Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Immanuel Kediri ini sudah ada lebih dari satu abad yang lalu. Tepatnya dibangun pada 1904. Pada masa penjajahan Belanda. Gereja ini banyak dikenal dengan nama Gereja Merah.
Bangunan gereja ini begitu unik. Yang merupakan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Peletakan batu dilakukan oleh DS. J. A. Broers pada 21 Desember 1994. Dan peresmian oleh J. V. D. Dungen Gronovius. Uniknya, bangunan gereja ini sama sekali tidak memiliki kerangka dari besi. Semua terbentuk dari batu bata dan kayu jati asli yang sudah ada sejak 1904.
Lokasi gereja ini seluas 1.354 meter persegi. Bangunan utama berdenah persegi seluas 20,30 x 9,0 meter. Bangunan ini menghadap ke arah timur. Tinggi bangunan gereja ini mencapai 10,5 meter.
“Jika diukur dari lantai ke menara, totalnya sampai 14,8 meter,” ujar Lorens Hendrik, 54, selaku Koster GPIB Jemaat Immanuel Kediri.
Pria kelahiran tahun 1969 itu juga menjelaskan bahwa total ketinggian sudah termasuk dengan adanya penangkal petir. Gereja ini pun sudah dikenal dengan sebutan Gereja Merah. Yang menjadi daya pikat masyarakat ketika melewati bangunan ini. Adalah gaya bangunan yang sangat khas peninggalan zaman Belanda, serta warna bangunan yang merah bata.
“Dulu sejak 1904 sampai 1994 warnanya masih putih,” terang Hendrik. Warna putih itu berasal dari kapur gamping. Kemudian diubah menjadi warna merah bata. Menyesuaikan bahan bangunan yang ada dan masih berkualitas bagus sejak 1904. “Tidak banyak yang diubah dari bangunan gereja ini. Semua bahan dan material masih bawaan dari zaman Belanda tersebut,” tambahnya.
Gereja Merah sudah resmi ditetapkan sebagai cagar budaya. Diresmikan pada 2008 lalu. “Bangunan gereja ini 85 persen masih asli,” ungkap Hendrik. Lantai pada gereja ini dikategorikan menjadi dua. Yakni lantai keramik dan lantai kayu. Pada ruang beranda, ruang utama, dan ruang konsitori menggunakan lantai berbahan keramik. Yang memiliki ukuran 30 x 30 sentimeter berwaran putih.
“Beberapa bagian lainnya menggunakan lantai kayu,” ucap Hendrik.
Bagian-bagian yang memakai lantai kayu adalah area altar, balkon, dan ruang menara. Kayu yang dipakai adalah kayu jati asli. Kemudian tekstur bangunan GPIB Immanuel Kota Kediri ini secara visual dapat terlihat dengan penggunaan batu bata ekspose. Yang memberikan kesan megah pada bangunan.
“Meski bangunannya warna merah bata, namun juga dipadu dengan warna jendela dan pintu. Yang memiliki warna berbeda,” jelas ayah dari tiga anak tersebut. Warna jendela gereja jika dilihat dari luar memang tampak hijau. Kemudian pada pintu masuk, memiliki warna kuning keemasan pada tekstur pintunya.
“Untuk furniture yang ada di dalam gereja, hampir semua masih bawaan dari 1904,” ujar Hendrik.
Editor : Anwar Bahar Basalamah