Sumber Sirah dulunya hanya dimanfaatkan untuk pengairan sawah warga setempat. Namun, seiring waktu berjalanan, tujuan itu berubah. Kini, sumber ini justru banyak dikenal warga sebagai tempat wisata.
Sebelum menjadi tempat wisata, Sumber Sirah hanya sumber yang berada di tengah pepohonan rimbun. Kegunaanya hanya untuk mengairi sawah. Bahkan, dulu tempat ini relatif tak terawat. Karena banyak yang suka membuang sampah di sana. Sehingga membuat tempat itu terkesan kotor.
Tidak hanya terkesan kotor, namun juga membuat suasana di sana tidak enak. Kemudian pada tahun 2014, Sumber Sirah ini mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah desa. Agar sumber tersebut tidak rusak, maka dilakukan perawatan.
Sumber ini lantas disulap menjadi tempat wisata. Warga membersihkan sampah dari sumber air. Sehingga kawasan ini tidak terkesan suram. Sekitar sumber ini juga dilakukan perombakan. Ditambah dengan beberapa fasilitas pendukung. Perlahan tapi pasti, keberadaannya pun seperti sekarang ini.
“Nama Sumber Sirah ini diketahui dari orang tua (sesepuh) yang ada di desa,” terang Direktur Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Kerkep Cahyo Priyo Widiyono.
Di kawasan wisata ini terdapat kolam renang. Kedalamannya mencapai 1,2 meter. Pinggir kolam ini diberi tangga dan perosotan. Meski dituliskan untuk orang dewasa, namun terkadang anak-anak juga berenang di sana.
Di tempat wisata ini, tidak hanya menyajikan kolam sumber. Namun, juga terdapat dua spot kolam renang untuk anak-anak. Sedangkan fasilitas lainnya meliputi arena outbond, rumah hobbit, kolam pemancingan, kamar mandi, tempat sholat, hingga warung-warung penjual makanan.
Suasana yang masih asri, membuat tempat wisata ini sering dipakai lokasi outbound anak-anak sekolah. Beberapa pohon di sana sudah berusia ratusan tahun. Hal tersebut terlihat dari tinggi dan diameter lingkarannya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah