Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bukan Orang-orangan Sawah, Ini Cara Petani di Kabupaten Kediri Usir Burung Emprit

Karen Wibi • Rabu, 9 Agustus 2023 | 16:51 WIB

TEKNOLOGI MURAH: Petani di Desa Sambirejo, Gampengrejo memasang puluhan ‘bendera’ plastik untuk mengusir burung yang mulai memangsa tanaman padi mereka.
TEKNOLOGI MURAH: Petani di Desa Sambirejo, Gampengrejo memasang puluhan ‘bendera’ plastik untuk mengusir burung yang mulai memangsa tanaman padi mereka.

KEDIRI, JP Radar Kediri-Serangan hama burung emprit kian merajalela di musim kemarau. Untuk mengatasinya, para petani di sejumlah daerah kompak memasang ‘bendera’ plastik di sawah. Mereka meyakini kibaran plastik warna-warni itu efektif untuk mengusir burung. Tak ubahnya memasang jaring yang juga bisa melindungi butir-butir padi yang tengah bertumbuh.

Pantauan koran ini, pemasangan ‘bendera’ plastik dilakukan di berbagai wilayah di Kabupaten Kediri. Di Kecamatan Gampengrejo, plastik warna-warni banyak berkibaran di area persawahan Desa Sambirejo. “Karena kalau musim kemarau burung yang datang ke sawah lebih banyak,” kata Sutarji, 63, petani di Desa Sambirejo, Gampengrejo.

Dia mengaku rutin memasang bendera plastik sejak beberapa tahun lalu. Cara itu sengaja dilakukan untuk menakut-nakuti burung yang hendak memakan padi.

Baca Juga: Jangan Biarkan Kucing Peliharaanmu Alami Kebotakan, Ini Tipsnya

Selain memasang plastik, petani setempat juga sering memasang jaring untuk menghalau burung. Namun, cara kedua tersebut dinilai butuh modal yang mahal. Adapun untuk pemasangan plastik jauh lebih murah. “Kalau terus-terusan dimakan ya yang kualitas bagus bisa habis. Nanti tinggal yang kopong,” terang Sutaji.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertanbun) Kabupaten Kediri Anang Widodo membenarkan tentang maraknya serangan hama burung pada tanaman padi. Di musim kemarau menurutnya kualitas padi sedang baik. Sebab, padi mendapat asupan cahaya yang berlimpah. “Memang hukum alamnya begitu (saat kemarau muncul hama burung, Red),” ungkapnya.

Pemasangan plastik di sawah menurut Anang biasa dilakukan saat butir padi mulai berisi dan bisa dimakan oleh burung. Karenanya, jelang masa panen selalu muncul serangan hama burung.

Baca Juga: Gara-Gara Ini, Debit Air Sendang Kembar di Kelurahan Gayam Kota Kediri Berkurang

Selain di Gampengrejo, serangan hama burung juga banyak didapati di daerah dengan tanaman padi yang lebih luas. Misalnya di Purwoasri, Plemahan, hingga Kandangan. “Semakin luas sawah padi, semakin banyak juga serangan burung yang terjadi,” jelasnya.

Untuk diketahui, selain di Kabupaten Kediri, para petani di Kota Kediri juga melakukan cara yang sama untuk menghalau burung. Serangan hama burung agaknya juga memusingkan para petani yang bersiap memanen tanamannya tersebut.

Sementara itu, jika petani di daerah yang pengairannya cukup harus berjibaku dengan hama burung, petani di Kelurahan Pojok yang rentan mengalami kesulitan air harus memilih tanaman tertentu agar mereka tak gagal panen.

Baca Juga: Sendang Gayam di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri Dulu Tempat Wudu, Kini Nyaris Terlupakan

Sumaji, 71, petani setempat menjelaskan, petani di Kelurahan Pojok hanya bisa menanam jagung dan tebu saat musim kemarau. Sebab, mereka hanya mengandalkan pengairan dari Sumber Podang yang sekarang debitnya mulai mengecil.

Agar semua lahan pertanian mendapatkan air, para petani harus bergiliran seminggu sekali. Selebihnya, ada petani yang berusaha menggunakan sumur bor tetapi airnya belum keluar.

Minimnya suplai air menurut Sumaji berdampak langsung pada hasil panen. Saat pasokan air berlimpah, dia bisa memanen 12 karung jagung. “Kalau sekarang (kemarau, Red) paling banyak empat sak,” lanjutnya.

Baca Juga: Banyak Jalan Menuju Sumber Ngasinan Rejomulyo Kota Kediri, tapi...

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Kediri M. Ridwan yang dikonfirmasi tentang kesulitan air petani di Kelurahan Pojok menyebut, pihaknya tetap melakukan pendampingan ke petani. “Salah satunya dengan mengimbau agar petani memilih tanaman yang adaptif dengan kemarau,” ujar Ridwan.

DKPP juga mengimbau agar petani mempercepat masa tanam. Disertai pemilihan tanaman yang usia panennya cepat. Dengan demikian, diharapkan masa panen mereka tidak bertepatan dengan puncak El Nino. “Agar waktu panen tidak kena puso atau gagal panen akibat dari kekeringan.

Karena ketersediaan air masih cukup,” jelasnya sembari menyebut kesulitan air yang dialami petani di Kelurahan Pojok tergolong anomaly. Sedangkan di wilayah lainnya relatif aman.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#petani #padi #burung emprit #petani padi