Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Hari Guru: Saat Panen Raya, Banyak Murid Bolos dari Sekolah

Karen Wibi • Jumat, 10 November 2023 | 17:11 WIB
Photo
Photo

Bagi para guru di SDN Simbarlor, menaklukkan medan tempuh bukanlah satu-satunya tantangan yang harus dihadapi. Melainkan juga kondisi siswa yang jauh dari kata siap.

“Mereka (murid-murid) baru diajari calistung ketika usia tujuh tahun,” terangnya, sembari meminta siswanya berkumpul ketika waktu tepat pukul 07.00, saat KBM dimulai.

Mengapa? “Tidak ada sekolah taman kanak-kanak di tempat ini. Karena itu mereka belum pernah mendapat pelajaran calistung,” sambungnya.

Masih ada lagi kesulitan lain. Yaitu membujuk anak-anak dusun agar mau bersekolah. Terutama ketika musim panen yang biasa berlangsung April
“Setiap musim panen, murid-murid di sini pasti tiba-tiba menghilang,” tambah Purmanto, guru yang lain.

Pria ini bercerita, bersekolah masih menjadi budaya yang asing bagi warga Dusun Simbarlor. Buktinya? Setiap musim panen tebu sekolah tiba-tiba sepi. Tak ada satu pun murid yang bersekolah. Hal seperti itu sudah terjadi sejak sekolah berdiri, pada 1980-an.

Mengapa? “April jadi bulan panen raya tebu. Banyak murid yang memilih ngasak, mencari sisa-sisa tebu yang dipanen,” terangnya.

Ketika ngasak mereka tetap berseragam sekolah. Berangkat dari rumah seperti biasa. Namun ketika sampai di gerbang sekolah, mereka tidak berbelok masuk halaman. Melainkan terus lurus sampai satu kilometer, ke persawahan tebu.

Kebiasaan itu sempat membuat Purmanto kebingungan. Terlebih itu terjadi tak hanya sehari, bisa satu hingga dua minggu!
“Benar-benar tidak mau ke sekolah. Lewat depan sekolah ya nyapa saya tapi tetap ngasak,” sambung pria asal Desa/Kecamatan Gurah tersebut.

Hal itulah yang ingin diubah oleh Purmanto dkk. Caranya? Mendatangi murid ke rumah masing-masing. Memang sulit, tapi berkat keuletan para guru, akhirnya kini banyak yang mau sekolah ketika musim ngasak tiba.

“Harus dibujuk pakai banyak cara. Dibelikan sarapan, dikasih game, dan masih banyak yang lainnya,” tambahnya.

Alvian menambahkan, sedikitnya murid membuat tingkat persaingan jadi rendah. Kadang, mereka ogah-ogahan belajar. Toh, meskipun tak masuk tetap masuk empat besar.

Alvian juga harus pintar-pintar membujuk. Menjemput para siswa. Tak hanya ketika pagi hari ketika KBM mau dimulai. Namun juga ketika selesai istirahat. Karena kadang, setelah istirahat, para murid memilih untuk tidur hingga siang menjelang sore hari.

“Karena disini tidak ada yang jualan mainan atau jajan, jadi kalau istirahat ya pulang ke rumah,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) SD Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri Nurhidayat Wasis membenarkan jika SDN Simbarlor menjadi sekolah paling terpencil di Kabupaten Kediri. Salah satunya adalah karena akses yang cukup sulit untuk menuju ke sekolah.

Bahkan saking sepinya, sejak berdiri di 1980, beberapa kali sekolah tersebut tak memiliki murid. Kalau pun dapat, pasti murid yang masuk hanya hitungan jari.

“Mayoritas yang bersekolah di tempat tersebut ya dari Dusun Simbarlor,” terangnya. 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#menaklukkan #siswa #hari pahlawan #para guru