Namanya Sumber Panguripan. Sesuai sebutannya, mata air ini jadi sumber kehidupan bagi warga setempat. Puluhan warga di satu dusun ini bergantung pada air dari sumber yang dialirkan lewat pipa-pipa.
Sutoyo lincah melangkah di jalan setapak lereng Gunung Klotok. Padahal, medannya miring dan sedikit terjal. Namun, itu tak menghambat langkahnya. Pria parobaya itu menunjukkan arah menuju Sumber Panguripan.
Mata air yang terletak di Dusun Ngesong, Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan itu dikenal sebagai sumber penghidupan warga setempat. Bukan melebih-lebihkan. Warga setempat memang masih bergantung dari air sumber hingga sekarang.
“Airnya jernih sekali. Dari dulu warga pakai airnya dari sini,” ujar pria 71 tahun itu.
Karena ketergantungan warga dengan sumber itu, akhirnya dibangun tandon air permanen dari beton. Dengan begitu, air bisa tertampung dengan maksimal. Sebelum dialirkan ke rumah-rumah warga. “Sudah sejak zaman setelah Soeharto mungkin. Lama sekali,” ucap Sutoyo.
Kepala Dusun Ngesong Dio Solianto menambahkan, sedikitnya ada dua rukun tetangga (RT) yang bergantung pada Sumber Panguripan. Sedikitanya, ada 270 jiwa yang bergantung dengan sumber tersebut. Kondisi itu juga tidak terlepas dari sulitnya warga memiliki sumur bor sendiri.
“Kalaupun ada (sumur bor) rata-rata kedalamannya sampai 100 meter. Mungkin hanya orang-orang yang kaya saja yang punya sumur bor sendiri,” ungkapnya.
Tak ayal, hingga sekarang pun air dari Sumber Panguripan masih terus mengalir ke rumah-rumah warga. Khususnya yang rumahnya berada di kawasan tertinggi di desa itu. Masyarakat yang bergantung pada sumber air itu pun sering kali menggelar kegiatan rutin tiap tahunnya. Tujuannya, untuk melestarikan dan menjaga mata air dengan cara mereka.
Terlepas dari itu, keberadaan pohon berpengaruh besar bagi kelestarian mata air. Sayangnya, dataran tinggi di lereng Gunung Klotok itu mayoritas dipenuhi dengan pohon dan semak belukar yang mengering. Kemarau panjang tahun ini menyebabkan banyak pohon dan rumput di sana menguning.
“Setiap tahun pasti ada konservasi. Kita selalu adakan penanaman pohon di area sini. Dan harus selalu melibatkan masyarakat,” sambung Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Pojok Suwoto yang kemarin juga mendampingi.
Melibatkan unsur masyarakat menurut Suwoto tak kalah penting dari tujuan akhir upaya konservasi. Sebab, masyarakat juga lah yang akan banyak memanfaatkan hasil bumi dari hutan. Termasuk dalam hal ini air yang memancar dari Sumber Panguripan. Dengan begitu, kesadaran untuk menjaga alam juga bisa tumbuh dari masyarakat setempat.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah