Bagi Farid Muhammad, Pantomim bukan sekadar pertunjukan drama tanpa kata-kata. Memakai riasan tebal dan menjadi karakter yang berbeda, alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri ini berusaha menjadikannya sebagai wahana untuk menyampaikan pesan sosial. Termasuk kepeduliannya pada kaum difabel.
Pantomim sudah akrab dengan Farid Muhammad sejak dia duduk di bangku SMP. Perkenalannya dengan seni tanpa kata-kata alias mengandalkan ekspresi dan gerak tubuh itu karena memang menyukai seni peran. “Memang sejak awal suka. Saya merasa dari situ (pantomim, Red) bisa belajar banyak hal. Misalnya belajar membangun emosi,” kata Farid menceritakan ihwal ketertarikannya pada pantomim.
Ditemui di salah satu kafe di Kelurahan Ngronggo, Farid begitu antusias. Pantomim seolah sudah menyatu dengan dirinya. Saat berpantomim, seolah-olah dia bisa bebas berekspresi. Karenanya, melakoni seni itu sekaligus jadi caranya untuk refreshing.
Meski menyukai pantomim sejak SMP, keakraban pria asal Desa Pranggang, Plosoklaten itu dengan seni ini sempat terhenti saat masuk bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sebab, di sekolahnya yang baru tidak ada ekstra drama.
Baca Juga: Air dari Sumber Gotheh di Kras Kabupaten Kediri Dipercaya Memiliki Keistimewaan
Kecintaannya pada pantomim kembali terpupuk saat dia masuk kuliah tahun 2015 silam. Kebetulan di IAIN Kediri memang ada unit kegiatan mahasiswa (UKM) teater. “Sebenarnya bisa belajar teater tetapi akhirnya batal gabung,” lanjutnya.
Alumnus jurusan psikologi Islam itu tak leluasa beraktivitas di luar kampus karena harus fokus mondok. Karenanya, kegiatan lain hanya bisa dilakoni terbatas. Hal itu pula yang membuatnya urung bergabung dengan UKM teater.
Terinspirasi penampilan Septian Dwi Cahyo di televisi. Pria kelahiran tahun 1996 silam itu lantas semakin ingin mengembangkan bakatnya sebagai pantomimer. Dia pun mencari komunitas pantomim di Kota Kediri. “Sebenarnya dulu ada, tapi saat saya cari ternyata vakum. Jadi rasanya ingin menghidupkannya lagi,” kenangnya.
Pencariannya berujung setelah dia bertemu dengan kelompok pantomim Jombang. Yakni Sekolah Pantomim Nusantara. Isinya adalah seniman pantomim dan orang-orang yang ingin belajar pantomim. Di sana kemampuannya semakin terasah. “Semangat muncul lagi. Jika awalnya ikut drama, kosong, terus ada lagi. Jadi kayak muncul semangat kembali. Terpantik lagi,” papar penggemar pantomimer Marcel Marceau yang aksinya memukau saat menghibur anak-anak korban perang.
Baca Juga: Gigih Tularkan Virus Cinta Budaya, Perkenalkan! Inilah Komunitas Perempuan Bersanggul di Kediri
Keteguhannya untuk belajar serius membuat Farid mampu tampil memukau saat memainkan pantomim. Belakangan, semakin banyak orang yang mengundangnya. Salah satu ciri khasnya adalah pesan-pesan atau kritik sosial yang selalu diselipkan. Bukan sekadar komedi atau hiburan.
Belakangan, pria berambut gondrong ini sering mendapat undangan pentas di sekitar wilayah eks Karesidenan Kediri hingga ke Bandung, Jawa Barat. “Kalau sampai sekarang sudah pentas lebih dari 100 kali sepertinya,” tutur pria yang juga diminta menjadi guru pantomim di Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).
Terkait ciri khasnya yang selalu menyelipkan kritik sosial dalam penampilannya itu, Farid mengaku tidak asal membawakan. Dia selalu menyesuaikan latar belakang penontonnya. “Kalau penontonnya anak-anak ya berarti harus lucu, tapi tetap harus ada pesan positifnya,” jelas Farid.
Misalnya, jika dia memperagakan aktivitas makan berarti harus mempraktikkan cuci tangan dulu, berdoa, baru kemudian makan. “Kalau penontonnya remaja atau dewasa, saya membawakan kritik atau isu-isu yang sedang kekinian,” urainya.
Melihat respons penonton yang selalu positif, Farid seolah ketagihan untuk berpantomim. Dia pun pentas di tempat-tempat yang tidak lazim. Misalnya, tiba-tiba saja ingin berpantomim di sawah, pantai, gunung, kolam pemancingan, dan tempat-tempat nyeleneh lainnya. “Pokoknya kalau tiba-tiba ingin pantomim ya harus langsung pantomim,” ungkapnya sambil tertawa.
Baca Juga: Sering Diejek, Siswa SMPN 8 Kota Kediri Ini Malah Kian Mantap Tekuni Pedalangan
Apapun bisa jadi panggung dadakan. Termasuk alat make-up yang juga bisa seadanya. “Pas di pantai adanya hanya bedak bayi. Ya itu aja untuk make-up,” tuturnya lagi-lagi tertawa.
Spontanitasnya dalam berpantomim ini tak jarang membuat Farid dianggap aneh. Tetapi, dia tak acuh. Tidak jarang ada yang menganggapnya tidak waras. Namun tak sedikit pula yang mengapresiasi. “Saya tidak peduli. Justru itu bisa belajar untuk memperkuat mental,” tegasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah