Selama musim kemarau, debit air Sumber Soyo banyak berkurang. Namun alirannya selalu bisa memenuhi kolam-kolam yang diperuntukkan sebagai penangkaran ikan.
Bila berada di sumber air yang ada di Lingkungan Centong, Kelurahan Bawang, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini seperti tak terasa berada di perkotaan. Suasananya sejuk. Dipenuhi pepohonan rindang di sekitarnya.
Pohon-pohon yang tumbuh di area sumber ini batangnya rata-rata besar. Didominasi oleh pohon trembesi yang usianya sudah puluhan tahun.
Apalagi aliran air dari sumber ini kemudian ditampung di beberapa kolam. Yang semuanya terisi ikan beraneka jenis. Mulai wader, tawes, nila, dan kuthuk.
“Hari libur mancing di sini saja sudah senang,” ujar Heri, warga yang tengah memancing di salah satu kolam.
Ya, sumber bernama Sumber Soyo ini memang menjadi tempat pemancingan favorit warga. Tentu saja tidak dikenai biaya karena memang tak ada pengelolanya. Ikannya pun ditebar oleh Pemkot Kediri.
Seperti saat Jawa Pos Radar Kediri mendatangi sumber ini, ada tujuh orang yang duduk di pinggir kolam. Mengaitkan umpan di mata kail. Kemudian menunggu bebrapa saat. Ada tempat ikan di samping mereka. Menjadi wadah bila kail mereka mendapat mangsa. Kebanyakan ikan wader dan tawes yang para pemancing itu dapatkan.
Soni, seorang warga, menerangkan bila dahulu pemanfaatan Sumber Soyo lebih beragam. Keberadaannya penting dalam menunjang kehidupan warga sekitar. Khususnya petani yang berada di hilir aliran mata air.
“Ini kalau airnya deras bisa sampai ke (Kelurahan) Betet. Dulu juga orang sana yang sering selamatan di sini setiap Sura. Karena petani sana yang sering pakai airnya untuk irigasi,” terang Soni.
Konon, kata Soni, penamaan Sumber Soyo juga diambil dari kultur para petani. Menurutnya, sumber ini dulu ditemukan oleh para petani yang gotong-royong membersihkan lingkungan itu. Dalam bahasa Jawa, soyo itu bermakna gotong-royong.
“Sekarang nggak ada yang merawat. Sudah punya air (sumur bor, Red) sendiri-sendiri,” lanjutnya.
Ya, kondisi kolam memang terlihat tak terawat. Lumut banyak muncul di sana-sini. Membuat air kolam terlihat hijau.
Soni melanjutkan, dulu mata air itu juga jadi tempat penampungan dan penyembuhan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Seorang kiai-lah yang merawat para ODGJ itu. Sekaligus merawat mata air selama berpuluh-puluh tahun.
“Dulu banyak (pasien ODGJ, Red). Tapi terus kiainya wafat. Sempat ada yang meneruskan tapi sekarang sudah nggak ada,” tambahnya.
Puluhan pasien itu menurutnya tidak dalam satu waktu yang bersamaan. Melainkan pasien sering datang dan pergi. Di sana, kiai –yang disebutnya sebagai Pak Bur—mengobati para pasien ODGJ. Salah satunya dengan menggunakan air dari Sumber Soyo.
“Beliau juga yang membangun musala yang di atas sumber itu. Tinggalnya juga di sini,” tandasnya sembari menunjuk bangunan bekas rumah di pinggir kolam ikan yang kini terbengkalai.
Kawasan Sumber Soyo memang sudah dibangun dan direhab di sejumlah bagian. Beberapa bulan yang lalu bahkan telah diresmikan oleh Wali Kota Kediri. Bangunan pinggiran kolamnya sudah dicor. Pun dengan kolam renang yang telah dibangun namun belum beroperasi.
“Kemarin loh sudah dibangun pakai dana Prodamas. Cuma sekarang nggak ada yang merawat,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah