Sumber Gundi salah satunya dikenal sebagai kawasan ruang terbuka hijau yang luas. Beragam fasilitas yang ada di sana turut menarik pengunjung untuk mampir ke sana. Minimal, untuk sekedar menyeruput kopi sembari menikmati suasana alam.
Umumnya, di hari dan jam kerja bakal jarang sekali masyarakat mengunjungi sumber air. Namun, hal itu tidak berlaku di Sumber Gundi. Mata air yang terletak di Desa Tanjung, Pagu itu tetap ramai pengunjung. Meski di hari kerja sekalipun.
Masyarakat biasanya berkunjung untuk duduk-duduk sembari menikmati suasana asri di sana. Tak heran, puluhan pohon besar memayungi kawasan seluas lebih dari satu hektare itu. “Kalau Minggu atau hari libur gitu bisa lebih ramai lagi,” ujar Ika, warga setempat.
Perempuan yang sehari-hari berjualan di Sumber Gundi ini menilai suasana sumber jadi daya tarik pengunjung. Tak jarang, orang dari luar kota yang kebetulan melintas sering kali mampir. Alasannya untuk ‘ngadem’ di kawasan mata air itu.
“Biasanya kalau pagi juga ada yang yoga di sana. Kalau pagi kan lebih sejuk lagi. Nggak panas,” ucap Ika. Beragam fasilitas di sana juga memanjakan pengunjung. Banyak warung yang didirikan oleh warga setempat. Beragam jenis kuliner juga tersedia.
Sayang, selama kemarau debit air Sumber Gundi banyak berkurang. Padahal, kolam mata air itu lebih utama difungsikan sebagai tempat budidaya ikan. Dampak dari berkurangnya debit air pun menjadikan air sumber nampak keruh.
“Surutnya lumayan banyak ini. Makanya pintu airnya juga ditutup. Kalau enggak habis airnya,” tandasnya.
Bahkan, ikan-ikan yang biasanya nampak berenang juga semakin sulit terlihat. Beberapa bagian sumber pun nampak mengering. Menyisakan air yang keruh dan dangkal di sana.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah