Mata air ini bersanding langsung dengan rumah-rumah warga. Lebih mirip kolam ikan dibanding sumber air. Debit airnya pun terus berkurang dari tahun ke tahun.
Lokasinya berada di tengah permukiman. Tiga sisinya bahkan langsung berbatasan dengan rumah penduduk. Menjadikan mata air ini lebih menyerupai kolam ikan.
Hal itu membuat sumber yang berada di RT 03 RW 03 Kelurahan Gayam, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini mudah didatangi. Karena aksesnya menyatu dengan jalan menuju perkampungan.
Warga menyebut sumber air ini dengan nama Sendang Kembar. Airnya memang tak pernah mengering sejak dulu. Tapi, saat ini debitnya terus berkurang. Ketinggian airnya terus turun. Terutama saat musim kemarau.
“Dulu ada pohon beringin besar yang tumbang. Setelah itu debit airnya jadi berkurang,” ujar Sodiq, warga setempat, berdalih mengapa debit sumber ini berkurang debit airnya.
Semenjak pohon besar itu tumbang, di kawasan mata air itu kini hanya tersisa empat pohon. Itupun ukurannya sedang. Tak sebesar pohon yang telah tumbang.
Selain karena hilangnya pohon, endapan lumpur juga membuat debit airnya berkurang. Lumpur itu menciptakan pendangkalan pada sendang tersebut. Lumpur pula yang menyumbat belik-belik air.
“Dulu ada dua pipa. Tiap musim hujan itu keluar airnya. Tapi ya begitu, hilang nggak tahu siapa yang ngambil. Bekas lubangnya ya sudah ketutup lumpur,” terang lelaki ini.
Belum lagi endapan lumpur itu juga membuat airnya keruh. Sodiq memperkirakan, ketinggian lumpur mencapai 60 sentimeter. Di musim kemarau seperti saat ini, kedalaman air diperkirakan tak sampai semeter.
Karena kondisinya yang tak terawat, sudah tak banyak orang yang berkunjung. Jika dulu masih sering ditemui anak-anak kecil berenang tiap sore, saat ini itu jadi pemandangan langka di Sendang Kembar.
“Semenjak ditaburi benih ikan sama pemkot, tidak boleh dipakai berenang,” kata Sodiq yang juga menjabat sebagai ketua RT setempat.
Di sana memang nampak ikan-ikan berukuran kecil. Saking kecilnya, nyaris tak terlihat di antara keruhnya air. Menurut Sodiq, itu merupakan jenis ikan dewa yang disebar oleh Pemkot Kediri belum lama ini. Tujuannya untuk mengembalikan ikan endemik itu ke habitatnya serta menghidupkan ekosistem mata air itu.
Berbicara tentang Sendang Kembar, menurut Sodiq penamaan itu berdasarkan fakta bahwa terdapat dua mata air yang nyaris serupa di Kelurahan Gayam. Satu lainnya adalah Sendang Gayam yang terletak di lingkungan RT 01 RW 02 Kelurahan Gayam. Sekitar 800 meter dari Sendang Kembar.
Yang menarik dari Sendang Kembar, terdapat dua patung serupa arca yang diletakkan di kawasan mata air itu. Menurut Sodiq, arca itu ditemukan di bawah akar pohon beringin besar yang tumbang.
“Dulu waktu pohonnya tumbang, itu (arca, Red) muncul dari bawah tanah di dekat akar pohonnya. Dulu pernah mau dibawa dinas kebudayaan tapi sama warga nggak boleh. Akhirnya ditanam di sini,” terangnya terkait arca yang kini terpajang di tengah pagar-pagar besi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah