Monic sangat bangga menjadi warga Kediri. Terlebih, dengan kesenian di dalamnya. Dia jatuh cinta dengan kesenian Tiban. Sebuah seni yang jarang digemari oleh kaum hawa.
Monica Widya Amalia berhasil membawakan kesenian Tiban hingga ke Malaysia. Persiapannya singkat. Penuh perjuangan. Namun, itu semua tak menghalanginya. Wanita 25 tahun ini mampu tampil memukau di acara Melaka Art and Perfomance (MAP) Festival 2023.
Wanita yang akrab disapa Monic ini mengaku nyaman tinggal di Kediri. Dia sempat merantau enam tahun ke Tangerang dan Jakarta. Tetapi, hati kecilnya tetap ingin kembali ke Kediri. Dalam benaknya, ada cita-cita memajukan tempat kelahirannya.
“Saya lahir di Kediri, apa sih yang bisa saya lakukan di Kediri?” pikir wanita lulusan SMK 3 Kota Kediri ini.
Kesempatan menampilkan tari Tiban menjadi pengalaman tak terlupakan. Banyak perjuangan yang harus dilakukan. Terlebih, dia begitu mengenal kesenian ini. “Ini baru pertama kali dan tampilnya langsung di Malaysia, bukan Indonesia,” ungkapnya saat ditemui di salah satu cafe yang ada di Kabupaten Kediri.
Tak hanya itu, kesenian ini biasa dilakukan oleh kaum adam. Oleh karenanya, hati kecilnya sempat ada pro dan kontra. Apakah boleh tari tersebut dilakukan olehnya dan Hoedia Damar Ganing, rekan menarinya yang juga perempuan. Tetapi, setelah berkonsultasi dengan sesepuh Tiban, mereka mendapatkan izin tersebut. “Saya latihannya dua hari, jadi benar-benar digembleng,” ujarnya.
Mempelajari seni ini bagi Monic adalah susah-susah gampang. Baginya, dia tak perlu melakukan gerakan yang membutuhkan keluwesan. Namun, dia harus rela mendapatkan banyak luka akibat kena pecutan.
“Pokoknya sampai berdarah-darah perjuangannya,” jelas wanita yang saat itu memiliki rambut panjang.
Tetapi, dia tak mau menyerah. Kesempatan untuk tampil dalam acara yang disaksikan seniman luar negeri tidak boleh dilewatkannya. Ini pun sebagai bentuk kecintaannya terhadap Kediri.
“Waktu tampil itu rasa sakitnya hilang. Mungkin karena saking senang dan bangganya,” kenangnya.
Ternyata, menjadi penari adalah salah satu cita-citanya semasa kecil. Sejak dia duduk di bangku dasar, dia suka belajar menari di sekolah. Meski sempat vakum selama sekolah, benaknya ingin menjadi penari tetap ada. “Saya suka nari, tapi nggak bisa yang harus lemah gemulai,” akunya.
Selain itu, dia sangat menyukai modelling, kecantikan, dan bekerja di bidang sosial. Saat memutuskan kembali ke Kediri saat pandemi Covid-19, dia bekerja di salah satu klinik kecantikan. Sekaligus menjadi guru di salah satu SMK yang ada di Mojo.
“Saya aktif ikut volunteer juga di acara-acara yang ada di Kediri,” ucapnya.
Kini, dia sedang menikmati pekerjaan barunya di komunitas MSI Management. Sebuah komunitas yang mewadahi anak muda untuk menyalurkan keterampilannya. Di samping itu, juga mengangkat isu-isu sosial yang terjadi di Kediri.
“Saya juga memberikan edukasi kepada influencer yang ada di Kediri, bagaimana sih caranya menjadi influencer yang baik,” jelas wanita yang juga merupakan influencer ini.
Monic mengaku masih banyak hal yang akan dilakukannya bersama komunitas. Terdekat adalah membuat film dokumenter. Terakhir, dia ingin menyampaikan uneg-unegnya atas sebutan anak Kota dan Kabupaten Kediri. “Kediri ya Kediri. Setiap saya kemana pun, saya bilangnya ya Kediri,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah