Hingga kini aliran Sumber Ngronggo menghidupi entitas di sekitarnya. Sayang, pengelolaan yang dilakukan perseorangan membuat warga resah. Mereka berharap tempat ini jadi aset kelurahan.
Kolam-kolam pemancingannya berada tepat berdampingan dengan titik mata air. Bahkan hingga kini mata air itu masih sering dimanfaatkan warga setempat untuk mandi hingga mencuci pakaian.
Seperti yang terlihat di salah satu kedung yang juga dibangun oleh warga. Ada bilik sederhana yang dibuat dari bilah-bilah bambu dan terpal. Berada di salah satu titik mata air. Di tempat inilah warga biasanya mandi.
Sayangnya, selama puluhan tahun mata air yang berada di tengah permukiman padat itu memang dikelola secara pribadi oleh seorang warga. Selama ini si pengelola mendapat keuntungan dari usaha pemancingan ikan yang dibuat di kawasan mata air.
“Setiap ada pertemuan warga, orang-orang selalu nggremeng (mengomel, Red),” ujar Putut, warga setempat.
Itu lantaran sudah lebih dari 35 tahun tempat ini dikelola oleh seorang warga setempat, yang berbeda wilayah rukun tetangga (RT) dengan Sumber Ngronggo. Warga ini membuka tempat pemancingan. Lalu menyewakan beberapa kolam.
Idealnya, menurut Putut, sumber air itu bisa dikelola bersama-sama oleh warga setempat melalui kelurahan. Sehingga ada perputaran ekonomi dengan pemerintah kelurahan. Bila seperti itu maka keuntungan dari ‘kapitalisasi’ mata air ini bisa dirasakan oleh semua warga setempat.
“Setahu saya, warga juga menghendakinya jadi objek wisata. Nantikan orang sekitar juga bisa jualan. Semua ikut kecipratan untung,” papar pria paruh baya itu.
Menurutnya, Sumber Ngronggo cukup potensial jika dikelola sebagai tempat wisata. Sebab, tak hanya berupa belik-belik mata air yang merembes saja, melainkan ada dua titik mata air yang memancar deras. Cocok jika dijadikan objek wisata.
“Wah ini mengalir terus airnya. Walaupun kemarau juga tetap deras,” tandas Putut sembari menunjuk titik mata air yang biasa dipakai mandi warga setempat.
Meski masih banyak pohon-pohon besar yang ‘mengepung’ Sumber Ngronggo, namun suasana di sana jauh dari kata singlu atau menyeramkan. Sebab, lokasinya tepat berada di tengah-tengah permukiman padat. Bahkan di sisi timurnya, terdapat kedai-kedai kopi yang nampak selalu ramai pengunjung.
“Sekitar dua tahun lalu kalau nggak salah sudah ada yang mengukur-ukur sini. Tapi kurang tahu dari mana dan untuk apa,” pungkas Putut sembari berharap Sumber Ngronggo bisa dikelola dengan baik sehingga mata air dan ekosistemnya pun tetap lestari.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah