkan, Dewi memang menjalani fase yang mendebarkan selama proses persalinan. Sempat menjalani rawat inap karena terjadi kontraksi padahal belum waktunya melahirkan. Untungnya dia bisa mempertahankan kandungannya.

Sepulang dari rumah sakit itu, Dewi dijadwalkan kontrol lagi 4 Desember nanti. Namun, baru dua hari di rumah-tepatnya pada 27 November-terjadi sesuatu yang mencemaskan. Ketuban wanita kelahiran 1997 ini pecah. Ada rembesan air ketika dia berbaring di tempat tidur.

Sontak, dia langsung memanggil suaminya dan menelepon angota keluarga yang lain. Oleh sang suami, Dewi segera dilarikan ke RSKK. Saat itu, setelah diperiksa awal, tim medis memastikan kandungan masih bisa dipertahankan.

Sehari kemudian, tim medis melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Hasilnya, sangat membuat kaget. Dan ini mengubah rencana kelahiran sang bayi. Ternyata, di perut Dewi ada tiga janin. Tidak dua seperti yang diperkirakan selama ini. Nah, tim medis pun memutuskan untuk segera melakukan operasi caesar. Sebab, air ketuban juga sudah habis. 

Awalnya, dokter juga berusaha mempertahankan usia kehamilan minimal 34 minggu. Dengan harapan paru-paru janin sudah mengembang. Namun, karena air ketuban habis maka usia kehamilan terpaksa hanya 32 minggu.

“Artinya anak lahir dalam kondisi sangat prematur,” terang dr Meilisa Madona, dokter spesialis anak di RSKK yang ikut menangani.

Selain itu, sudah terjadi pula pembukaan dua sentimeter. Ditambah, Dewi punya riwayat operasi caesar. Yaitu pada kelahiran anak pertamanya. Karena itulah tim medis berusaha mencegah agar sang ibu tak mengalami kontraksi hebat. Bila itu terjadi, dan dengan fakta ada tiga janin di kandungan, maka berpotensi terjadi robekan pada rahim.

Pihak rumah sakit juga tidak memutuskan merujuk ke tempat lain. Sebab, risikonya juga berbahaya. “Selama di-transport bisa saja membahayakan ibu dan bayinya,” terang Meilisa.

Masalah sepertinya sudah teratasi ketika bayi menangis saat keluar dari rahim ibunya. Tapi, masuk menit kelima, tangisan bayi itu terhenti. Bila dalam istilah medis disebut asfiksia. Sehingga bayi harus mendapatkan penanganan awal dengan memberi support napas. 

Sementara, kondisi sang ibu baik-baik saja. Dia juga pulih dengan cepat. Setelah pindah kamar pemulihan, Dewi juga bisa berjalan-jalan. Dari kamar menuju ruangan bayi, melihat perkembangan tiga buah hatinya. Selang infus dan kateter juga sudah dilepas. 

Kini, dia tinggal berharap bayi-bayinya segera membaik kondisinya. Agar sang kakak, yang kini berusia tujuh tahun, bisa segera melihat sang adik-adik.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#usg #bayi #prematur #kembar