Tak pernah pasang tarif pada hasil kerjanya. Berapapun yang diberi pemesan dia terima dengan ikhlas. Karena dia selalu menerapkan pesan dari sang ibu, dadi uwong kudu sing nriman.
Namanya pendek saja, khas orang Jawa, Sugianto. Maknanya kaya. Meskipun, sesuai falsafah orang Jawa, kaya itu tak selalu berarti soal banyak harta.
Ya, karena pria yang biasa disapa Mbah To ini jauh dari kaya harta. Pria yang lahir setahun setelah Indonesia merdeka ini justru sangat bersahaja. Tinggal bersama istri di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, pria beruban ini hanyalah seorang pengrajin miniatur. Yang menjajakan sendiri karya-karyanya.
“Di sini saya kos,” akunya, sambil mengingat tahun kepindahannya, pada 2007 silam.
Tempat kos Mbah To sangatlah sederhana. Di dalam gang sempit di utara RS HVA Toeloengredjo. Di tengah permukiman padat. Yang gangnya tak bisa dilewati mobil.
Di tempat kos yang sempit itulah Mbah To tetap berusaha berkara. Mengerjakan beraga miniatur berbahan bambu. Tempatnya di emperan rumah. Yang penuh dengan potongan bambu. Serta meja kecil yang menjadi tempat peralatan pertukangan. Gergaji, meteran, obeng, tang, peso atau tatah, dan lainnya. Semuanya manual, tak ada yang terhubung dengan listrik.
“Sebenarnya juga kepingin beli. Tapi untuk kebutuhan hari-hari saja masih susah,” ucapnya.
Ya, apa yang dilakukan Mbah To hanya mampu memenuhi makan sehari-hari. Bahkan kadang kurang. Sampai-sampai dia pernah terpaksa menjual peralatannya demi membelikan susu sang cucu.
Mengapa tak meminta anak-anaknya? “Mereka juga punya anak. Harus menyekolahkan. Jadi, nggak enak, nggak mau merepoti,” terang kakek dengan enam cucu ini.
Karena itulah di usia senjanya itu Mbah To tetap ingin berkiprah, berkarya. Apalagi bapak tiga anak ini tak suka berdiam diri. Karena itulah dia terus bergerak agar mampu menghidupi istri dan dirinya. Membayar biaya kos yang mencapai Rp 300 ribu sebulan.
Demi memenuhi hal itu Mbah To harus berkeliling puluhan kilometer. Menjual karyanya dengan mengayuh sepeda. Mulai dari miniatur perahu, barongan, hingga becak. Ditempatkan dalam boks yang ada di boncengan sepedanya.
“Keliling sampai Jombang. Daerah Ploso terus kembali lewat daerah Minggiran Papar,” bebernya. Tapi, rute berkelilingnya itu tak pasti. Bisa saja berubah sewaktu-waktu. Bergantung karyanya cepat terjual atau tidak.
Cerita pahit tak luput dia alami. Saat dirinya beristirahat di salah satu masjid di Desa Sekoto, Kecamatan Badas, karyanya tiba-tiba dihancurkan orang gila. Dia tak bisa berbuat apa-apa, karena pelakunya orang tak waras.
Pernah pula waktu berada di Kecamatan Pagu, karyanya yang dia jual dirusak oleh pemain jaranan. “Ya pas ndadi, tapi yang itu diganti sama orange,” kenangnya.
Berapa Mbah To menjual karyanya? Tak mahal. Miniatur barongan dijualnya mulai Rp 15 ribu. Bila perahu biasanya Rp 50 ribu. Meski demikian, dia pernah menjualnya di harga yang lebih rendah dari itu.
“Ada anak kecil nangis tapi duitnya Rp 10 ribu. Saya kasihkan (miniatur perahu, Red). Tapi temannya yang lain juga minta. Karena yang anak tadi harga Rp 10 ribu, ibunya juga nawar harga segitu. Saya kasihkan,” kisahnya.
Padahal, dalam membuat miniatur tersebut dibutuhkan kejelian dan ketelatenan. Satu kapal bisa dikerjakan hingga satu hari penuh. Tetapi dia hanya menjual dengan harga tersebut.
Dia pun mengaku tidak masalah dengan nominal berapapun yang diberikan pembelinya. “Yang penting saya itu nggak minta-minta,” tuturnya.
Tapi, banyak juga orang baik yang membantunya selama ini. Prinsipnya adalah tidak meminta, sehingga apabila ada orang yang ingin berbaik kepadanya dia tak menolak. Apabila ada orang yang memberi uang dan makanan pun tetap diterimanya. Menurutnya, itulah balasan baginya yang bekerja secara ikhlas.
“Pernah dikasih Rp 50 ribu tapi nggak beli. Ada yang ngasih makanan juga,” ujarnya sambil mengingat-ingat.
Puncaknya, terdapat seorang warga Desa Darungan, Kecamatan Pare yang peduli. Kala itu, sepeda Mbah To bocor. Warga itu pun membantu memperbaiki, dengan gratis.
“Saya difoto bawa dagangan. Terus ditaruh di Google,” jelasnya.
Setelah itu, pesanan pun mulai datang kepada Mbah To. Meski belum terlalu banyak, setidaknya dia tak perlu lagi mengayuh sepedanya puluhan kilometer untuk menjual miniatur hasil karyanya.
“Tapi saya kalau nggak keliling, kaki saya malah aboh (sakit, Red),” kata Mbah To yang saat ini sedang menyelesaikan pesanan kandang kambing.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah