Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Sosok Mosses Valentino dan Gleen Christoper, Dua Bersaudara yang Sama-Sama Terjuni Basket

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 11 Agustus 2023 | 16:42 WIB

 

BERBAKAT: Mosses Valentino dan Gleen Christoper mewarisi keterampilan bermain basket dari sang ayah yang juga pebasket.
BERBAKAT: Mosses Valentino dan Gleen Christoper mewarisi keterampilan bermain basket dari sang ayah yang juga pebasket.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Demikian pula dengan Mosses Valentino dan Glenn Christopher. Kakak beradik ini piawai dalam bermain basket karena ayahnya adalah seorang pebasket.

Duk, duk, duk. Suara bola berbenturan dengan lantai lapangan terdengar keras dan berulang-ulang. Disertai bunyi berdecit yang diakibatkan gerakan sepatu dua orang yang tengah bermain basket. Yang sesaat kemudian berhenti. Beralih beradu argumentasi. Tentang salah satu gerakan yang mereka lakukan itu apakah foul, pelanggaran, atau bukan.

Dua anak itu bersuara keras. Atau setidaknya, terdengar keras. Maklum, di lapangan yang berlokasi di Desa Nambaan, Kecamatan Ngasem itu hanya ada mereka yang berlatih.

Kedua anak itu adalah Mosses Valentino. Usianya 14 tahun. Dia adalah kakak dari lawannya berlatih, Glenn Christopher. Yang usianya berselisih dua tahun. Dua saudara kandung itu sama-sama merupakan atlet bola basket.

Sore itu (12/7), mereka berdua sedang bermain one on one,  satu lawan satu. Mosses giliran defense, penjaga ring basket. Dan Glenn attacking. Berusaha menyarangkan bola ke ring.

Pemandangan seperti itu hampir terjadi setiap hari. Yaitu mulai pukul 16.00 hingga menjelang maghrib. Meski bermain satu lawan satu, keduanya tidak pernah sendirian. Ada sang ayah, Rudy Susanto, yang selalu menemani. Sang ayah ini terus mengawasi dari tepi lapangan.

Tidak sekadar menemani,  Rudy juga memberi instruksi kepada kedua anaknya. Seperti seorang pelatih. Maklum saja, ketika muda, lelaki ini juga seorang atlet basket.

“Ayah saya itu pelatih. Tapi cuman mau ngelatih saya sama Glenn,” ucap Mosses, sambil pandangannya menatap wartawan koran ini.

Mosses dan Glenn mengatakan, sang ayah yang mengenalkan dunia basket kepada keduanya. Saat itu Mosses masih berusia enam tahun. Bersama sang adik, mereka sering diajak sang ayah berlatih.

Karena masih kecil, Mosses dan Glenn lebih banyak menyaksikan. Beberapa kali sempat bermain, dengan bola basket. Meskipun tak langsung mahir, momen itulah menjadi jalan pembuka Mosses dan Glenn untuk terjun ke dunia olahraga basket.

Yang membuat keduanya tertarik justru permainan sang ayah. Ketika Mosses dan Glenn fokus melihat aksi Rudy keduanya terkesima. Membuat mereka merengek ingin dilatih sang ayah, setibanya di rumah.

“Lihat ayah latihan basket sepertinya seru. Terus minta diajari gitu saja,” ucap Mosses, yang diamini Glenn.

Rudy, yang melihat anaknya minta dilatih, langsung mengiyakan. Dua-duanya sekaligus. Satu dua kali latihan, kakak-beradik ini ternyata menunjukkan bakat. Itu yang lalu membuat Rudy serius melatih.

Hingga akhirnya kedua anaknya tergabung ke dalam Surabaya Basketball Academy. Di tim tersebut, mereka sudah mendulang puluhan prestasi. Mulai dari yang level lokal hingga level nasional.

Mosses misalnya, Mei lalu berhasil meraih juara Kejurprov Antar-klub Jatim di Jember untuk kelompok usia 14 tahun. Sedangkan Glenn, bulan ini baru saja meraih juara Kejurporv Antar-klub Jatim di Kediri untuk kelompok usia 12 tahun.

“Semuanya ya dari ayah. Jadi kalau ditanya siapa atlet basket idola, jawabannya ya ayah saya sendiri,” ucap mereka nyaris berbarengan.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pemain basket #pebasket #Pebasket Muda DIJ #basket