Dulu penyakit diabetes melitus identik dengan orang dewasa, yang sudah melewati usia 40 tahun. Tapi, ancaman itu kini juga menghantui anak-anak usia milenial. Di Kediri, hampir separo pengidap ini adalah anak muda!
Boy, bukan nama sebenarnya, merasakan sesuatu yang aneh pada kondisi tubuhnya. Dia lebih gampang lelah dan haus. Rasa lapar pun mudah menyerang. Anehnya, berat badannya justru merosot tajam.
Setelah mendapat saran dari teman-temannya, pemuda usia 20-an tahun ini kemudian mencoba mengecek kondisi kesehatan. Yang pertama adalah melihat kandungan gula darahnya. Ternyata, glukosa di dalam darahnya sudah melebihi ambang batas normal. Sudah di atas 140 miligram per desiliter (ml/ds). Sudah masuk pre-diabetes. Hal ini langsung membuat pemuda ini cemas.
Memang, selama ini banyak yang menganggap diabetes melitus (DM) hanya menyerang mereka yang berusia di atas 40 tahun. Padahal, faktanya, sudah banyak anak-anak usia milenial yang juga terserang. Bahkan, kondisi seperti itu harus diwaspadai.
“Karena bila terkena diabetes saat usia muda, komplikasinya akan jauh lebih berat,” warning Ellisma Swandini, dokter spesialis penyakit dalam yang bertugas di RSUD Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri.
Dampak besarnya adalah, penyakit tersebut akan mempengaruhi kualitas hidup penderita. Selain juga memerlukan biaya pengobatan yang tidak murah.
Lalu, kenapa anak muda saat ini banyak yang terkena DM? Memang, banyak hal yang mempengaruhi. Namun, yang perlu disoroti adalah peningkatan kasus ini di Kediri-dan daerah lain di Indonesia-ternyata berbarengan dengan meningkatnya kasus obesitas. Artinya, ada benang merah antara gaya hidup dengan bertambahnya penderita DM di kalangan anak muda.
“Lebih-lebih, gaya hidup seperti itu diperparah dengan rendahnya aktivitas fisik,” tekannya.
Yang perlu mendapat perhatian ekstra, penyakit ini sering tak memunculkan gejala. Dalam banyak kasus, penderita baru mengetahuinya ketika kondisinya sudah parah.
“Kebanyakan pasien yang datang dalam fase komplikasi. Bukan sekadar karena gula darah meningkat,” ingatnya.
Ellisma pun mengingatkan, empat tanda-tanda yang harus diwaspadai sebagai gejala diabetes. Seperti mudah haus, sering buang air kecil, sering lapar, serta adanya penurunan berat badan. Selain itu, muncul pula tanda seperti kesemutan, penglihatan kabur, kaki terasa kebas, dan-bagi pria-mengalami disfungsi ereksi.
Bila ada gejala itu, segera saja menegakkan diagnosis. Caranya, melakukan pengecekan kadar glukosa dalam darah. Baik yang sistem plasma maupun pemeriksaan HBA1C. Untuk metode kedua itu tingkat akurasinya lebih tinggi.
Dokter perempuan kelahiran 1990 ini mengingatkan, DM bisa mengenai semua organ tubuh. Tentu dengan akibat yang berbeda-beda. Misal, bila menyerang pembuluh darah bisa mengakibatkan stroke. Sementara untuk jantung, ancamannya adalah jantung koroner. Sedangkan bila ke bagian arteri perifer akan menyebabkan kaki gajah.
Nah, bila seseorang terkena DM, dan mengalami luka, penyembuhannya akan lama. Luka bisa bernanah, berbau busuk, hingga berbelatung.
“Jika menyerang pembulu darah kecil bisa menyebabkan kebutaan,” ungkap Ellisma.
Salah Obati, Sakit Lain Bisa Muncul
Ketika didiagnosis DM, seseorang harus mendapat penanganan yang komprehensif. Biasa disebut dengan tiga pilar. Yaitu mengatur diet, aktivitas fisik, dan pengobatan.
“Tidak bisa hanya dengan salah satunya,” ingat dr Ellisma.
Bila seseorang terkena diabetes, pola makannya pun harus diatur. Yaitu dengan 3J, menentukan jadwal, jenis, dan jumlah makanan.
Yang pertama tentu saja jadwal makan. Penderita DM harus memiliki jam makan teratur. Tiga kali dalam sehari. Dengan selingan makanan ringan di antaranya.
Makan teratur ini bertujuan agar tubuh lebih mudah mengatur gula darah. Berbeda bila tidak teratur, yang bisa membuat lonjakan glukosa darah tinggi. Sedangkan insulin tubuh tak bisa mengatur gula darah kembali normal.
“Lebih baik makan ini dijadwal pagi, siang, dan malam,” sarannya.
Kedua adalah mengatur jenisnya. Penderita DM harus mengonsumsi makanan dengan kandungan yang seimbang. Yaitu antara karbohidrat, protein, lemak, dan serat. Tentu dengan beberapa catatan.
Meskipun boleh mengonsumsi karbohidrat harus diimbangi dengan makanan berserat. Serta tidak langsung meningkatkan kandungan gula darah. Contoh makanan seperti itu adalah roti gandum, singkong, ubi, beras merah hingga oat. Sedangkan protein bisa berupa daging tampa lemak, tahu, tempe, ikan. Untuk lemak diupayakan semaksimal mungkin menghindari lemak jenuh.
Paling penting adalah asupan serat. Yang bisa diperoleh dari sayuran dan buah. Pada penderita diabetes, asupan serat lebih banyak dibandingkan kabohidrat.
Bagaimana dengan jumlah? Tentu saja setiap orang berbeda asupannya. Disesuaikan dengan aktivitas, berat badan, hingga jenis kelamin.
Di pilar kedua, penderita DM disarankan melakukan aktivitas fisik. Tiga yang disarankan adalah jalan cepat, jogging, bersepeda, dan berenang. Lamanya bisa 30 hingga 40 menit perhari. Atau, 150 menit per minggunya.
Pilar ketiga adalah pengobatan. Bagi penderita DM, pengobatan harus setiap hari dan berlangsung seumur hidup. Diabetes memang bukan penyakit yang bisa disembuhkan tapi setidaknya bisa dikontrol.
Bagi yang sudah mengidap DM, tak bisa hanya sekali melakukan kontrol. Sebab, tanpa konsultasi obat tak bisa digunakan dalam jangka panjang.
Karena pengobatan dilakukan jangka panjang, banyak pasien khawatir terkena gagal ginjal. Kemudian menghentikan pengobatan. Mereka yang menghentikan pengobatan ini kebanyakan percaya dengan omongan dari tetangga, atau kerebat dekat tanpa bertanya pada ahlinya.
“Semakin tidak minum obat, gula darah akan naik dan semakin merusak ginjal,” ungkap Ellisma.
Ellisma menjelaskan tidak semua obat yang dikonsumsi jangka panjang menyebabkan gagal ginjal. Obat yang dapat menyebabkan gagal ginjal karena konsumsi jangka panjang adalah obat nyeri, antibotik, pencahar, lambung. Karena obat tersebut tidak dianjurkan dikonsumsi secara terus menerus.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah