Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sumber Jedog di Kelurahan Ngletih Kota Kediri Tidak Lagi Dikunjungi Warga, Ini Gara-Garanya

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 16 Agustus 2023 | 17:03 WIB
SEPI: Salah seorang warga mengunjungi Sumber Jedog di Kelurahan Ngletih, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.
SEPI: Salah seorang warga mengunjungi Sumber Jedog di Kelurahan Ngletih, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

 

Sudah bertahun-tahun lamanya sejak mata air ini ‘ditinggalkan’ masyarakat. Mereka tak lagi melakukan aktivitas sehari-hari seperti mandi di sumber air. Rimbunan bambu dan semak belukar membuat warga sekitar takut dengan ancaman ular.

Sumber Jedog cukup terkenal bagi warga Kelurahan Ngletih, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Mata air ini telah bertahun-tahun menunjang kebutuhan air warga setempat. Khususnya warga Lingkungan Kleco, Kelurahan Jamsaren, yang –menurut warga sekitar—paling banyak memanfaatkan air dari Sumber Jedog.

Pada momentum tertentu, sejumlah warga Lingkungan Kleco akan turun ke sumber. Tujuannya untuk membersihkan mata air dan memastikan airnya tetap mengalir. Salah satunya pada saat bulan Sura.

“Karena aliran sumbernya kan jalurnya ke barat, ke arah Kleco. Jadi justru mereka yang biasanya membersihkan sumber,” ujar Hariyono, warga setempat.

Namun begitu, penampakan sumber ini justru seperti tak terurus untuk waktu yang lama. Banyak semak belukar dan rumpun bambu yang tersebar di sana. Menutup hampir seluruh akses menuju mata air. Sumber yang terletak di antara persawahan tebu itu bahkan kini sama sekali tak memiliki akses jalan yang layak.

“Dulu airnya dibendung sama warga. Jadi bisa dipakai mandi sama cuci-cuci. Sekarang sudah nggak ada yang ke sumber karena nggak ada aksesnya,” ucap Budi, warga setempat.

sBaca Juga: Inilah Sumber Jasem di Kelurahan Bawang, Mengalir Terus meski Debit Air Kecil

Untuk menuju ke sana memang harus dengan melintasi persawahan tebu. Belum lagi sungai selebar 2,5 meter yang harus diseberangi untuk menuju ke pusat mata air. Sebuah pohon yang rubuh jadi pijakan untuk menyeberangi sungai.

Tak ada akses khusus sama sekali di sana. Pengunjung harus pintar-pintar berjalan di antara semak belukar, ranting-ranting serta rumpun bambu. “Sebenarnya kalau siang-siang begini takut ularnya keluar,” keluh Budi.

Meski begitu, menurut Budi hingga kini mata air itu belum pernah mengering. Pohon kepuh berukuran besar yang ada di sana diyakini masih menyimpan potensi air yang besar. Itu terlihat dari air yang terus mengalir dari sela-sela tebing setinggi hampir tiga meter.

Untuk mencapai ke pusat mata air pun harus turun ke aliran sumber terlebih dahulu. Untuk turun saja pun sulit karena tebing yang terjal dan dipenuhi akar-akar pohon. Di sana, debit airnya kecil, namun terus mengalir.

“Mengalirnya terus sampai ke Lingkungan Kleco. Dipakai untuk apa saja bisa di sana,” imbuh Hariyono menegaskan sumber daya air dari sana yang melimpah dan paling banyak menguntungkan masyarakat yang berada di hilir.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#mata air #alam #sepi #sumber air