Bagi anggota komunitas ini, mobil buatan Jerman ini sangat memikat hati. Tak hanya bentuknya yang menarik, mesinnya pun tergolong bandel. Asal perawatannya bagus, yang usia tua pun masih enak dikendarai.
Derung mobil terdengar kencang. Asalnya dari halaman salah satu rumah di Desa Turus, Kecamatan Gurah. Tempat mobil berbodi bulat seperti kodok tengah diservis. Suara menderung itu keluar dari kenalpot mobil berwarna merah.
Suara bising yang dikeluarkan berbeda dengan yang muncul dari mobil-mobil saat ini. Lebih kencang dan terkesan gahar.
“Sebab mobil ini tidak menggunakan air (sebagai pendingin) seperti mobil saat ini,” kata Subagiyo. Lelaki 48 tahun ini adalah pemilik rumah yang sekaligus menjadi bengkel mobil, khususnya yang bermerek VW, kependekan dari Volkswagen.
Ya, mobil VW memang khas. Kendaraan ini tak menggunakan radiator sebagai pendingin mesin. Tapi mengandalkan udara langsung sebagai pendingin. Jadi, tentu saja tak butuh air.
Yang berbeda lagi, mesin mobil VW letaknya di bagian belakang. Tidak di depan seperti mobil masa kini.
Di halaman rumah Subagiyo, saat itu, terparkir banyak mobil VW. Beraneka jenis pula. Ada yang berbentuk bulat seperti kodok yang biasa disebut VW kodok. Mobil VW jenis ini punya nama asli Beetle. Seperti yang tengah direparasi, yang memunculkan suara menderung keras, satu VW kodok warna merah.
“Itu keluaran 1974 model yang 1.300,” terangnya.
Ada pula yang model tanpa atap, mirip jip. Namanya, VW Safari. Atau, sebagian menyebutnya VW camat. Kalau aslinya adalah VW type 181/182 Kurierwagen. Mobil ini awalnya untuk keperluan militer.
Dan, yang paling populer adalah VW Kombi. Model yang mirip minibus itu punya nama teknis Volkswagen type 2 dengan nama panjangnya Kombinationskraftwagen.
“Mobil-mobil itu milik anggota Kediri VW Club. Sedang diperbaiki,” terangnya.
Komunitas ini anggotanya puluhan. Dari berbagai profesi dan kalangan. Termasuk pula Subagiyo. Yang punya mobil VW Beetle warna biru keluaran 1974 model 1.200.
“Saya baru bergabung 1997,” terangnya.
Komunitas ini sudah berdiri sejak 1991. Artinya, usianya sudah 30 tahun lebih. Menariknya, anggota generasi pertama sudah hampir tidak ada. “Anggota yang sekarang ini mungkin pada tahun segitu belum kenal VW,” ujarnya sambil tertawa.
Pada saat bergabung dulu, Subagiyo juga belum punya kendaraan sendiri. Dia masuk sebagai teknisi. Kemudian dia beli bodi mobil yang sudah rusak. Dia perbaiki sendiri hingga bisa jalan hingga sekarang.
Memang, pada tahun-tahun itu penghobi VW masih banyak, booming. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun suka melihat bodi mobil antik itu. Ketenarannya juga tetap terjaga meskipun berbagai merek mobil mengeluarkan model baru.
Mungkin, yang membuat trennya menurun adalah soal harga bahan bakar minyak (BBM). Ketika harga bensin naik menjadi Rp 5 ribu pada saat itu, jumlah penghobi sedikit menurun.
Soal aktivitas, Kediri VW Club tergolong aktif. Dulu, hampir dua bulan sekali mereka touring. Kini, hanya bila ada event-event besar saja. Terutama di saat peringatan ulang tahun klub.
Touring tak hanya rute luar kota saja. Juga hingga luar pulau. Salah satu yang paling berkesan bagi Subagiyo adalah ketika touring di Simpang Lima Semarang. Pada event yang berlangsung pada 2000 itu, ada kendala yang menimpa salah satu mobil anggota KVC. Meskipun sebelumnya sudah dipersiapkan dengan servis dan pengecekan kelistrikan hingga kaki-kaki, ternyata masih saja muncul masalah. Ada satu mobil yang mengalami kerusakan mesin yang parah. Membuat kru teknisi harus pulang ke Kediri mengambil mesin pengganti.
“Sebelum mogok, pemilik mobil sudah diberi tahu kalau metal-metalnya masih reyen (kondisi baru yang perlu penyesuaian pemakaian, Red),” ungkap laki-laki kelahiran 1975 ini.
Biasanya, bila masih reyen, mobil tak boleh untuk lari kencang. Tapi, saat touring itu, oleh sang pemilik, mobil VW itu digunakan adu balap dengan bus! Akibatnya, ketika sampai Solo mesin mobil jebol!
Kejadian itu jadi pelajaran berharga bagi para anggota komunitas. Yaitu, selalu membawa mesin cadangan ketika touring. Terutama yang jaraknya jauh. Mesin itu, dan peralatan lain, dinaikkan ke pikap. Bersama dengan tim mekanik.
“Jadi kalau mogok langsung diganti mesinnya,” sambung Sukamto, 44, sang ketua KVC.
Dari semua event itu, menurut Sukamto, paling rutin yang digelar dua tahun sekali. Lokasinya di Jogjakarta. Pesertanya tak hanya dari Indonesia, juga dari luar negeri.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah