Fasilitas rekreasi yang beragam jadi daya tarik sumber ini. Tak hanya mata airnya saja yang ditawarkan. Juga beragam fasilitas penunjang dari hasil inovasi pengelolanya. Menjadikan mata air ini punya daya tarik lebih.
Tak hanya kesadaran akan konservasi mata airnya saja yang dijunjung. Pengelola sumber ini juga punya pemahaman akan pengelolaan wisata yang tak bisa diragukan. Hanya dalam beberapa bulan saja, pengembangan sumber Sugih Waras di Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih sebagai obyek wisata terbilang pesat.
Tiga kolam buatan dibangun sebagai opsi bagi wisatawan. Tak heran, mata air ini tak pernah sepi pengunjung. Di akhir pekan, misalnya, pengunjung bisa mencapai ratusan. “Bisa sekitar 500 pengunjung kalau lagi ramai. Hari biasa paling sekitar 40an pengunjung,” ujar Andik Winarno, salah satu petugas pengelola Sumber Sugih Waras.
Tiket masuk saat akhir pekan dijual seharga Rp 7 ribu untuk orang dewasa. Dengan hitungan tersebut, omzetnya dalam sehari bisa menyentuh angka Rp 3,5 juta. Setidaknya itu cukup untuk menggaji delapan orang pekerja yang tiap hari memantau kebersihan dan mengelola operasional wisata.
Sejak mulai dikembangkan pada 2013 lalu, pengelola terus memberikan inovasi untuk menarik minat wisatawan. Hingga tempat wisata ini pernah memenangkan perlombaan inovasi wisata yang digelar Pemerintah Kabupaten Kediri. Suntikan dana dari pemkab ini yang membuat pengelola mudah mengembangkan Sumber Sugih Waras.
“Ini kita mau tambah wahana sepeda layang. Sekarang masih proses pembangunan,” imbuh Andik.
Adanya panggung seni juga jadi nilai plus. Banyak pengunjung dari komunitas, instansi pemerintah, hingga lembaga pendidikan yang menggelar kegiatan di sana. Berada tepat di depan camping ground, pengunjung jadi punya opsi lebih saat berlibur ramai-ramai di sana.
Meski terus dilakukan pembangunan, namun tak menjadikan pengelola abai dengan kewajiban menjaga kelestarian lingkungan. Selain pohon-pohon besar yang sudah ada bertahun-tahun lamanya, pengelola juga melakukan konservasi di sana.
“Ini pohon-pohon yang masih belum terlalu besar memang baru ditanam. Biar airnya tetap ada,” kata Andik merujuk pada sejumlah pohon beringin dan trembesi yang masih setinggi tiga meter.
Konservasi itu juga untuk mengimbangi beban mata air yang cukup besar. Sebab, selain tetap mengairi persawahan di hilirnya, mata air ini juga harus menopang tiga kolam buatan di sana. Yang kebutuhan airnya sepenuhnya diambil dari mata air yang berada di belakang kantor Balai Desa Dukuh itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah