Sumber Cakarwesi memiliki sumber daya alam yang potensial. Jadi habitat flora dan fauna beraneka rupa. Sayang, kealamiannya justru bisa menjadi ancaman bagi kelestariannya.
Bila dilihat dari luasnya, Sumber Cakarwesi sangatlah lapang. Berada di kawasan seluas satu hektare. Memiliki kekayaan flora dan fauna. Vegetasinya beraneka rupa. Demikian pula ikan-ikan yang mengisi kolam yang terbentuk secara alamiah.
Sumber ini ditopang oleh satu mata air utama. Letaknya lurus dengan gerbang masuk kawasan itu. Berada di rerimbunan pepohonan besar. Di tengah tegalan tebu. Menjadikan mata air ini bagaikan oase yang menghidupi sekitarnya tanpa kenal musim.
Namun begitu, ancaman longsor mengintai mata air yang terletak di Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren ini. Beberapa titik mata air dan alirannya beberapa kali diterpa longsor. Longsoran tebing-tebing sumber itu sering kali terjadi saat musim hujan. Longsoran tebing-tebing sumber itu sering kali terjadi saat musim hujan.
“Di sini (mata air utama, Red) juga sering. Itu saja pinggir-pinggirnya sudah terkepras,” tunjuk Pujiono, salah satu anggota paguyuban pengelola mata air.
Sebagai salah satu pengelola, lelaki ini mengaku khawatir. Jika terus-menerus diterpa longsor tanpa upaya konservasi yang signifikan, kelestarian mata air yang jadi taruhan.
“Jujur kami masih swadaya. Kalau mau membangun plengsengan atau bronjong sendiri jelas nggak mampu,” aku Pujiono.
Beberapa meter dari titik mata air utama, akhir tahun lalu terjadi longsor yang relatif besar. Longsoran itu bahkan mengikis dinding sumber di sisi selatan. Agar tak semakin merembet, warga pun secara swadaya membenahi area longsor dengan material seadanya.
“Yang kami bisa usahakan hanya tenaga. Tapi kemarin ada sisa uang kas. Akhirnya kami pakai untuk bikin karung-karung untuk menutup yang longsor,” lanjut warga asli Lingkungan Cakarwesi itu.
Kerusakan pun tak hanya terjadi di titik mata air utama. Melainkan juga di alirannya. Tepat di ujung kawasan sumber yang berbatasan langsung dengan jalur irigasi sawah, terdapat sebuah bendungan yang dibangun beberapa tahun lalu.
“Satu sisinya ini ambrol karena terkikis air. Akhirnya sekarang sudah nggak bisa membendung air di sumber,” terang Pujiono.
Karena bendungan yang sudah tidak berfungsi itulah debit air yang tertampung di Sumber Cakarwesi relatif kecil. Airnya terlampau dangkal. Apalagi saat musim kemarau seperti saat ini.
“Mau disebar benih ikan juga nggak bisa. Karena pasti langsung lolos semua ke sana,” bebernya menunjuk ke arah parit irigasi yang langsung mengalir ke area persawahan.
Oleh sebab itu, paguyuban pengelola kawasan mata air secara swadaya membangun bendungan di dekat mata air. Bendungan itu hanya dari material seadanya. Seperti batu-batuan dan batang pohon.
“Paling tidak air di sumbernya bisa agak tinggi. Biar bisa dipakai mandi anak-anak,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah