Sejak lama warga memanfaatkan air dari Sumber Ngasinan. Terutama untuk mencuci pakaian. Terkadang, harus antre menunggu giliran.
Nama Sumber Ngasinan memang tak populer. Kalah dengan Sumber Jiput yang masih berada dalam satu kelurahan, dan jaraknya hanya satu kiloan meter. Toh, esensi keberadaannya sangat penting bagi warga di sekitarnya.
Terutama warga Lingkungan Ngasinan, masih sering turun ke sungai yang menjadi aliran sumber ini. Tujuan mereka juga beragam. Ada yang bermaksud menjaring ikan. Biasanya anak-anak hingga remaja. Ada pula yang berniat mencuci pakaian. Kalau yang ini umumnya ibu-ibu.
Volume air di dekat pusat sumber tak terlalu tinggi. Pancaran mata airnya pun tak deras. Namun begitu turun ke kali yang lebarnya tak sampai tiga meter itu, airnya melimpah. Juga tak pernah kering dalam kondisi kemarau sekalipun.
Di sungai itu ada bangunan semacam punden berundak, atau trap-trapan. Terbuat dari susunan bata merah yang disemen bagian atasnya. Menjadi lantai berukuran 1,5 x 2 meter. Yang biasa digunakan untuk mencuci pakaian.
“Sekarang mungkin sudah nggak begitu banyak yang mencuci di kali. Paling (mungkin, Red) sudah banyak yang punya mesin cuci,” kelakar Al Hidayatus Zahroin, warga setempat.
Mbak Al, sapaan akrabnya, mengenang saat dulu masih banyak yang terbiasa mencuci di sungai. Saking banyaknya, bahkan harus mengantre. Kini hanya ada segelintir warga yang masih mencuci di aliran Sumber Ngasinan. Termasuk beberapa santri pondok pesantren yang berada tak jauh dari situ.
“Ngantrenya di sini. Karena di sini airnya paling dalam. Di situ kan dibendung. Jadi gampang kalau untuk cuci baju,” ujarnya menunjuk undakan yang dijadikan tempat cuci-cuci oleh warga.
Di momen tertentu, keberadaan Sumber Ngasinan juga sangat berguna bagi masyarakat. Salah satunya saat Hari Raya Idul Adha. Warga tumplek-blek di aliran bawah Sumber Ngasinan untuk mencuci organ dalam hewan kurban. Tetap dengan melintasi jalan sempit dan akses yang terjal sambil membawa berkilo-kilo jeroan.
“Kurang tahu juga gimana cara bawanya. Tapi tetap bisa juga tuh. Nanti biasanya cucinya juga di sini,” urai Al.
Yang disayangkan, warga yang mengambil manfaat dari Sumber Ngasinan agaknya belum begitu sadar untuk menjaga kelestarian alam. Bendungan yang berada tak jauh dari undakan tempat cuci baju dipenuhi sampah. Tak hanya sampah sisa daun yang berjatuhan, namun juga sampah plastik sisa kemasan detergen. Sampah plastik itu dibiarkan begitu saja di sungai. Sehingga terbawa air dan tersangkut di bendungan.
Menurut Al, selama ini memang tidak ada kegiatan konservasi oleh warga sekitar. Atau sekadar kerja bakti membersihkan sungai. Sungai yang –oleh warga— disebut memisahkan penduduk di dua desa menjadi lor kali dan kidul kali itu seperti tidak pernah dibersihkan.
“Anakku tak suruh bersihkan ini (bendungan) juga belum sempat,” keluhnya melihat bendungan yang dipenuhi sampah daun dan plastik itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah