Dulu, mereka merasakan air yang melimpah-ruah. Yang cukup memutar keran untuk mendapatkan. Kini, harus susah payah mengangkutnya dari tandon air.
AYU ISMAWATI, Kota, JP Radar Kediri
Jumiati duduk di kursi kayu di teras rumah. Perempuan paro baya warga RT 5 RW 2 Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren itu mengamati petugas dari dinas lingkungan hidup, kebersihan, dan pertamanan (DLHKP). Yang mengisi ulang tandon air di halaman rumahnya.
Sudah delapan hari ini dia dan belasan warga lain, mendapat bantuan air bersih. Setelah sumur-sumur warga tiba-tiba mengeluarkan bau menyengat. Mirip bau bahan bakar minyak.
Bagi Jumiati, bantuan air itu bukan solusi yang menyenangkan. Bila boleh memilih, dia ingin air dari sumurnya kembali normal. Agar tidak mengangkuti air dari tandon yang ada di halaman. Ini tak lepas dari keterbatasannya secara fisik.
“Bawanya juga harus sedikit-sedikit. Pakai ember kecil. Nggak bisa kalau bawa berat,” aku wanita 59 tahun ini.
Di usia senjanya itu Jumiati memang tak bisa lagi berjalan normal. Dia harus ditopang tongkat. Kaki dan punggungnya tak sekuad dulu. Karena itulah mengambil air dari tandon jadi perjuangan yang berat.
“Kalau lagi mampu ya saya isi bak air sedikit-sedikit. Kalau enggak ya sudah, tetap mandi pakai air dari keran (meski tercemar),” keluhnya.
Wanita ini juga tak bisa minta tolong anggota keluarga yang lain. Suaminya sudah lama meninggal dunia. Sedangkan dua anaknya tinggal di rumah yang berbeda. Meskipun kerap mengunjungi. Kini pensiunan karyawan pabrik rokok ini harus berurusan dengan masalah air tercemar seorang diri.
“Kalau yang di galon-galon itu minta tolong siapa saja yang bisa ngangkatkan. Untuk masak dan minum,” akunya.
Karena keterbatasan fisik itu, ia tak bisa sepenuhnya mandi dan mencuci baju dengan air tandon. Keluhan gatal-gatal pun beberapa kali ia rasakan. Jumiati hanya bisa pasrah.
Rozan Purnama Devi, warga lain, juga gundah dengan kondisi sumur yang tercemar. Anak semata wayangnya yang berusia setahun pernah ruam-ruam di kulitnya saat dimandikan dengan air sumur.
Belum lagi persoalan air minum. Pernah dua hari warga tak mendapat bantuan air mineral dalam galon. Dia terpaksa menyetok air mineral botol khusus untuk putranya. Ia tidak ingin air tercemar yang tak jelas juntrungannya itu justru membawa penyakit.
“Saya tuh gampang takut. Wong ini anak satu-satunya. Makanya kemarin waktu muncul mrintis-mrintis (ruam, Red) itu saya langsung panik. Saya kasih bedak gatal khusus bayi. Alhamdulillah sudah agak mendingan,” ujarnya.
Ditemui berkali-kali, permintaan warga masih tetap sama. Tak ada materi yang diminta, hanya kejelasan terkait nasib mereka. Air yang sejatinya merupakan komoditas vital bagi warga itu diminta agar bisa normal kembali. Alih-alih, berbau menyerupai minyak yang bahkan ikan kecil pun tak mampu hidup di dalamnya.
“Semoga cepat selesai ini masalahnya. Airnya bisa kembali seperti semula,” pungkas Devi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah