Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Kisah Para Relawan Pengawal Ambulans di Kediri di Tengah Pro dan Kontra

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 18 Oktober 2023 | 17:29 WIB

 

Photo
Photo

Mereka
berusaha memperlancar laju ambulans ketika membawa pasien. Berada di depan untuk mencari jalan. Namun, aktivitas para relawan ini diwarnai kontroversi terkait aturan boleh dan tidaknya kegiatan itu.

Baju yang mereka kenakan langsung terlihat meskipun dari jarak jauh. Warnanya merah menyala.Warna yang ngejreng itu sengaja dipilih. Agar terlihat oleh pengendara meskipun dari jarak yang relatif jauh.

Kelompok ini memang perlu berpakaian seperti itu. Karena mereka adalah relawan pengawal ambulans. Berusaha membuka jalan bagi ambulans. Karena itu seragam pun harus yang ngejreng dan terlihat dari jauh.

Saat itu mereka berada di halaman RS Simpang Lima Gumul (SLG). Tak hanya berbaju komunitas dengan warna ngejreng itu. Juga melengkapi dengan helm dan sepatu. Agar lebih safety. Karena hendak mendampingi ambulans yang merujuk pasien ke fasilitas kesehatan (faskes) lain. Tinggal menunggu keluarga pasien yang menyelesaikann persoalan administrasi.

Keberadaan relawan ini  memang diwarnai kontroversi. Ini terkait urgent atau tidaknya ambulans dikawal oleh warga sipil. Namun, bagi anggota kelompok ini tujuan mereka hanya ingin agar ambulans lancar saat mengantar atau menjemput pasien.

“Supaya risiko pasien juga berkurang,” dalih Agung Dwi Ariyanto. Pemuda ini adalah ketua Indonesian Escorting Ambulance (IEA) Kediri. Komunitas relawan pengawal ambulans.

Aksi mereka sudah berlangsung jauh sebelum IEA dibentuk di Kediri. Terutama ketika melihat ambulans yang kesulitan melintas karena padatnya jalan. Tiba-tiba saja  hati mereka tergerak.

“Awalnya lihat Youtube. Tahu ada yang mengawal. Kasihan kalau melihat ambulas bawa pasien yang kesulitan saat di jalan,” aku Hanafi Anugrah, salah satu inisiator IEA di Kediri.

Pria yang juga koordinator IEA Jatim itu terbesit niatan agar apa yang dilakukan itu diwadahi. Tidak asal lakukan pengawalan. Singkat kisah, enam orang relawan yang menginisiasi terbentuknya komunitas ini di Kediri. Kemudian 2018 mereka mendirikan cabang Kediri Raya bagi komunitas yang berpusat di Jakarta ini.

Mereka tak hanya menunggu di satu tempat. Tapi mencari-cari ambulans yang butuh pengawalan. “Kadang tidak niat (lakukan pendampingan), saat ada yang lewat, otomatis tergerak,” aku Agung, 30.

Lama-lama kegiatan mereka mendapat atensi besar. Terutama saat pandemi, ketika ambulans banyak yang lalu lalang di jalanan. Akhirnya, mereka jadi banyak panggilan.

“Sekarang sudah ada grup (Whatsapp) juga. Jadi banyak permintaan,” aku Agung yang diiyakan Hanafi dan beberapa anggota lain.

Anggota mereka pun kian bertambah. Dari hanya enam kini 36 anggota aktif. Berasal dari berbagai kalangan. Mulai tenaga kesehatan, fotografer, tim Wedding Organizer, dan lain sebagainya.

Banyak yang berminat bergabung karena memang persayaratannya pun gampang. Punya rasa sosial yang tinggi. Dan sukarela bila ada panggilan. Kegiatannya pun tidak memaksa, bila tidak bisa lakukan pendampingan, maka tidak diwajibkan.

“Siapa yang senggang ya berangkat. Yang penting absen, biar terpantau,” jelas Hanafi.

Untuk sepeda motor yang digunakan pun tidak ada ketentuan khusus. Cukup sesuai sepeda motor yang sesuai spesifikasi standar. Itupun tidak diwajibkan menggunakan strobo. Bila menggunakan strobo dianjurkan untuk gunakan yang berwarna merah, tidak biru.

Agar tidak mengganggu pengendara lainnya, mereka juga menekankan pada anggotanya untuk tetap menghargai pengendara lainnya. Tidak semena-mena ketika di jalanan.

“Ketika jalanan landai kami oper ke belakang. Karena prioritas tetap ambulans. Diinfokan ke seluruh anggota dilarang untuk arogan,” jelas laki-laki 28 ini.

Sementara itu, bila sesuai ketentuan, menurut Sujadi selaku Kanit Turjagwali Satlantas Polres Kediri menyebut bahwa sebenarnya itu tidak diperbolehkan. Namun karena untuk menghormati, selain itu juga karena itu utuk keperluan sosial. Membantu ambulans, maka tidak serta merta bisa melarang.

“Jadi melalui Unit Kamsel dilakukan pendekatan. Lakukan pengimbauan. Kepada masyarakat juga agar ketika ada ambulans memberikan prioritas,” terangnya.

Dari kerapnya mengikuti kegiatan sosial itu. Menambah jaringan mereka pula. Yang awalnya belum bekerja, menjadi mendapat tawaran pekerjaan.

“Ada yang dikontrak di Yayasan, ada yang dikontrak RS, untuk jadi sopir ambulans,” terang Hanafi. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#ambulans #relawan #pasien #pengawal