Berhimpun bersama, Komunitas Pare Foto Hore sepakat untuk tak eksklusif. Jadi wadah belajar, semua kegiatan dilandaskan pada spirit berbagi kebahagiaan dan ilmu. Sekaligus ‘memasarkan’ Pare lewat foto-foto yang mereka bidik.
Sekelompok pemuda berjalan menyusuri sudut Kota Pare, para suatu sore, Mei silam. Memakai kaus oblong dengan topi trucker di kepala, sebagian lain melekatkan kemeja flanel di badannya, mereka berjalan santai. Mengamati berbagai objek yang ada di sekitarnya.
Begitu mendapati hal yang menarik, sejumlah anak muda ini langsung berhenti sejenak. Kamera yang sedari tadi dipegang di tangan langsung disiagakan. Dibidiknya objek incaran dengan lekat melalui view finder. Jepret! Tombol shutter ditekan. Jepret! Ditekan lagi seakan kurang puas dengan hasil foto pertama.
Para pemuda yang sibuk memotret itu tergabung dalam sebuah komunitas. Pare Foto Hore namanya. Sebuah komunitas kolektif fotografi yang memiliki misi untuk mengenalkan Kota Pare. “Kami ingin mengenalkan kembali skena foto yang ada di Pare,” ujar Koordinator Pare Foto Hore M. Giffari Alfan Shidqi.
Komunitas ini menyelipkan diksi ‘hore’ sebagai bagian dari nama mereka. Penamaan ini bukannya tanpa alasan yang jelas. Ada filosofi di belakangnya. Mereka meyakini, semua yang dilakukan harus dilandaskan rasa bahagia. Bersenang-senang bersama.
Semangat itu juga yang membuat mereka tidak ingin terkotak-kotakkan. Semua yang tergabung dalam Pare Foto Hore dibebaskan untuk menggunakan kamera jenis apa saja. Entah itu DSLR, mirrorles, pocket, analog, maupun smartphone. “Yang penting sama-sama hunting,” lanjut pria yang akrab disapa Fafan tersebut.
Tidak seperti komunitas fotografi lain yang eksklusif. Mereka justru ingin membuang kesan tersebut jauh-jauh. Makanya, tidak ada sekat maupun aturan yang mengatur terkait penggunaan jenis kamera.
Untuk hunting, komunitas yang telah ada sejak akhir tahun 2021 ini rutin mengadakan setiap satu bulan sekali. Biasanya, mereka akan menyusuri sudut Kota Pare yang dirasa ikonik. Baik dari sisi fotografi maupun sejarah di belakangnya.
Total ada 71 anggota komunitas ini. Namun, dalam setiap agenda hunting memang tidak bisa semuanya terjun bersamaan. Karena kendala waktu dan pekerjaan masing-masing. “Di luar agenda hunting, kami juga rutin untuk sharing bersama,” tutur pria 27 tahun tersebut.
Agenda belajar bareng merupakan salah satu acara rutin bagi komunitas. Hal itu sesuai tujuan pembentukannya. Jadi wadah bertukar ilmu bagi pecinta fotografi. Acaranya pun dibuat gratis untuk umum. Tidak hanya anggota komunitas saja.
“Kami juga rutin membuat pameran karya dari teman-teman komunitas,” tutur pria asal Desa Pelem, Kecamatan Pare tersebut. Jika awalnya hanya fokus di dunia fotografi, kini mereka mulai mengembangkan sayap. Menggandeng beberapa komunitas lain untuk hunting bersama. Seperti berkolaborasi dengan komunitas pecinta sejarah.
Sinergi tersebut berhasil membawa semangat baru. Tidak sekadar mengabadikan gambar semata. Tetapi mereka juga bisa mengetahui sejarahnya. Hal itu diakui bisa menambah nilai foto. Lebih dari itu, mereka juga mendapatkan wawasan tambahan. “Teman-teman antusias dengan kolaborasi semacam ini. Kami jadi belajar banyak hal,” paparnya.
Meski menyandang nama Pare, mereka tidak membatasi anggota dari luar. Bahkan, tidak sedikit pelajar dari Kampung Inggris Pare juga ikut acara hunting mereka. “Kami justru senang kalau skena fotografi Pare bisa semakin banyak lagi,” tandas Fafan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah