Pemberitaan selebgram perempuan mendapat KDRT suaminya sempat heboh di Kediri. Penyebabnya, ia memergoki pasangannya ternyata gay. Dari sudut pandang psikolog, banyak faktor yang menjadi penyebab.
“Jika berbicara tentang gay, itu adalah orientasi seksual laki-laki menyukai laki-laki. Hal tersebut adalah orientasi seksual yang tak sesuai,” terang Psikolog Klinis Tatik Imadatus Sa’adati.
Orientasi seksual tidak sesuai ini sebenarnya juga terjadi pada perempuan yang juga menyukai perempuan. Istilah umumnya adalah LGBT, lesbian, gay, bisexual dan transgender.
Kepada Jawa Pos Radar Kediri, Tatik menjelaskan bahwa banyak faktor yang menyebabkan seseorang memilih jalan tersebut. Jika secara hormonal, dalam kondisi ini mengarah ke pertumbuhan atau perkembangan genitalnya dan seks. Hal tersebut membuat seseorang mempunyai perasaan orientasi seksual sesama jenis.
“Penyebab lainnya bisa diakibatkan traumatik masa lalu dari pengasuh, kekerasan saat kecil sehingga membuat tidak nyaman dengan pemahaman peran,” imbuhnya. Tidak hanya itu, penyebab dikarenakan pelecehan seksual. Sehingga banyak yang menjadi faktor seseorang menjadi gay.
Penyimpangan perkembangan seksual juga bisa terjadi karena proses pengasuhan yang tidak semestinya, sehingga terjadi proses identifikasi peran seksual yang menyimpang. Misalnya seorang anak laki-laki yang hanya diasuh oleh ibunya saja. Karena sejak kecil sangat dekat dengan ibunya, sehingga terjadi proses identifikasi dirinya terhadap ibunya.
Dan hal tersebut mempengaruhi perkembangan sensasi seksualnya, sebaliknya juga bisa terjadi pada anak perempuan yang hanya diasuh oleh ayahnya saja. Ada juga suatu kasus yang ayahnya sangat keras dan si anak laki-laki ini sering menjadi korban kemarahan sang ayah.
Berikutnya, anak ini selalu dihibur oleh si ibu yang lemah lembut penuh kasih sayang, sehingga pada dirinya terjadi proses identifikasi secara seksual terhadap ibu sebagai figur perempuan. Akhirnya, ia lebih suka bersikap seperti perempuan yang menjadikan dirinya semenjak remaja secara seksual tertarik kepada sesama laki-laki.
“Untuk dapat kembali kalau saya kurang yakin,” kata Dosen Psikolog IAIN tersebut. Sebab banyak faktor yang mempu mendorong proses kembali tersebut. Salah satunya adalah kesadaran dan kemauan untuk sembuh, walau harus melalui proses perlawanan batin yang tidak mudah. Kesadaran akan nilai, baik nilai moral maupun agama, dapat menjadi titik tolak keinginan untuk sembuh.
Proses kesembuhan itu juga bisa cepat tercapai bila didukung oleh lingkungan terdekatnya yang memahami permasalahan dirinya.
Perlu Refleksi, Lewati Lima Tahapan Terima Kedukaan
Mengetahui suami berselingkuh pasti bukan hal yang menyenangkan. Terutama yang menjadi selingkuhan adalah laki-laki. Dalam banyak kasus sampai menyebabkan trauma. “Secara umum saat mengetahui pasangannya berselingkuh dengan sesama jenis atau lawan jenis, yang perlu dilakukan adalah melakukan refleksi tentang apa yang terjadi,” terang Psikolog Klinis Tatik Imadatus Sa’adati.
Dia menjelaskan, setiap orang memiliki lima tahapan grieving atau menerima kedukaan. Dari lima fase tersebut, akan diawali dengan masa penolakan atau denial. Tahapan pertama ini adalah reaksi yang amat normal.
Penyangkalan sebenarnya cara yang sehat untuk menangani situasi yang tidak nyaman dan menyakitkan. Penyangkalan ini berfungsi sebagai reaksi penyangga atau pertahanan sementara setelah datangnya berita yang mengejutkan dan tidak terduga. Sehingga setelahnya bisa menenangkan diri dan bertahan untuk menghadapi kehidupan berikutnya.
“Kemudian tahapan kedua adalah marah, dalam proses kehilangan merasa marah adalah suatu hal yang wajar,” imbuhnya.
Saat proses penyesuaian dari keadaan sedih memang bukan hal yang mudah. Individu meluapkan kekesalannya dengan kemarahan, berbicara dengan nada yang tinggi, mengeluh, menyalahkan keadaan dengan emosi yang meluap luap.
Perasaan yang intens memungkinkan kita kurang dapat berpikir secara rasional. Namun, setelah kemarahan mereda, kamu bisa berpikir lebih rasional mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan merasakan emosi-emosi lain yang selama ini tersingkir oleh rasa marah.
Tahapan ketiga adalah menawar atau bargaining. Dalam tahapan ini , seseorang akan menawar dan mengandai-andai, mungkin kita berpikir, “seandainya saja saya mencari pertolongan dokter lebih cepat”, atau “andai saja saya tidak terlalu sibuk, mungkin pasangan saya tidak akan pergi”.
Masih kata perempuan asal Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri ini, tahapan ketiga adalah depresi. Selama proses berduka, ada saatnya emosimu mulai mereda dan kini harus benar-benar melihat kenyataan yang terjadi. Pada tahapan depresi, kamu mungkin terpaksa menghadapi situasi sulit tersebut dan mengalami kesedihan serta kebingungan yang mendalam. Kamu mungkin menjauhkan diri dari orang lain untuk dapat mengatasi duka tersebut. Namun bila kamu merasa sangat sedih, tidak berdaya, dan tidak dapat melewati tahap ini, bicarakan dengan orang-orang terdekat atau psikolog. “Dan tahapan terakhir adalah penerimaan atau acceptance,” kata Tatik.
Dalam tahapan terakhir ini, seseorang akhirnya bisa berdamai dengan kedukaan dan dapat menerima kenyataan yang sudah terjadi. Rasa sakit seolah-olah telah hilang, namun individu di tahap ini tetap mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman terdekat. Karena pada proses ini kita mulai belajar untuk menjalani hidup baru dengan situasi yang baru.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah