Dalam kurun waktu beberapa bulan saja, sudah banyak perubahan signifikan dari mata air ini. Semakin banyak fasilitas penunjang yang jadi nilai atraksi dari sumber air andalan warga Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih itu.
Nama sumber Sugih Waras sudah tak asing lagi di telinga warga Kecamatan Ngadiluwih dan sekitarnya. Mata air ini terkenal punya fasilitas yang lengkap. Aspek alami sumber ini sama-sama ditopang dengan pengembangan wisata yang pesat.
Tak banyak yang tahu bahwa mata air yang berada di belakang Balai Desa Dukuh ini dulunya nyaris hilang. Itu dikarenakan longsor yang menimbun titik pusat sumber. Kekhawatiran terhadap nasib sumber air itu yang mendorong segelintir masyarakat untuk memulai upaya konservasi. Tentunya, secara swadaya.
“Dulu karena sumbernya longsor itu, akhirnya bareng-bareng dibenahi,” ujar Andik Winarno, salah satu pekerja di sumber Sugih Waras.
Andik yang juga salah satu dari sekian penggagas konservasi sumber ini mengakui, momen ‘rusaknya’ sumber jadi titik balik kesadaran masyarakat. Jika awalnya tak ada perawatan khusus di mata air, kini masyarakat tergugah untuk melalukan upaya konservasi.
“Itu yang akhirnya bikin masyarakat gerak untuk membentuk paguyuban. Dulu ada 48 orang,” tuturnya.
Perjuangan warga itu pun diakui Andik tak mudah. Sebab, belum ada dana khusus untuk pengembangan mata air. Alhasil, keterlibatan masyarakat seluruhnya dilakukan dengan sukarela.
“Dulu tiap malam kerjanya. Karena kalau siang semua kerja sendiri-sendiri. Buat beli semen juga minta iuran dari warga,” terang Andik menceritakan perjuangan warga menyelamatkan mata air pada 2012 silam.
Kini, mata air ini sudah jauh lebih berkembang. Banyak atraksi-atraksi wisata yang menambah daya tariknya. Tak hanya mata airnya saja yang bisa jadi tempat berenang wisatawan. Melainkan terdapat tiga kolam buatan di sana. Yakni, satu kolam dewasa dan dua kolam anak-anak.
Fasilitasnya pun terbilang lengkap. Selain kamar mandi dan musala, terdapat panggung, kafe, serta ruang serba guna. “Itu bisa dipakai tidur untuk yang kemah di sini. Mau mendirikan tenda juga bisa karena areanya luas,” urainya.
Itu belum termasuk fasilitas outbond. Terdapat wahana flying fox di antara pohon-pohon besar. Uniknya lagi, pengelola juga memanfaatkan kontur tanah yang menurun sebagai sarana wisata ‘menantang’ bagi anak-anak. Di salah satu sisi tebing yang berada di atas sumber air, pengelola memasang tali untuk dijadikan panjat tebing sederhana bagi pengunjung anak-anak.
“Biasanya itu untuk anak-anak TK yang suka tantangan. Jadi bisa manjat di situ pakai tali,” pungkas Andik.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah