Bagi Fajar Susanto, seni bukan sekadar keindahan yang hanya bisa dinikmati. Melainkan, bisa jadi sarana untuk melakukan kebaikan. Seperti tekadnya melestarikan lingkungan lewat perform art.
Berpindah ke Kediri sejak 2018 silam, nama Fajar Susanto seolah tenggelam. Orang-orang di Bumi Panjalu lebih mengenalnya sebagai FJ Kunting. Nama panggilan yang didapat sejak duduk di bangku SMP itu populer kembali. “Kunting itu bahasa kedokterannya sekarang ya stunting (kurus dan kecil, Red),” kelakar Fajar tentang nama panggilannya. Adapun FJ adalah inisial dari nama aslinya.
Ditemui di rumahnya di Dusun Susuhan, Desa/Kecamatan Gampengrejo, Kunting sedang bersantai. Memakai sarung, pria berambut panjang itu membeberkan kiprahnya sebelum kemudian memutuskan berlabuh ke Kediri.
Pun, pilihannya bersama sang istri untuk concern pada isu lingkungan. Dia menjadikan Ringin Gendong, salah satu karyanya, sebagai alat untuk menjaga kelestarian alat.
Baca Juga: Airnya Jernih, Sumber Dlopo di Ngasem Kediri Jadi Irigasi dan Tempat Wisata
Kunting mengekspresikannya dalam bentuk performance art. Yakni, perpaduan antara seni rupa dan teater. “Kami mengkampanyekan untuk menanam dua pohon saat kelahiran seorang bayi,” tutur sulung dari empat bersaudara itu tentang arti karya Ringin Gendong.
Karya tak biasa itu dibuat sejak 2018 silam. Karyanya memang tak dibatasi oleh waktu. Karena itu pula, dia terus membawa Ringin Gendong di setiap pentasnya.
Jika setiap ada kelahiran bayi dibudayakan menanam dua pohon beringin atau dua pohon lainnya, Kunting meyakini alam akan tetap hijau dan lestari. Kelak, sang bayi juga akan tumbuh dan berkembang bersama. “Bisa jadi estafet untuk penghijauan,” paparnya.
Jika di Jogjakarta nama dan kiprahnya sudah dikenal luas, tidak demikian di Kabupaten Kediri. Tak heran, kali pertama bermukim di Kediri dia sempat “meresahkan” tetangganya.
Kunting yang sering berada di rumah dianggap pengangguran. Karenanya, beberapa tetangga mulai menawari pekerjaan. “Ada yang mengajak ke sawah. Akhirnya saya belajar bertani juga,” kenangnya.
Baca Juga: Ini Pesan Desainer Didiet Maulana kepada Pedesainer Muda di Kediri
Langkah itu diambil sebagai upaya beradaptasi dengan lingkungan. Hikmah positifnya, dia bisa belajar bercocok tanam. Termasuk belajar menanam padi. Dari sana Kunting bisa menyelami kesulitan para petani. “Saya juga merasakan sulitnya mencari pupuk,” tutur Kunting tentang aktivitasnya bertani selama sekitar dua tahun itu.
Seperti pembelajaran pada hal-hal baru lainnya, Kunting berusaha menikmatinya. Hasilnya, Kunting berhasil memproduksi beras sendiri. Beras merek Susuhan Art Farm itu dipasarkan lewat media sosial.
“Teman-teman di Jogja banyak yang ingin beli. Ingin merasakan beras dari hasil bertani saya,” urai pria yang memiliki banyak penggemar di Jogja ini.
Lima tahun menetap di Kediri, kini Kunting dan istrinya masih sering bolak-balik Kediri – Jogjakarta. Ini tak lepas dari rasa nyaman Kunting untuk menciptakan karya seni di Kota Gudeg itu. “Bukannya tidak suka di sini. Saat membuat karya, aku butuh fokus tetapi ada saja tetangga yang manggil minta bantuan,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah