Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ternyata Ada Mata Air Sumber Banteng Kota Kediri yang Hilang, Kok Bisa?

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 17 Juli 2023 | 18:25 WIB

 

EROSI: Sudarsono menunjukkan mata iar di Sumber Gua yang hilang karena tergerus erosi. Suara aliran air masih terdengar dari titik mata air itu.
EROSI: Sudarsono menunjukkan mata iar di Sumber Gua yang hilang karena tergerus erosi. Suara aliran air masih terdengar dari titik mata air itu.

Ada tiga mata air utama di Sumber Banteng. Sayang, salah satunya nyaris hilang karena tertutup reruntuhan gua. Pengelola pun mencari cara agar mata air itu tak tinggal nama.

Sumber Banteng tak hanya ‘dihidupi’ oleh satu mata air saja. Di kawasan ini bahkan ada tiga titik sumber. Salah satunya berada di lokasi yang paling terpencil.

Untuk menuju ke mata air yang ini juga perlu perjuangan tersendiri. Harus melewati rerimbunan pohon dan semak belukar. Lokasinya berada di dalam gua. Karena itulah oleh warga sekitar disebut dengan Sumber Gua.

Penyebutan itu memang tak salah. Mata airnya memang memancar dari tebing kecil yang membentuk gua. Namun sayangnya, saat Jawa Pos Radar Kediri mengunjungi Sumber Gua beberapa waktu lalu, tebing itu telah hilang.

“Sudah lama tanahnya ambrol karena erosi,” terabg Ketua Pokdarwis Sumber Banteng Sudarsono.

Ketika masih belum tergerus erosi, gua tempat sumber ini memancar bentuknya memanjang. Sayang, belum pernah ada orang yang mencoba menembusnya. Karena itu, hingga gua hancur, tak ada warga yang tahu sepanjang apa tempat tersebut.

Yang pasti, mata air masih memancar dari tempat itu. Bahkan, hingga saat mulut gua sudah ambrol, masih terdengar suara gemericik air mengalir dari dinding gua.

“Dulu ada yang pernah masuk ke gua. Tapi nggak berani sampai dalam,” tambahnya.

Mata air yang diapit pohon-pohon besar seperti beringin dan abar itu erosi karena beberapa penyebab. Darsono mengatakan erosi disebabkan oleh hujan dan aktivitas pertanian di atasnya.

Sedangkan Sumber Gua sendiri berada di tengah-tengah dua pohon beringin yang diameternya mencapai hampir satu meter. Keberadaan akar tanaman itu yang memungkinkan mata air tetap mengalir dari sana.

Pengelola kawasan itu menyadari jika terus dibiarkan, erosi bisa sewaktu-waktu terjadi kembali. Ancaman terbesarnya, mata air bisa berhenti mengalirkan air. Untuk itu, kelompok yang sedikitnya beranggotakan 15 orang itu bersama-sama menjaga kelestarian titik mata air yang jarang dikunjungi orang itu.

“Di sepanjang alirannya kita tanami pohon-pohon penghasil air. Seperti Pohon aren, kaliandra, sama pule,” papar Darsono.

Menurut Darsono, tanaman-tanaman itu merupakan tanaman pelindung mata air yang baik bila ditanam di sekitar sumber. Dengan itu, setidaknya potensi erosi juga bisa ditekan.

“Tapi masih segini,” ucapnya tertawa sembari menunjuk tanaman aren yang tingginya belum melebihi tiga meter.

Upaya konservasi itu dilakukan pengelola lantaran air dari Sumber Gua cukup esensial dalam mengairi lingkungan sekitar. Sebagaimana dua titik mata air lainnya di sana, aliran airnya menuju Kali Kandang yang melewati area pertanian warga sekitar.

“Ini nanti rencananya sebagian kita alirkan ke sendang yang masih dalam tahap pembangunan ini. Tapi sebelumnya kami saring dulu dengan melewati tiga undakan,” ujarnya menerangkan gambaran pembangunan yang sedang dalam tahap pengerjaan.

Selain mengangkat unsur alam, aspek budaya juga akan ditonjolkan. Salah satunya dengan membuat sendang bergaya ala zaman Kerajaan Kediri yang airnya ditampung dari Sumber Gua.

“Terkadang air masih bercampur lumpur. Jadi dengan disaring itu, nanti sampai sendang sudah jernih,” tambahnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#wisata #hidden gem #wisata alam #sumber air