Sumber Lanang dulu pernah menjadi favorit para pemancing. Terutama sebelum tahun 2010-an. Sayang, setelah banyaknya pohon yang ditebang, sumber tersebut kian surut. Bahkan, setiap musim kemarau, sumber tersebut selalu mengering.
“Sayang banyak pohon yang ditebang. Jadi kini airnya terus berkurang,” terang Suhadi, 43, menjelaskan tentang kondisi Sumber Lanang yang berada di Desa Tertek, Kecamatan Pare ini.
Suhadi menerangkan, kondisi Sumber Lanang dulunya tak seperti saat ini. Dulunya, sumber ini terlihat asri dan terawat. Sepanjang tahun, sumber tersebut mengeluarkan air yang berlimpah. Sampai dapat dijadikan tempat pemancingan.
Kolam pemancingan itu yang akhirnya membuat warga sering berkunjung. Terlebih, saat akhir pekan. Suhadi menyebut jika ada puluhan hingga ratusan pengunjung yang datang. “Dulu seperti tempat wisata. Karena ada kafenya juga di sekitar sumber,” ucapnya.
Sayangnya itu dulu. Karena kini, Sumber Lanang telah ditinggal oleh para pengunjung. Salah satu alasannya adalah karena hilangnya wahana kolam pemancingan di sumber.
Lalu kenapa kolam pemancingan itu hilang? Mendapat pertanyaan itu, Suhadi menyebut jika air di sumber semakin menyurut. Alhasil, kolam tak pernah terisi air. Mau tak mau, kolam tak lagi bisa lagi digunakan untuk memancing.
Usut punya usut, ada alasan mengapa sumber tersebut semakin surut. Salah satunya adalah karena hilangnya pohon besar di sekitar sumber. Alasannya beraneka ragam. Ada yang sengaja ditebang dan roboh secara alami.
Ternyata hilangnya pohon itu berdampak langsung pada sumber. Kini airnya semakin surut. Bahkan di musim kemau panjang, airnya nyaris tak keluar. Kalau ke luar, debitnya sangat kecil. Tak mampu digunakan untuk mengisi satu kolam pun.
“Eman sekali. Padahal dulu jadi tempat rujukan untuk mancing orang-orang Pare,” sesalnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah