Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Kegemukan Sulit Diatasi dengan Diet dan Olahraga, Ini Penjelasan Dokter

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 14 Juli 2023 | 17:31 WIB
Photo
Photo

Operasi bariatric akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Terutama setelah artis dan penyanyi Melly Goeslaw melakukannya. Ini adalah metode untuk melawan obesitas dengan memotong sebagian lambung. Apa semua orang bisa melakukannya?

Banyak cara dilakukan untuk menurunkan berat badan. Salah satu metode yang kini jadi perbincangan adalah operasi bariatric. "Ini adalah operasi untuk penurunan berat badan," terang Dokter Bedah Umum RUSD SLG  Kediri Norman Hadi.

Dia menjelaskan, operasi bariatric biasanya dilakukan pada penderita obesitas yang sulit diatasi hanya dengan diet dan olahraga. Obesitas atau kelebihan berat badan merupakan masalah kesehatan serius yang dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit berbahaya, seperti penyakit jantung dan stroke.

Pada penderita obesitas yang terancam gangguan kesehatan dan tidak berhasil menurunkan berat badan setelah mencoba olahraga rutin, diet, atau mengonsumsi obat-obatan, dokter mungkin akan menyarankan operasi bariatrik. "Bedah bariatrik masih jarang dilakukan di negara kita karena orang dengan kelebihan berat badan masih sedikit," imbuhnya.

Berdasarkan data, berat badan 200 kilogram (kg) lebih di Indonesia ini masih sedikit. IMT orang tersebut harus di atas 30 sebagai indikasi ia perlu menjalani bedah bariatric.

Pertimbangan lain untuk melakukan operasi adalah pasien belum IMT 3 dengan penyakit-penyakit penyerta, seperti jantung, diabetes melitus, hiperlipidemia, kelebihan lemak dalam darah, asma, dan hiperkolesterolemia.

"Semua indikasi itu sudah memenuhi syarat untuk dilakukan bariatric surgery," kata Norman.

Saat ini ada dua jenis bedah bariatric. Yaitu yang sifatnya reversible dan sebaliknya yang sifatnya irreversible. Yang masuk ke golongan reversible adalah metode gastric banding, di mana leher lambung akan diikat memakai band atau pita atau selang kecil yang terhubung ke pompa kecil yang ditanam bawah kulit.

Di pompa itu akan disuntikkan cairan steril menuju pita, dan pita bakal mengembang sehingga ‘mencekik’ leher lambung. Akibatnya, pasien akan menjadi cepat kenyang karena terbentuk lambung baru yang ukurannya lebih kecil. Sedangkan pembedahan tetap atau irreversible dilakukan dengan cara memotong lambung dan rekonstruksi saluran pencernaan. Saluran pencernaan sangat perlu dilakukan agar terjadinya adaptasi lambung yang mengakibatkan berat badan kembali naik di kemudian hari bisa dicegah.

Setelah menjalani operasi bedah bariatrik, pasien juga harus mau mengubah gaya hidup, disertai dengan kesadaran dan kedisiplinan. Pasien yang menjalani operasi bedah bariatric juga harus mau menjalani sesi konsultasi ke ahli gizi. "Setelah melakukan operasi, bisa kembali melakukan aktivitasnya empat hingga enam minggu," ungkap dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini.

Meski sudah kembali melakukan aktivitas, disarankan tidak melakukan aktivitas yang berat. Untuk dapat kembali pulih dengan cepat pascaoperasi, dimulai puasa sekitar dua hari kemudian diet cair dan naik secara gradual seperti susu, bubur kemudian  nantinya naik menjadi makanan sedikit lebih padat. Disarankan saat makan, diselingi dengan minum. Kandungan makanan usahakan tinggi protein, rendah minyak, dan gula.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#olahraga #diet #dokter #kegemukan