Hampir semua tak memiliki dasar karawitan atau bermain ketoprak kesenian tradisional. Hanya ditopang tekad kuat. Dan, tentu saja, aliran dana Prodamas Plus.
Warga RT 01 RW 01, Kelurahan Ringinanom, Kecamatan Kota tak hanya mampu membawakan seni pertunjukan ketoprak dengan luwes. Dengan iringan karawitan yang tak kalah dari mereka yang profesional. Upaya warga nguri-uri seni tradisional itu juga berbuah manis. Menonjolkan kelompok ‘Ringin Budoyo’ warga RT ini berhasil tampil menjadi yang terbaik dalam Prodamas Plus Award 2023 sebagai pelaksana terbaik bidang Sosial, Budaya, dan Kesehatan.
Warga memilih ketoprak sebagai wadah pengembangan masyarakat bukan tanpa alasan. Eksistensi dua seni budaya tradisional ini dinilai kian tergerus zaman.
“Seni budaya seperti ini sudah ngos-ngosan. Mulai sepi peminat,” ujar Hery Krishmanto, ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Ringinanom.
Kondisi itu mendorong mereka berkarya bersama lewat ketoprak dan karawitan. Membagikan sedikit waktu di antara rutinitas sehari-hari. Menempa diri bersama dengan konsisten meski harus belajar dari awal.
“Seumpama suhu, itu lima derajat di bawah nol,” kelakarnya soal mayoritas masyarakat yang sama sekali belum memiliki kemampuan membawakan seni budaya Jawa itu.
Dengan modal awal berupa alat musik karawitan yang mereka dapat lewat dana Prodamas Plus itu lalu dimanfaatkan dengan maksimal. Personel yang terdiri dari ketua-ketua RT dan RW hingga anggota LPMK itu dibimbing oleh seniman asli. Yang didatangkan dengan dana swadaya. Berkat latihan rutin selama setahun, sekumpulan masyarakat yang awalnya tidak bisa sama sekali, kini sudah bisa tampil di berbagai panggung seni.
“Karena teman-teman punya kemauan yang besar. Itu saja sudah bisa jadi modal besar. Dan semangatnya tetap tinggi sampai sekarang,” imbuh pria yang juga pemeran ketoprak di kelompok Ringin Budaya.
Paguyuban yang sudah berdiri sejak 2019 itu pun punya cara unik agar seni ketoprak bisa tetap eksis. Salah satunya dengan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Pembawaan mereka tidak kaku mengikuti pakemnya.
“Dari bahasa kami selalu gunakan bahasa yang mudah dimengerti semua kalangan. Jadi kalau tampil, anak-anak itu nggak buru-buru pulang duluan. Tapi mereka bisa ikut menikmati pertunjukan karena paham dengan bahasanya,” imbuh Ketua RT 01 Sutrisno.
Bisa diterima banyak kalangan memang jadi fokus mereka. Jika ketoprak terkenal dengan bahasa Jawa yang formal, mereka justru ‘memodifikasi’ dengan bahasa sehari-hari. “Tapi syaratnya cerita yang dibawakan tetap harus sesuai benang merahnya,” tambahnya soal profesionalitas yang tetap harus dijunjung dalam setiap pertunjukan.
Baca Juga: Saat Kemarau, Sumber Agung di Wates Kediri Mengering
Segala jenis panggung sudah mereka jajaki. Mulai dari pertunjukkan di kampung, gedung, hingga yang berskala antarkota. Jadi bukti bahwa pegiat seni yang tumbuh di kawasan padat penduduk ini bisa bersaing dengan seniman dari segala penjuru kota. Bahwa untuk menikmati pertunjukan mereka tidak hanya dengan melewati gang sempit di jantung Kota Kediri. Melainkan juga di panggung-panggung ‘bergengsi’ dengan anak-anak sampai orang dewasa sebagai penontonnya.
“Meskipun saat ini kami akui belum 100 persen masyarakat menggandrungi kesenian tradisional seperti ketoprak. Tapi kami coba masuk ke segmentasi anak muda,” sambung Lurah Ringinanom David Hendra.
Pria yang juga berperan sebagai aktor di ketoprak Ringin Budaya itu sepakat. Konsep silang budaya antara pakem ketoprak dengan budaya zaman sekarang sedikit banyak memengaruhi minat masyarakat terhadap seni tradisional itu.
“Setahu kami kalau ada pagelaran ketoprak, itu hampir nggak ada anak kecil yang sampai selesai mau nonton. Tapi kalau Ringin Budaya, sampai selesai ditonton. Mungkin karena bahasanya yang easy. Mudah diterima,” pungkasnya.
Perubahan demi perubahan di lingkungan yang berada di tengah kota itu pun turut membawa dampak sosial yang besar. Dari yang awalnya disebut sebagai lingkungan kumuh, kini lebih tertata dan berkembang. Salah satunya lewat sumber daya manusia di bidang seni yang terus ditempa dan disalurkan ke generasi-generasi penerus.
Editor : Anwar Bahar Basalamah