Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Kisah Keluarga yang Turun-temurun Jadi Juru Pelihara Prasasti Tangkilan

Anwar Bahar Basalamah • Selasa, 21 November 2023 | 17:03 WIB

 

TINGGI: Anik Supatmi berdiri di samping Prasasti Tangkilan. Dia adalah generasi kelima yang menjadi juru pelihara cagar budaya tersebut.
TINGGI: Anik Supatmi berdiri di samping Prasasti Tangkilan. Dia adalah generasi kelima yang menjadi juru pelihara cagar budaya tersebut.

Keluarga ini jadi generasi kelima menjadi ‘penjaga’ Prasasti Tangkilan. Sejak ditemukan pertama kali oleh kakek buyutnya. Sejak sebelum ditetapkan jadi cagar budaya, mereka harus merogoh dari kocek sendiri untuk biaya perawatan.

 

Wanita berkaca mata itu berdiri di samping batuan besar yang tingginya melebihi dirinya. Dua batu berbentuk tabung dengan ukuran jauh lebih kecil tergeletak di depannya. Mengapit dua tungku kecil yang terlihat jelas sebagai tempat pembakaran dupa atau kemenyan. Selain itu, ada pula dorpel, umpak berbentuk padma, juga ada arca yang kondisinya terpenggal.

“Prasasti ini yang menemukan kakek buyut saya. Namanya Mbah Suwo,” cerita wanita berambut panjang ini yang juga tercatat sebagai juru pelihara (jupel) cagar budaya.

Wanita itu adalah Anik Supatmi. Warga Desa Padangan, Kecamatan Kayenkidul ini menyebut prasasti dari batu andesit tersebut sebagai Prasasti Tangkilan. Sejak ditemukan kakek buyutnya itu, hingga kini keluarganyalah yang bertanggung jawab merawat peninggalan bersejarah tersebut.

Prasasti itu memang berada tepat di bagian belakang rumahnya. Ada kuncup berukuran 10 x 10 meter yang menjadi pelindungnya. “Sebelum dibangun seperti ini dulu berada di tempat terbuka,” ucap Anik.

Terbuka itu, menurut Anik, dulu tempat tersebut tak beratap. Meskipun sudah diberi pagar yang mengelilinginya. Akibatnya ada lima arca yang hilang. Lima arca itu juda ditemukan bersamaan dengan penemuan prasasti. Kebetulan dulu juga belum banyak rumah di sekitarnya. Masih didominasi kebonan, tanah terbuka yang banyak ditumbuhi pepohonan.

Perempuan 45 tahun itu kemudian menceritakan soal kakek buyutnya. Yang menemukan pada 1908. Waktu tengah babad alas alias membuka tanah untuk dijadikan pemukiman maupun tempat bercocok tanam.

Ketika menggali tanah, dia menemukan seonggok batu besar. Berisi tulisan dengan aksara Jawa di permukaannya.

Dengan peralatan sederhana dia mengangkat temuan itu. Tentu harus dilakukan perlahan. Hingga sampai di lokasinya saat ini.

Semula, tempat ini disebut Punden Mbah Gilang. Yang menjadi punden desa. “Jadi sering menjadi tempat lokasi ritual,” terang Anik.

Kebetulan, di desa ini sebagian warganya beragama Hindu. Tempat inipun juga jadi ritual beragama mereka. Itu ditunjukkan dengan dua tempat pembakaran kemenyan dan dupa itu. Menjadikan suasana sakral sangat terasa.

Anik telah terbiasa merawat prasasti. Karena dia sudah diajari sejak kecil. Selama itu, banyak suka dan duka yang dia rasakan. Seperti kebiasaan pengunjung yang berbeda-beda. Misalnya, ketika ada yang melakukan ritual di tempat ini, kadang langsung pergi tanpa membersihkan lagi.

Pada 2015, Prasasti Tangkilan ditetapkan sebagai cagar budaya. Pemkab Kediri kemudian membuatkan atap di cungkup tersebut. Juga tembok yang mengarah ke rumah warga. Sayang, akes menuju tempat ini masih jalan tanah.

Semenjak menjadi peninggalan bersejarah, prasati ini sering dikunjungi. Baik itu komunitas penyuka sejarah, pelajar, hingga masyarakat awam yang ingin melihat-lihat. Hal ini membuat Anik juga sekaligus menjadi guide. Yang harus menjelaskan secara detil kisah terkait prasasti.

“Tapi sekarang kebanyakan anak-anak ini hanya ambil foto. Pilih mencari sejarahnya di Google,” aku Anik.

Keberadaan tempat ini juga menarik minat arkeolog Internasional. Ada Profesor Arlow-demikian seingat Anik-yang asal Belanda yang datang meneliti. Bahkan, sang profesor sampai dua kali mengunjungi. Juga ada Profesor Nakada-ini juga berdasarkan ingatan Anik-yang dari Jepang.

Sebagai penerus generasi kelima, Anik berharap ke depannya semakin ada bantuan. Salah satunya adalah bantuan memperbaiki akses jalan menuju prasasti. Ia berharap aksesnya mudah seperti ke lokasi bersejarah lainnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#prasasti #penjaga #turun temurun #keluarga