“KAU ini adalah orang yang sakit. Terimalah bahwa dirimu adalah seorang pecand.,” Ucapan itu dikeluarkan Jesicha Yenny Susanty. Sasarannya tentu saja para pecandu narkoba yang menjadi pasiennya.
Wanita kelahiran 1971 ini memang bergelut dengan para pecandu. Terhitung, sudah 24 tahun lamanya dia berusaha mewaraskan kembali orang-orang yang terpengaruh obat-obatan terlarang. Melalui lembaganya, Institusi Penerima Wajib Lapor Eklesia Kediri Foundation (IPWL-EKF).
Selama puluhan tahun itu tentu saja sudah banyak kesulitan dan tantangan yang dia rasakan. Berat memang, tapi tak membuatnya meninggalkan aktivitas yang sudah dia pilih. Bahkan, kesulitan-kesulitan itu yang menjadikan dia memilih jalan ini. Mengembalikan kesadaran para pengguna.
Ada dua cara yang dia pegang teguh hingga saat ini. Khususnya ketika menghadapi para pecandu untuk pertama kali. Yang pertama berusaha memahami. Kemudian, dia tak boleh menghakimi.
“Biasanya mereka yang telanjur melakukannya didukung oleh tiga faktor,” Jesicha mencoba menerangkan saat ditemui di ruang kerjanya yang nyaman. Tiga faktor itu adalah sosial, lingkungan, dan individunya. Ketiganya harus diselesaikan secara simultan. Tak bisa sepotong-potong.
Puluhan tahun bergelut di bidang ini menjadikan Jesicha memiliki banyak pengalaman. Kebanyakan membuatnya mengelus dada. Contohnya ketika dia menangani resident-sebutan untuk pasien yang dirawat di IPWL-yang masih bocah.
“Saya pernah menangani balita, berusia tiga tahun,” kenangnya.
Dia heran bagaimana bisa seorang balita bisa terpapar seperti itu. Hingga harus dilarikan ke rumah rehabilitasi. Si balita positif mengonsumsi sabu-sabu.
“Yang belum terungkap sampai saat ini adalah bagaimana kronologi balita itu sampai bisa mengonsumsi narkotika,” ujarnya dengan nada heran.
Jesicha juga memiliki pengalaman yang membahayakan keselamatannya. Belum terlalu lama, terjadi pada 2021 silam. Saat itu dia menemui resident yang baru melalui screening awal.
Semula semua baik-baik saja. Namun di tengah interaksi, terjadi sesuatu di luar dugaan. “Resident itu tiba-tiba kabur. Dia berlari menuju ruang makan,” paparnya.
Resident itu terlihat gelisah. Sorot matanya tajam namun panik. Dia langsung mengambil pisau yang dilihatnya di ruang makan. Tangannya bergetar ketika memegang pisau.
“Tujuannya ingin mengakhiri hidupnya. Namun merasa saya halangi jadi bertindak seperti itu. Dan saya pun dikejar dengan todongan pisau,” cerita ibu satu anak ini.
Saat itu Jesicha berani mengendalikan sang resident. Dengan tegas meskipun sedikit waswas, Jesicha memegang kedua tangan resident itu. Meski kedua tangan Jesicha ikut terluka. Beberapa sayatan terjadi di kedua tangan wanita yang juga konsultan hukum tersebut.
“Tidak apa-apa, tim saya pun langsung ikut andil menenangkan resident tersebut. Itu sudah menjadi tugas saya,” ujarnya tersenyum, sembari membenarkan posisi kacamata.
Para resident yang melakukan tindakan seperti itu, sebenarnya sedang tidak sadar. Menganggap apa dan siapa yang ada di sekitar adalah musuh. Jesicha juga berkata, bahwa mereka ini sangat sulit disadarkan. Karena selalu menganggap diri mereka baik-baik saja dan sehat. Padahal tidak demikian. Hal itu yang menjadi tantangan utama Jesicha dalam berperan.
Jesicha mengungkap, ada jenis resident yang paling sulit ditangani. Yaitu mengonsumsi narkotika yang dipadu dengan pil dobel L. “Paling parah yang mengonsumsi sabu-sabu dipadu dengan pil dobel L. Dan juga K3 atau tembakau gorilla yang dikonsumsi dengan pil dobel L juga,” ungkapnya.
Residen yang telah mengonsumsi dua racikan itu, lebih sulit lagi ditangani. Meski begitu, Jesicha tidak akan pernah berhenti untuk mengembalikan mereka pada kewarasan.
Besarnya tantangan itulah yang membuat Jesicha senang ketika perannya berhasil. Ada duka, juga ada suka. “Sukanya adalah ketika melihat seorang resident yang sudah pulih dan kembali ke keluarganya,” ucapnya.
Keberhasilan perannya ketika melihat sosok yang sempat hilang sekian waktu, dapat kembali dalam dekapan keluarga. Dan dalam versi yang berbeda. Bukan lagi sebagai seorang pecandu yang terlihat kacau.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah