Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Cara Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak saat Masuk Lingkungan Baru

Habibaham Anisa Muktiara • Rabu, 2 Agustus 2023 | 17:38 WIB

 

Photo
Photo

Ini musimnya anak-anak masuk sekolah. Berada di lingkungan baru, juga teman baru. Menjadi tugas ortu memberi motivasi agar muncul kepercayaan dirinya.

Tahun ini si Upik masuk taman kanak-kanak. Berangkat diantar sang bunda. Juga minta ditunggi ketika waktunya masuk kelas. Ketika hendak ditinggal, si Upik menangis keras. Meminta sang bunda tetap menemaninya  hingga sekolah usai.

Pernahkah menyaksikan hal seperti itu?  Tentu sering. Terutama di tahun ajaran baru seperti sekarang ini. Karena momentum masuk ke lingkungan baru bisa menjadi hal yang menakutkan. Seperti yang dirasakan si Upik tadi.

Berada di lingkungan baru membutuhkan kepercayaan diri. Agar bisa beradaptasi. Sayang, tak semua anak mampu menumbuhkan hal itu. Inilah yang menjadi tantangan besar bagi si anak.

“Tugas orang tua memberikan motivasi dan dukungan. Agar anak bisa melewati tantangan  tersebut,” saran Mifta Wahyu Rafa Sakina, dosen mata kuliah psikologi di IIK Bhakti Wiyata Kediri.

Ada beberapa jenis tantangan bagi anak yang mulai masuk sekolah. Bagi kelompok pra-sekolah, handicap-nya adalah melakukan sosialisasi dengan orang di luar anggota keluarga. Seringkali anak takut untuk berkenalan dengan orang yang baru dia temui.

Agar tidak terjadi seperti itu, orang tua perlu memberikan latihan terlebih dulu. Mengajarinya agar berani. Sekaligus menumbuhkan pula rasa percaya diri.

Pengajaran ini juga dalam hal mengerjakan daily life. Aktivitas keseharian seperti mengancingkan baju atau menali sepatu perlu diajarkan. Tapi, tak boleh asal membantu dalam menyelesaikan tugas keseharian itu. Orang tua perlu memantau sang anak. Serta memberi contoh dan mengarahkan.

“Kadang ada tipe orang tua yang tidak tega melihat anaknya kesulitan. Padahal sebetulnya (hal itu) bisa melatih kepercayaan diri anak,” imbuhnya.

Alumnus Fakultas Pskologi Untag ini menjelaskan, menghindarkan anak dari tantangan justru bisa menurunkan self respect atau harga diri. Serta merusak kepercayaan dirinya.

Berbeda bila sang anak sanggup melewati tantangan itu, yang muncul adalah perasaan positif untuk dirinya sendiri. Bisa  menghargai keberhasilan dan juga merasa yakin atas kemampuannya. Anak pun menjadi paham apa yang bisa dilakukan sendiri. Tanpa meminta bantuan orang tua.

Agar anak dapat berdaptasi dengan lingkungan baru, pembelajaran bisa dilihat dari lingkungan keluarga terlebih dahulu. Sebab anak merupakan sosok peniru dari lingkungan sekitar. “Apakah orang tua ini dapat memperlakukan anak ini sesuai dengan usianya? Perilaku yang ditampakkan  harus disesuaikan dengan anak,” saran Mifta.

Demikian pula anak yang baru masuk sekolah dasar, juga perlu beradaptasi. Seperti dengan teman baru, guru baru, dan orang-orang baru. Dalam tahapan ini yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah memantau, memberikan motivasi, dan berkoordinasi dengan guru. Motivasi itu bisa berupa perhatian.

“Seperti anak saat pulang sekolah diajak untuk bercerita apa saja yang terjadi di lingkungan sekolah. Tanpa men-judge atau memarahi,” ingat perempuan asal Pati, Jawa Tengah ini.

Dengan orang tua memberi waktu untuk mendengarkan, anak akan merasa dihargai. Selain itu juga membuat anak lebih bersemangat pergi sekolah keesokan hari. Karena merasa diterima baik di lingkungan sekolah ataupun rumah.

Namun jika anak tidak memiliki ruang untuk bercerita, bisa menghambat rasa kepercayaan diri anak tersebut. Yang membuat anak bisa depresi.

Penampilan Penting tapi Value Lebih Penting
Peran orang tua sangat penting dalam mengembangkan rasa percaya diri. Dalam konteks tersebut, mereka harus menjadi role model atau teladan bagi anak.

Namun, para orang tua tak boleh terjebak dari sisi penampilan saja. “Menempatkan rasa percaya diri ini tidak hanya pada penampilan saja, namun juga value,” tekan Mifta.

Wanita ini mnejelaskan, yang dia maksud adalah realistis ketika menghadapi kemampuan dan kenyataan yang ada. Orang tua harus menjelaskan kepada anak bahwa tidak semua orang memiliki banyak kemampuan.

“Orang tua memberi pemahaman kepada anak bahwa setiap individu itu berbeda-beda,” imbuhnya.

Selain itu, orang tua juga harus berhati-hati secara lisan, gestur badan, dan ekspresi. Karena anak adalah peniru yang hebat. Setiap perbuatan dari orang tua yang dilihat rentan untuk ditiru.

Hal lainnya adalah, jangan berlaku kasar pada sang anak. Seperti halnya orang dewasa, anak pun juga tak ingin diperlakukan kasar. Sebisa mungkin menghindari hal itu serta tidak memojokkan. Sebab hal itu hanya akan membuat si anak ketakutan. Dan semakin sulit menumbuhkan kepercayaan diri. Bisa-bisa dia jadi frustasi. Ujung-ujungnya akan berpikir negatif pada dirinya sendiri.

Mifta mengingatkan agar orang tua membantu anak mengenali dirinya secara positif. Dengan mengajak anak berbicara perlahan, lama-lama akan mau terbuka dengan kondisi sebenarnya.

Ketika anak sudah mau membuka diri, artinya dia sudah bisa menerima kekurangannya. Serta memiliki keinginan untuk berubah.

“Jangan lupa, orang tua juga bisa mengajarkan anak agar selalu berusaha,” saran Mifta.

Sebisa mungkin orang tua tidak membiarkan anak mengeluh. Hindari agar mereka tidak merasa terus-menerus terpuruk karena kekurangannya. Sebagai orang tua harus bisa mengajak berpikir bahwa kelemahan tersebut bisa diperbaiki.

“Karena itulah penting bagi orang tua untuk mengenali karakter si anak,” ingatnya.

Yang terakhir, orang tua juga harus bisa mengarahkan dan mempercayai anak jika melakukan kesalahan. Sebab, hal itu suatu hal yang wajar. Melakukan kesalahan adalah salah satu proses dari pembelajaran.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#anak #rasa percaya diri #sekolah #psikologi