Mata air di sumber ini sempat mengering. Akibat kemarau panjang ekstrem beberapa tahun lalu. Untungnya, konservasi yang dilakukan bisa menyelamatkannya.
Suasana rindang dan hawa sejuk langsung terasa begitu memasuki kawasan Sumber Dadapan, satu sumber yang di Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren. Banyaknya pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya adalah penyebabnya. Memang, tak semuanya berukuran besar. Namun cukup memberi kesan teduh dan sejuk.
Tak hanya teduh, sumber air di Lingkungan Dadapan ini juga terasa menarik. Satu gapura berdiri artistik di pintu masuk. Arsitekturnya menarik, bak bangunan di zaman kerajaan. Tersusun dari batu bata merah yang rapi.
Kursi-kursi permanen juga sudah dibangun. Dari beton. Mengesankan bagai taman kota yang lengkap dengan meja dan kursi.
Di ujung kawasan itu, satu sendang terbangun kokoh. Air dari mata air Sumber Dadapan berkumpul di satu kolam. Yang dikelilingi bangunan pengaman berupa bronjong-bronjong. Sendang berukuran 3 x 20 meter ini menjadi tempat berkumpul air yang memancar dari sumber di bawah pohon pule itu.
Sebenarnya, ada kanal yang menjadi jalan air ke saluran irigasi persawahan. Tapi, ketika kemarau seperti ini ketinggian air tak cukup untuk melewati saluran itu.
“Sekarang sudah banyak airnya. Dulu sebelum dikeruk dan dibangun airnya dangkal dan sedikit,” terang Muryani, 56, warga sekitar yang setiap hari berdagang di kawasan Sumber Dadapan.
Pria ini setiap hari membersihkan kawasan mata air. Sehingga tahu perjalanan sumber tersebut. Seperti ketika Pemkot Kediri melakukan konservasi mata air pada 2020 lalu. Waktu itu upaya konservasi dilakukan dengan menggali mata air. Kemudian memasang bangunan pengaman di sekitarnya. Sebab jika tidak digali dan ‘diamankan’, mata air ini terancam hilang. Seperti yang terjadi sebelumnya, saat mata air ini kering karena kemarau ekstrem sebelum 2020 lalu.
“Sekarang sudah lumayan dalam dan bisa untuk berenang juga. Biasanya anak-anak kecil ramai berenang di sini,” tambah Muryani, menunjuk kolam penampung sedalam dua meter itu.
Berbeda ketika musim hujan. Debit airnya bisa meningkat. Airnya bisa langsung mengalir melewati parit yang kemudian bisa untuk mengairi sawah-sawah di bawahnya.
Terlepas dari itu, mata air ini tetap jadi jujukan warga sekitar –atau bahkan pelancong—untuk berenang. Salah satunya Asti, 24, pengunjung asal Cirebon. Di tengah hari kemarin, ia menghabiskan waktu bersama teman-temannya dengan berenang di sendang Sumber Dadapan.
Sudah kedua kalinya mahasiswi salah satu kampus di Kota Kediri ini mandi di tempat ini. “Di sini itu enaknya airnya nggak dingin banget. Biasanya kan air sumber terlalu dingin ya. Ini sejuk segar gitu,” ujar Asti.
Sumber Dadapan bukan mata air di Kota Kediri yang pertama kali Asti kunjungi. Namun bagi perempuan yang jago berenang ini, Sumber Dadapan termasuk sumber yang tak bikin dia kapok untuk berkunjung kembali.
“Meskipun bawahnya masih alami, tapi di sini nggak keruh juga airnya. Dan banyak ikan-ikan kecilnya. Biasanya agak sore anak-anak SD juga ke sini. Berenang sambil nyari ikan pakai serok,” urainya menceritakan aktivitas yang kini jadi rutinitasnya di Sumber Dadapan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah