Komunitas cosplay masih dianggap ‘aneh’ oleh sebagian masyarakat. Berdiri sejak empat bulan lalu, Nakama Pare Cosplay (NPC) berusaha menghapus image negatif itu lewat beberapa kegiatan.
“Ya di sini ini tempat kami kumpul,” kata Sugiyanto, ketua NPC saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Kediri di salah satu kafe di Kecamatan Pare, Selasa (17/10) malam.
Setiap sebulan sekali, anggota NPC sepakat untuk berkumpul di kafe yang memang jadi jujukan anak-anak muda itu. Berdiri sejak 30 Juli, sebanyak 98 anggota komunitas cosplay itu memang sedang giat-giatnya untuk berkumpul.
Setiap kali ada pemberitahuan untuk kumpul bareng, mereka selalu semangat untuk hadir. Salah satu topik yang sering jadi bahasan adalah bagaimana cara ‘membumikan’ cosplay di Kediri. “Banyak yang punya hobi cosplay tapi masih ragu untuk datang ke event,” lanjut pemuda yang akrab disapa Iyan itu.
Baca Juga: Jaga Ekosistem Mata Air, Pengelola Sumber Jembangan di Wates Kediri Lakukan Reboisasi
Jika saat ini ada 98 orang yang menjadi anggota NPC, Iyan meyakini pecinta cosplay jumlahnya lebih banyak dari itu. Hanya saja, mereka tidak berani menunjukkan kegemarannya. Sebab, cosplay masih dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Hobi memakai kostum dan berdandan seperti karakter fiksi dari anime, manga, hingga karakter di video game itu masih dianggap tak lazim.
NPC juga didirikan untuk menghapus anggapan itu. Dia bersyukur meski baru berusia empat bulan pada akhir Oktober ini, ternyata banyak yang antusias bergabung. Ke depan NPC akan terus membuka diri untuk para penggemar cosplay. “Anggota kami tidak hanya dari Kecamatan Pare. Ada yang dari Jombang dan Tulungagung juga,” paparnya.
Untuk menarik banyak anggota, mereka mengisi kegiatan berkumpul dengan hal-hal positif. “Misalnya sharing terkait make up, kostum, dan lainnya terkait cosplay,” terangnya.
Jika awalnya hanya bermaksud bertukar ilmu, belakangan kebiasaan sharing itu justru menghasilkan cuan. Anggota bisa menawarkan jasa make up untuk cosplay. Ada pula yang menawarkan jasa penata rambut khusus untuk beberapa tokoh kartun.
Baca Juga: Inilah Kisah Para Relawan Pengawal Ambulans di Kediri di Tengah Pro dan Kontra
Berbeda dengan kapster biasa, penata rambut cosplay memerlukan keahlian khusus. Perlu teknik khusus agar model rambut bisa persis dengan kartun yang ditiru. “Seperti Naruto rambutnya kan berdiri. Itu ada tekniknya sendiri. Semakin sulit gayanya semakin mahal jasanya,” jelasnya tentang potensi cuan yang didapat anggotanya.
Tak sekadar sharing tentang kostum dan make up, belakangan Iyan dan teman-temannya juga fokus memotivasi anggota agar bisa tampil maksimal di event Jejepangan. Mulai mengikuti lomba menyanyi, peragaan kostum, hingga peragaan adegan di game atau anime. “Jadi semua anggota bisa sharing kalau mau ikut lomba. Lalu, waktu ikut event juga ada temannya, nggak sendirian,” kenangnya.
Iyan berusaha memperlakukan anggota komunitas layaknya saudara. Jika ada yang menghadapi masalah, akan didampingi dan dipecahkan bersama.
“Misal ada problem yang dirasakan komunitas, akan dipecahkan bersama,” tandasnya.
Apa target NPC ke depan? selain menghapus stigma dan mempererat persaudaraan di internal anggota, mereka berencana membuat event Jejepangan di Pare. “Targetnya tahun depan,” jelas Iyan sembari menyebut mereka juga akan menggelar beberapa kegiatan bakti sosial dan olahraga bersama komunitas.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah