Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sumber Sendang Begendang di Gayam Kota Kediri, Riwayatmu Kini...

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 9 Agustus 2023 | 17:18 WIB
NYARIS HILANG: Munawar, petani yang juga warga Kelurahan Gayam. Berada di Sumber Begendang yang nyaris hilang lantaran mata airnya tertutup endapan lumpur.
NYARIS HILANG: Munawar, petani yang juga warga Kelurahan Gayam. Berada di Sumber Begendang yang nyaris hilang lantaran mata airnya tertutup endapan lumpur.

 

Dulu, mata air ini jadi tempat bermain. Kini sudah nyaris hilang akibat tak terawat. Petani pun sudah tak lagi membutuhkan suplai dari sumber ini.

Mata air ini berada di tengah area persawahan. Tapi, kondisinya memprihatinkan. Tak lagi difungsikan oleh warga setempat. Tak ada pula yang merawatnya.

Untuk mencapai mata air yang kini genangannya kecil ini harus berjalan dulu sekitar 100 meter dari jalanan. Melalui pematang sawah, di antara petak hijau tanaman tebu dan padi.

“Di sawah-sawah sini airnya banyak. Tiba-tiba keluar sendiri. Orang-orang justru bingung buang airnya ke mana?” aku Munawar, petani setempat.

Di lahan sawah ini, air banyak yang memancar dari sela-sela pematang. Munawar pun sampai harus membuat saluran agar air tak menggenang. Tapi, tetap saja air tak bisa keluar dari petak sawahnya.

Dahulu, Sumber Begendang –atau Sendang Begendang kata warga setempat—selalu mengeluarkan banyak air. Terutama bila musim penghujan. Kelebihan air itu menyebabkan pertanian di sekitar sumber sering rusak. Diperparah dengan tidak ada saluran irigasi di antara sawah-sawah. Hanya ada sungai kecil di selatan sumber yang mengalirkan air dari Gunung Klotok.

“Karena kelebihan air akhirnya aliran (saluran) sumbernya ditutup. Sekarang jadi sawah itu,” imbuh petani yang sedang menunggu tanaman padinya dari serangan burung.

Mata air yang kini menggenang itu pun tak serta merta menjadi kolam atau sendang. Dulu, selama musim hujan air masih bisa timbul ke permukaan kembali. Kini mata airnya kian tertutup lantaran tidak dirawat.

“Dulu bisa penuh. Biasa saya pakai mandi juga waktu kecil. Sekarang itu sudah ketutup lumpur,” tambahnya.

Karena endapan sedimen di permukaan mata air itulah yang menyebabkan tempat ini serupa rawa-rawa. Lengkap dengan rimbunan semak belukar yang tingginya hampir sebahu orang dewasa.

Namun begitu, mata air ini tetap ‘dibentengi’ pohon-pohon besar. Sedikitnya ada tujuh pohon besar, termasuk pohon kepuh, yang membatasi sumber air dengan kawasan pertanian di sekelilingnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#SUMBER #Sendang #sumber air