Sebagai mata air terbesar di lereng Gunung Klotok, Sumber Tretes jadi tumpuan warga dalam pemenuhan kebutuhan air warga di bawahnya. Saat debitnya menyusut di musim kemarau ini, masyarakat pun ikut waswas.
Sumber Tretes terletak jauh dari permukiman warga. Namun, keberadaannya krusial bagi kehidupan ratusan penduduk di Lingkungan Lebaktumpang. Sebab, dataran tinggi itu dikenal sulit mengakses air. Tak mudah membuat sumur bor.
Di saat yang sama, warga keberatan jika harus membeli air dari perusahaan daerah air minum (PDAM). Karenanya, mereka tetap bergantung pada air dari Sumber Tretes untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Padahal, saat ini mata air tersebut tak luput dari ancaman kekeringan. Debit terus menyusut selama musim kemarau.
Sumber Tretes terletak di tengah pegunungan. Pengunjung harus berjalan sekitar 850 meter ke dalam hutan untuk bisa mencapainya. Ada jalur setapak yang bisa dilewati.
Selain mencari air, tidak sedikit warga yang mampir ke Sumber Tretes saat tengah mendaki Gunung Klotok. “Biasanya hari libur banyak anak-anak pramuka. Ya mereka menjelajah saja. Atau terkadang ada yang pakai sepeda gunung,” ujar Bejo Karyo, warga setempat.
Begitu memasuki hutan, ada beberapa jalur yang bercabang. Pengunjung tinggal memilih jalur paling besar. Mengikuti papan petunjuk yang mengarah ke Sumber Tretes.
Setelah berjalan ratusan meter, suara gemericik air yang menetes di antara batu-batuan cadas mulai terdengar. Di sanalah Sumber Tretes mengalir, diperkirakan sampai tiga kilometer jauhnya. “Di situ kan sebenarnya sumbernya banyak. Sampai ke atas-atas juga masih ada. cuma memang yang paling besar debitnya yang di sana,” lanjut Bejo tentang titik-titik mata air Sumber Tretes yang diperkirakan masih berhulu jauh di atasnya.
Mata air tersebut nampak masih sangat alami. Mengalir di antara batu-batu cadas, lebar sumbernya sekitar 2,5 meter. Air yang menetes di sela-sela batuan tertampung di kolam yang lebih besar. Sisanya mengalir kecil menuju aliran di bawahnya. Meski debitnya menyusut selama kemarau, hingga kemarin masih terus mengalir. Termasuk yang diarahkan dengan pipa-pipa menuju tandon milih warga setempat.
Di bawah lereng gunung Klotok, ada tiga tandon penampung air.
“Seiring berjalannya waktu, kebutuhan air warga makin banyak. Akhirnya ini saja nggak cukup. Ada yang mulai bikin sumur bor, ada yang langganan PDAM. Ini (tandon, Red) untuk warga yang nggak mampu untuk bayar dua itu,” terang Bejo.
Menurut Bejo, warga yang memanfaatkan air dari gunung berketinggian 536 meter dari permukaan laut (mdpl) ini hanya membayar Rp 20 ribu per bulan. “Orang satu Dusun Tumpang masih pakai air dari sini (Sumber Tretes, Red),” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah