Berawal dari pesan sang pelatih, yang mengharuskan praktik gerakan di keseharian. Kini, sang penari ini seakan larut untuk terus ‘menari’ dalam setiap aktivitasnya. Pun ketika dia memberi pelajaran di depan kelas.
Malam itu, Fahmi duduk lesehan. Di antara teman-temannya. Di salah satu warung di area Kampung Inggris. Obrolan mereka terlihat gayeng. Diselingi tawa ketika keluar candaan-candaan.
Bila diamati lebih seksama, ada yang terasa lain pada sosok pemuda bernama lengkap Fahmi Lazuardi Wirawan ini. Sangat ekspresif ketika menceritakan sesuatu. Tak sekadar mimik maupun ucapannya saja yang berbicara. Seluruh anggota tubuhnya seakan ikut bercerita. Membuat gerakan-gerakan yang estetis.
“Dulu oleh pelatih saya diajarkan untuk selalu latihan. Entah itu hanya gerakin jari tangan atau kaki,” ucapnya, sambil menunjukkan gerakan satu jari yang diluruskan dan ditekuk secara berturut-turut.
Ya, Fahmi memang seorang penari kontemporer. Alumni jurusan bahasa Inggris di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini telah sering pentas di beragam acara. Terbaru, dia baru saja tampil di ‘Tribute to Rendra’, pentas tari yang berlangsung di pendapa eks-Kawedanan Pare.
Untuk menguasai gerakan seni tari kontemporer itu, Fahmi benar-benar memanfaatkan aktivitas kesehariannya. Sebab, seni yang dia geluti memang menggunakan seluruh bagian tubuh sebagai sarana berekspresi. Gerakannya bebas tapi mengutamakan fleksibilitas tubuh.
“Misalkan menoleh, itu bagaimana caranya menoleh sampai batas maksimal,” ucap pria asal Dusun Pancar, Desa Demangan, Kecamatan Tanjunganom Nganjuk ini, sambil memberi contoh.
Fahmi mengenal seni tari kontemporer sejak di bangku kuliah. Saat dia bergabung di salah satu unit kegiatan mahasiswa.
“Jadi di kampus itu ada teater, saya masuk di situ dan aktif,” jelasnya.
Baginya, gerakan tari kontemporer tidak semudah yang dilihat. Banyak hal yang harus dipelajari. Hal itu memerlukan latihan yang tidak serampangan. Dia kemudian memberi contoh. Bagaimana tubuhnya berdiri hanya dengan tumpuan satu kaki. Tanpa bantuan tangan.
“Latihannya ya sampek nyeri semua,” ungkapnya sembari menyebut kakinya pernah terkilir ketika melatih gerakan itu.
Namun demikian, Fahmi terus berlatih. Dan, itu tak perlu dilakukan di ruangan khusus. Melainkan di mana pun selama dia bisa melakukan.
“Saat mandi, ya dicoba gerakan mengambil air dari gayung. Kemudian saat bangun tidur, mulet-nya bukan kayak orang biasa. Ya dicoba sampai muter, batasnya sampai mana,” urainya.
Bagi Fahmi, tak ada batasan untuk mempelajari gerakan kontemporer. Semakin banyak melakukan praktik, semakin luas pula ide gerakan yang akan ditampilkan. Jika dulu saat tampil harus berlatih, kini dia hanya membayangkan konsepnya saja.
“Sekarang lihat temanya tentang apa. Terus dipikirkan nanti gerakannya seperti apa. Hanya itu saja, nanti langsung praktiknya waktu tampil,” terang pria berkaca mata ini.
Saat mahasiswa, dia sering tampil di berbagai acara kampus. Diminta menampilkan seni tari kontemporer. Setidaknya satu kali dalam seminggu.
Kini, jadwal tampil Fahmi tak sesering saat mahasiswa. Kendati demikian, ketika ada acara budaya di Kediri dia masih mendapat tawaran. Salah satunya yang diselenggarakan oleh komunitas Sanggar Seni Kreativitas Rakyat.
Fahmi merasa keterampilannya tak hanya sebatas untuk perform. Melainkan menjadi nilai lebih dirinya sebagai seorang pengajar. “Saya tutor bahasa Inggris, ngajar speaking,” paparnya.
Saat memberi materi, Fahmi menerangkan tentang cara presentasi yang baik. Dari situ, dia mengolaborasikan kemampuannya dalam bahasa Inggris dan seni teater yang dimilikinya. Misalnya dalam hal cara menguasai panggung.
“Ada materi tentang gesture juga. Bagaimana suatu gerakan dan ekspresi juga harus dilatih saat melakukan presentasi,” tandas lelaki yang bertekad terus menggeluti seni tari kontemporer ini.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah