Mereka tak punya struktur organisasi. Tak ada pula donatur yang membiayai kegiatannya. Toh, kumpulan ‘orang-orang gila’ ini mampu menelurkan karya yang positif.
Tongkrongan para pemuda ini jauh dari parlente. Sangat kasual khas anak-anak muda. Bahkan, terkesan seenaknya. Biasa pula nongkrong dan beraktivitas di jalanan.
Tapi, jangan salah kira dulu. Mereka bukanlah anak-anak jalanan yang tanpa tujuan. Karena mereka adalah sekumpulan street artist yang telah menelurkan banyak karya kreatif.
“Berawal dari gabut, kami bikin acara kecil-kecilan. Akhirnya melebar ke BMX, skateboard, komunitas foto analog juga sudah bergabung,” kata Valentino Satria. Pemuda ini adalah salah satu penggagas Sabtu Urban.
Dulu, awalnya, yang berkumpul adalah skena musik rap dan grafiti. Tapi, kini segmentasi Sabtu Urban semakin luas.
Valentino menegaskan, mereka tak melabeli diri sebagai komunitas. Melainkan wadah bagi pegiat seni dan kultur urban. Baik individu atau komunitas. Yang berkumpul dan saling bertukar ide.
Acara yang mereka bikin juga beragam. Dari skala kecil hingga menengah. Mengawali dari pertunjukkan grafiti yang diiringi musik hiphop. Kemudian, pegiat seni dan komunitas lainnya pun tertarik. Dalam empat bulan, semakin banyak pegiat seni dan kultur urban yang bergabung.
Valentino menjuluki perkumpulan pemuda ini sebagai orang-orang ‘gila’ yang dikreasikan. Bagaimana tidak, tanpa pembiayaan yang jelas dan tanpa struktur organisasi yang saklek, mereka tetap bisa melaksanakan berbagai pertunjukan. Artinya, gila bukan sembarang gila. Melainkan orang-orang yang berani berkreasi tanpa takut apapun.
“Prinsip kami memang kalaupun sedikit yang hadir, acara tetap harus berjalan. Dan kami membuka siapapun untuk ikut bergabung,” papar Valen.
“Tema besar kami itu nggak jauh-jauh dari seni dan cara bertahan hidup di lingkup urban atau perkotaan,” urainya.
Selain mewadahi pegiat seni dan kultur urban dalam berkreasi, mereka juga punya tujuan lain. Dalam setiap kegiatannya, selalu diselipi dengan isu-isu sosial. Salah satunya menyuarakan protes terkait sejumlah fasilitas umum (fasum). Yang mereka anggap kurang bisa mewujudkan ruang publik yang aman dan nyaman bagi masyarakat.
“Beberapa fasum itu nggak proper (layak, Red). Seperti arena skateboard di Taman Brantas. Kemiringannya terlalu ekstrem. Makanya kami juga jarang buat acara di sana,” ujarnya mengkritisi.
Akibatnya, ruang publik yang tujuannya untuk pegiat skateboard itu pun jadi beralih fungsinya menjadi tempat bermain anak-anak. Yang tentunya, juga berbahaya jika disandingkan.
Sebagai perkumpulan pemuda yang juga mewadahi seni grafiti, tak jarang mereka berhadapan dengan stigmatisasi. Bahwa seniman grafiti adalah pelaku vandalisme. Sabtu Urban pun telah mengantisipasi itu.
“Street art memang sering dipandang sebelah mata sebagai vandalisme. Memang ada yang seperti itu. Hanya yang kami suarakan di sini, kami hanya mengangkat para seniman yang memang prinsipnya menyokong seni artistik dari street art,” tegasnya.
Tak kurang dari lima bulan, Sabtu Urban sudah bisa menggaet puluhan anak muda. Mereka datang dari beragam segmen seni dan kultur. Setiap sebulan sekali, acara kumpul bersama dan pertunjukkan selalu diagendakan.
Di Sabtu Urban, anak-anak muda ini bisa bebas berkreasi. Sebut saja pegiat musik hiphop, grafiti, skateboard, dance, artwork, hingga BMX.
“Harapannya akan lebih banyak orang-orang ‘gila’ yang semakin berkembang. Kegiatan kitapun harus kontinyu. Meskipun mungkin dampaknya nggak besar, tapi tetap berjalan,” harapnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah