Menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga tak mengurangi semangat mereka melakukan perubahan. Aksi sederhana yang berdampak besar, khususnya bagi kelestarian alam. Di waktu luangnya, para perempuan ini mengubah sampah plastik jadi bahan bakar minyak.
Rukina memilah-milah sampah plastik di bank sampah pesisir pantai Bangsring dengan telaten. Sampah plastik beraneka warna yang bercampur dengan sampah botol itu dipisah sesuai jenisnya. Setelah semuanya terpilah, dia baru beraksi. Beragam jenis sampah kemudian diolah jadi beragam produk. Mulai dari pernak-pernik kerajinan tangan, produk pertanian, hingga bahan bakar.
Sesekali tatapan mata perempuan berusia 46 tahun tertuju ke anak-anaknya yang asyik bermain di kawasan pantai. Ya, Rukina memang memboyong anaknya yang masih balita ke lokasi bank sampah.
Saat ia bersama perempuan-perempuan lainnya bekerja memilah dan mengolah sampah, anak-anak akan leluasa bermain di Pantai Bangsring –tempat mereka beraktivitas.
Apa yang dilakukan Rukina, Cici Kusmawati, dan perempuan lainnya yang tergabung dalam kelompok Bank Sampah Telok Lemak itu bisa menginspirasi ibu rumah tangga lainnya. Di tengah kesibukannya mengurus rumah tangga, mereka masih bersemangat memulai perubahan. Salah satunya, dengan mengolah sampah plastik jadi bahan bakar minyak (BBM).
“Awalnya waktu Covid 2020 lalu itu kami bingung nggak ada pemasukan. Akhirnya kami mikir apa yang bisa menambah pemasukan. Lalu terpikir untuk merosok,” kenang Rukina.
Bunda Yuna –sapaan akrabnya—pun sempat bingung. Setelah merosok, mau diapakan? Akhirnya ada seorang pemuda menawarkan sebuah barang bekas. Barang yang awalnya dipandang sebelah mat aitu belakangan jadi alat utama mereka untuk memproses sampah plastik menjadi BBM.
“Dengan proses selama 2 sampai 3 jam dengan suhu 300 derajat celcius, kami bisa mengubah lima kilogram plastik jadi BBM. Hasilnya nggak sampai setengah liter. Bisa dipakai untuk motor dan perahu,” tuturnya.
Produk itu telah diteliti oleh perusahaan milik negara Pertamina. Hasilnya, BBM dari sampah plastik itu setara dengan BBM jenis premium dan solar. Sanak keluarga mereka yang kebanyakan merupakan nelayan itu pun banyak memanfaatkan produk sebagai bahan bakar perahu. Sehingga, bisa menekan pengeluaran dari yang sebelumnya harus menggunakan solar.
“Syukurnya bahan produksinya itu selalu ada. Sampah kan juga banyak,” terang perempuan asal Madura itu soal ironi sampah yang kerap kali jadi persoalan lingkungan. Namun, bisa menjadi peluang saat dimanfaatkan dengan baik.
Pesisir Pantai Bangsring yang berhadapan dengan Selat Bali membawa tantangan tersendiri bagi warga setempat. Salah satunya, sampah –termasuk limbah plastik—yang sering kali terbawa arus laut hingga ke pesisir pantai. Kondisi memprihatinkan itu pula yang mendorong sejumlah pihak untuk turun tangan.
Area Manager Communication and Relation Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Ahad Rahedi menyebut pengolahan plastik menjadi BBM itu merupakan salah satu bentuk upaya mengurangi sampah. Pun membuat langkah pelestarian alam yang berkesinambungan di ujung timur Pulau Jawa itu.
“Seperti kita ketahui, di Selat Bali banyak sampah-sampah bawaan. Mulai dari lautan sampai ke pesisi pantai. Ini yang coba kami kenalkan ke masyarakat pesisir pantai tentang teknik pirolisis,” ujar Ahad.
Teknologi pirolisis bisa mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar. Nantinya, bahan bakar itu bisa digunakan untuk perahu-perahu yang beroperasi di sana.
“Termasuk untuk memonitoring kegiatan transplantasi terumbu karang di sana. Jadi saling mendukung untuk upaya mengurangi sampah atau limbah plastik,” tandasnya terkait upaya pelestarian laut dan kawasan pantai yang tengah dilakukan di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi tersebut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah