Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Airnya jernih, terus mengalir sepanjang tahun. Suasananya pun sangat alami. Tapi, mata air ini seperti terlupakan. Kolamnya pun jadi dangkal karena tertutup lumpur.
Jalan setapak itu nyaris tertutup sampah. Maklum, selain sempit lokasinya tepat di sisi utara tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang ada di Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Bila melintasi, kaki harus pandai menghindari sebaran sampah yang berjatuhan dari TPS yang dibangung pada 2018 ini.
Kontur jalan yang lebarnya tak sampai dua meter itu juga tak rata. Bergelombang. Langsung mengarah ke perkebunan tebu. Seratusan meter dari tepi jalan raya, setelah melewati gundukan sampah yang bersambung lahan tebu, baru nampak sesuatu yang jernih dan menyegarkan. Sumber Rempi.
“Dulu aku sering dolan ke sini waktu kecil. Sekarang nggak ada yang ke sini. Banyak tanaman rungkut (rimbun, Red),” ujar Sugino. Pria ini adalah warga sekitar sumber yang mengantarkan Jawa Pos Radar Kediri mendatangi mata air ini.
Pria berusia 53 itu menceritakan, dulu Sumber Rempi masih sering didatangi warga. Tujuannya pun beragam. Mulai dari mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari sampai tempat bermain anak-anak.
Kini, akses yang sulit jadi salah satu alasan tak lagi banyak orang yang berkunjung ke mata air ini. Padahal, tak terlalu jauh dari permukiman warga.
“Akses jalan satu-satunya ya sampingnya tempat sampah itu. Jalannya susah, kalau hujan tambah becek dan bau,” tuturnya.
Itu pula sebabnya, mata air ini masih sangat alami. Selain daun dan ranting yang berjatuhan, hampir tak ada sampah di kawasan itu. Airnya pun jernih mengalir di antara tebing batu selebar satu sampai dua meter. Areanya memang tak luas, apalagi mata airnya.
“Dulu ini dalam. Bisa buat berenang. Sekarang ya cuma segini,” ujarnya menunjukkan ketinggian air yang hanya setinggi lututnya.
Menurutnya, lumpur-lumpur yang terbawa jatuh ke dalam sumber saat musim hujan menyebabkan pendangkalan. Lumpur itu juga menutup sebagian belik-belik mata air. Itu lantaran belum ada bangunan pengaman di sepanjang mata air.
Berbeda dengan mata air lain yang banyak menampung beragam ikan, di Sumber Rempi tidak begitu banyak yang terlihat. Hanya ikan-ikan kecil saja yang nampak. Sesekali ikan seukuran ibu jari berenang di antara bebatuan tebing.
“Dulu masih banyak ikan-ikan wader. Sekarang sudah semakin habis karena sering disetrumi. Padahal waktu saya kecil masih bisa nyari ikan di sini,” keluhnya.
Di luar itu, hingga kini mata air ini masih lestari dan terus mengalir. Alirannya pun bisa mencapai Kelurahan Pakunden. Namun begitu, peruntukannya sudah tidak sebanyak dulu. Saat aliran air ini masih melewati area persawahan.
“Sekarang sawahnya sudah jadi perumahan,” pungkas warga Kelurahan Betet itu.