Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sering Diejek, Siswa SMPN 8 Kota Kediri Ini Malah Kian Mantap Tekuni Pedalangan

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 23 Agustus 2023 | 16:58 WIB

IDOLA: Adham Hilmi Grandisson memainkan tokoh wayang Abimanyu (kiri) dan…. di sanggar SMPN 8 Kota Kediri (16/8).
IDOLA: Adham Hilmi Grandisson memainkan tokoh wayang Abimanyu (kiri) dan…. di sanggar SMPN 8 Kota Kediri (16/8).

Mendalang bagi Adham Hilmi Grandisson bukan sekadar memainkan wayang. Pemuda asal Desa Tugurejo, Ngasem itu juga belajar memaknai kisah para tokoh pewayangan. Ejekan dari teman-temannya, tak menyurutkan niat untuk terus mengasah kemampuan mendalangnya.

Jarum jam menunjukkan pukul 13.00, Rabu (16/8) lalu. Kompleks SMPN 8 di Jl Penanggungan, Kota Kediri sudah terlihat sepi. Maklum saja, ratusan siswa yang baru saja mengikuti rangkaian kegiatan Agustusan memang pulang lebih awal. Meski demikian, tidak dengan Adham Hilmi Grandisson.

Memakai kaus olahraga berwarna merah, pemuda yang akrab disapa Grandi itu asyik memainkan wayang di sanggar sekolah. Ditemani oleh Russidiq Wahid Harisna, guru penanggung jawab ekstra kurikuler pedalangan dan karawitan, dia beberapa kali unjuk gigi memeragakan teknik sabetan yang dikuasainya.

Di usia 14 tahun, Grandi memang piawai mendalang. Selain melakukan sabetan, dia bisa melafalkan narasi cerita wayang dengan apik. Intonasi dari beberapa karakter tokoh wayang juga dikuasai dengan baik. “Kata orang tua, saya sudah suka seni sejak umur tiga tahun,” kata pemuda yang Jumat (4/8) malam lalu tampil mendalang dalam acara Gelar Seni Budaya Pelajar Kediri (Genibudjari) Dinas Pendidikan Kota Kediri itu.

Baca Juga: Di Sumber Buntung Ringinrejo Kabupaten Kediri, Airnya Hanya Terisi saat Musim Penghujan Datang

Adalah wayang dari kertas karton pemberian orang tuanya yang membuat Grandi langsung jatuh cinta dengan seni asli Jawa itu. Di depan keluarga dan tetangga, pelajar kelahiran 2009 itu sering memainkannya. Sesekali dia juga menari jaranan dan tari tradisional lainnya.


Bakat tampil di depan umum itu tumbuh seiring waktu. Belakangan dia juga makin piawai memainkan tokoh-tokoh pewayangan. Tetangga Grandi yang melihat kelebihan siswa kelas IX itu lantas mengajaknya tampil di ‘panggung’ yang lebih layak.

“Dipanggil untuk mengisi acara nikahan, jadi dalang. Terkadang jadi MC (pembawa acara) juga,” terang pemuda asal Desa Tugurejo, Ngasem, Kabupaten Kediri itu.


Job kecil-kecilan itu dilakoni dengan penuh suka cita. Sepenuh hati. Belakangan, semakin banyak tanggapan yang masuk. Berbagai cerita sudah dibawakan di depan penonton.

Dari banyak lakon yang dimainkan, pemuda yang mendalang sejak umur lima tahun itu mengaku paling senang memainkan cerita Wahyu Cakraningrat.

Baca Juga: Mengenal Band Snapburn yang Baru Saja Merilis Single Damai

“Bercerita tentang tiga kesatria yang memperebutkan wahyu atau mukjizat yang namanya cakraningkrat,” tutur pemuda yang mulai mendapat job sejak usia 11 tahun itu.

Dia begitu mengidolakan tokoh Abimanyu di lakon tersebut. Ksatria yang berasal keluarga sederhana itu begitu memikatnya. Tekadnya yang kuat untuk mewujudkan keinginan, agaknya ingin dicontoh oleh Grandi.

Pun semangat Abimanyu dalam menahan godaan dan menaklukkan rintangan. “Jadi rispek (respek, Red) sama Abimanyu. Dia disuruh oleh ayahnya kalau ada kemauan harus mentas dari keringatmu sendiri. Jangan bergantung pada orang tua. Dan dia bisa melakukan itu semua,” papar pemuda yang juga hobi melawak dan menjadi master ceremony (MC) itu.

Meneladani Abimanyu, putra pasangan Adwanto dan Anik Purwaningsih ini tak gentar mendapat ejekan dari teman-teman tentang hobinya yang anti-mainstream tersebut. “Pernah waktu diajak main (nongkrong), saya bilang nggak bisa karena harus latihan. Saya malah diejek, halah latihan apa itu?” kenangnya.

Baca Juga: Sumber Gobang Letaknya di Perbatasan Kota dan Kabupaten Kediri, Sering Jadi Jujukan Petani

Bukannya sakit hati, pemuda yang juga menekuni fotografi dan videografi itu menjadikannya sebagai cambuk penyemangat. Ejekan dan kalimat-kalimat merendahkan itu tak mengurangi semangatnya dalam mempelajari seni tradisional.

Bungsu dari empat bersaudara itu justru mengaku prihatin dengan remaja seusianya yang aktivitasnya hanya main game dan nongkrong di kafe. Pemuda yang mengidolakan almarhum Ki Seno Nugroho itu memilih terus berlatih mendalang.

Kelak dia ingin menjadi dalang kenamaan. Menggantikan sederet nama dalang kondang sekarang. Seperti sang idola, Grandi akan menyelipkan candaan-candaan di setiap pentasnya. Sehingga, wayang tak hanya digemari oleh generasi tua. Melainkan anak-anak muda juga bisa mencintai kesenian tradisional itu. Yang penting PD (percaya diri) saja,” tutupnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#SMPN 8 #siswa #dalang #wayang