Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Para Pemuda di Kediri Mewarisi Semangat Sumpah Pemuda

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 30 Oktober 2023 | 16:44 WIB
TOTALITAS: Kru film Punkngarep melakukan pengambilan gambar di pinggir rel KA Kota Kediri.
TOTALITAS: Kru film Punkngarep melakukan pengambilan gambar di pinggir rel KA Kota Kediri.

Kelompok ini berlabel ‘Ludruk Milenial’. Anggotanya berusia 20-an tahun. Proses terbentuknya pun tak melalui jalur formal. Berawal dari sekadar  teman nongkrong di warung kopi.

“Awalnya ya cuma teman nongkrong. Sering ngopi bareng. Akhirnya, daripada sekadar ngopi tak jelas mending bikin sesuatu bareng-bareng,” terang Redha Azis, di salah satu warung kopi yang berada di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota, Kota Kediri.

Pemuda 24 tahun ini adalah salah seorang anggota ‘Ludruk Milenial’. Termasuk founding father kelompok itu. Bersama dengan Amina Asmawi, M. Najib Zamzami, dan beberapa rekannya yang lain.

“Waktu itu 2019,” ujarnya mengingat waktu terbentuknya komunitas.

Garapan mereka sangat variatif. Mulai film, iklan, dan karya konten lainnya. Kelompok ini juga tergolong produktif. Sejak berdiri sudah 11 film yang mereka buat. Belum lagi karya iklan dan konten lainnya.

Para pemuda ini bergerak di jaringan bawah tanah alias underground. Mereka juga harus bersaing di tengah pasar film dan konten kreatif yang semakin menjamur. Dan, hebatnya, komunitas yang berbasis di Kelurahan Ngronggo ini bertekad untuk tidak melupakan dari mana mereka berasal. Mereka ingin memberi manfaat bagi kehidupan sosial di sekitarnya.

“Karena kami juga berawalnya dari relasi sosial. Awal-awal kan kita gak punya apa-apa. Sampai kamera saja pinjam. Jadi arahnya pun sekarang ya tetap sosial,” sambung Amin, sapaan akrab Amina Asmawi.

Wujud dari kacang yang tidak lupa kulitnya itu adalah, mereka membawa isu sosial di semua karyanya. Merekam keresahan di masyarakat. Menampilkan ke dalam film agar bisa menjadi renungan bersama. Seperti itu cara mereka ikut membangun negeri.

“Seperti apa realita yang terjadi di masyarakat sekarang, itu yang berusaha kami angkat. Jadi orang-orang juga bisa relate,” Amin menambahkan.

Membentuk komunitas anak muda dari nol, tanpa bantuan pihak mana pun, bukan hal mudah. Belum lagi harus membagi waktu. Meski masih mengandalkan kesadaran kolektif, mereka yakin perjuangan sebagai sineas akan berlanjut.

“Kalau sudah hobi, tetap ngangenin,” ujar Redha.

“Selain itu, karya seperti ini bisa jadi modal kita. Karena bisa dicantumkan sebagai portofolio. Dan zaman sekarang banyak perusahaan yang sadar dengan kebutuhan konten,” timpal Amin.

Hanya saja, untuk bisa berkembang juga butuh dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya lewat event.

“Kami selalu mencoba berdikari. Tapi mungkin butuh wadah seperti screening film atau workshop. Itu saja sudah bagus sekali. Karena lewat itu, yang datang bukan hanya dari teman-teman komunitas saja. Tapi juga individu lain yang bisa menambah relasi,” aku Amin.

Prinsip mereka anak muda harus kreatif. Terutama dalam mengembangkan minat dan bakat. Tidak perlu terburu-buru dengan hasil di depan mata. Melainkan, menikmati proses.

“Kalau terlalu mikir hasil, kita jadi takut memulai. Lebih baik kita nikmati prosesnya, nanti hasilnya pasti menyesuaikan. No pressure-lah,” imbuh Redha soal ajakannya agar anak muda lebih berani memulai berkarya.

Pelestari Sejarah-Budaya Kadhiri (PASAK) punya cerita sedikit berbeda. Sama-sama punya anggota anak-anak muda, mereka justru mengawali dari grup-grup Facebook. Yang concern pada soal sejarah dan budaya. Kemudian menuangkannya dalam aktivitas sosial.

Mereka pun tak ingin berhenti hanya nge-chat di Facebook. Pertemuan intensif pun terjadi. Hingga terbentuklah PASAK.

“Kami awalnya blusukan ke situs-situs sejarah,” terang Moch. Didin Saputro, ketua komunitas.

Komunitas ini kemudian merambah pada kegiatan lain. Namun, tujuannya tetap ke soal pelestarian budaya dan sejarah. Seperti melakukan bersih-bersih situs yang ada di Kediri.

“Kami juga pernah menggalang donasi untuk pembangunan cungkup (pelindung prasasti, Red) di Siman, Kepung,” jelas pria yang akrab disapa Didin ini.

Komunitas ini juga memiliki program lain. Misalnya lawatan sejarah dan cagar budaya masuk sekolah. Program tersebut dilakukan bersama dinas terkait. Yang intinya, memberikan materi terkait sejarah dan budaya ke pelajar. Termasuk belajar aksara bersama.

“Setiap tahun juga ada kegiatan rutin jelajah kota tua,” lanjutnya.

Saat ini, anggota PASAK yang aktif mencapai 50 orang. Namun, bila di Facebook sudah mencapai 11 ribu lebih. “Banyak juga dari luar Kediri yang ingin bergabung. Karena memang ingin mengetahui sejarah Kediri,” kata Didin.

Banyak hal yang ingin dilakukan komunitas ini. Seperti melakukan inventarisasi objek-objek diduga cagar budaya yang ada di Kediri. Kemudian, mengikuti acara baik di kota maupun kabupaten. Sebagai sarana mengenalkan sejarah dan budaya. Tak hanya yang berupa benda, juga seni tari, cerita rakyat, hingga ritual khusus.

“Kami ingin generasi muda terlibat dalam pelestarian sejarah,” harapnya. 

BELAJAR SEJARAH: Peserta Jelajah Kota Tua menyimak penjelasan tentang sejarah Gereja Merah pada 10 September lalu.
BELAJAR SEJARAH: Peserta Jelajah Kota Tua menyimak penjelasan tentang sejarah Gereja Merah pada 10 September lalu.

Perbanyak Festival agar Bisa Jemput Pasar
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak komunitas anak muda yang tumbuh. Termasuk sineas-sineas muda dengan segudang potensi. Sudah pasti, peran pemerintah daerahlah untuk memfasilitasinya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri Zachrie Ahmad mengatakan, pendekatan mereka salah satunya lewat berbagai lomba dan festival. Yang diharapkan bisa memantik keaktifan mereka. Sekaligus semakin dikenal luas masyarakat.

“Dan didorong supaya produk mereka bisa menjadi produk ekonomi kreatif. Sehingga layak untuk dijual dan ada pembeli yang berminat terhadap karya-karya mereka,” katanya.

Ayik—sapaan akrabnya—menambahkan, pihaknya acap kali melakukan penjaringan. Salah satu tujuannya untuk memunculkan potensi-potensi kepemudaan di daerah. Tentunya, mencakup banyak bidang di ranah anak muda.

“Tahun kemarin ketika kami mengadakan audisi pemuda pelopor, kebetulan bidang perfilman nggak muncul. Bahkan nggak daftar. Sehingga yang kami kirim ke provinsi untuk berkompetisi di tingkat nasional bukan dari bidang perfilman,” imbuh Ayik.

Menurut Ayik, anak muda juga perlu proaktif menjemput peluang. Momentum seperti itu bisa menjadi batu loncatan komunitas pemuda untuk bisa memasuki pasar masyarakat.

Dia mencontohkan, dalam momentum sumpah pemuda tahun ini, pemkot bekerja sama dengan komunitas-komunitas kepemudaan. Mengadakan festival yang melibatkan beragam karya anak muda. Lewat acara seperti itu, anak muda bisa mengekspresikan dirinya. Sekaligus mengantarkan komunitasnya ke ‘pasarnya’.

“Seperti nanti malam (tadi malam, Red) kami ada festival pemuda di Taman Sekartaji. Itu sudah dua minggu sebelumnya kami koordinasikan dengan seluruh komunitas pemuda di Kota Kediri. Untuk memunculkan kreativitas mereka di sini,” pungkasnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#sumpah pemuda #milenial #ludruk #pemuda