Banyak yang menganggap minor peran pustakawan. Dianggap hanya sebagai penunggu perpustakaan. Padahal, banyak pekerjaan besar yang harus mereka lakukan. Hingga setiap 7 Juli diperingati sebagai Hari Pustakawan Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri. Masyarakat luas masih banyak yang belum memahami pekerjaan seorang pustakawan. Mayoritas hanya tahu, pustakawaan kerjanya sebatas menunggu atau menata buku di perpustakaan. Padahal, stigma ini salah besar. Pustakawan memiliki tugas dan tanggung jawab lebih dari itu.
Anggapan miring ini masih dengan mudah ditemukan di lapangan. Seperti halnya M. Zaelani, 27, pemuda yang sedang belajar di Kampung Inggris Pare. Pria asal Jogjakarta tersebut mengaku hanya mengetahui pekerjaan seorang pustakawan sebatas permukaan saja.
“Iya, tahu (pustakawan). Orang yang bekerja di perpustakaan,” ujar Zaelani saat ditanya oleh Jawa Pos Radar Kediri kemarin.
Pipit mengatakan, tidak semua pemustaka atau peminjam buku memiliki kesadaran untuk merawat buku. Meskipun pihaknya selalu mengingatkan, tetap saja ada anak yang mengembalikan buku dengan kondisi rusak. Entah itu sobek, kusut, atau bahkan protol.
Sebagai pustakawan yang telah bekerja di sana sejak 2012 silam, hal semacam ini selalu membuatnya kesal. Bukan karena apa. Dia sangat menyayangkan pemustaka yang tidak disiplin. Hal ini menunjukkan mereka tidak bertanggungjawab.
“Gemas rasanya,” akunya.
Hanya saja, kondisi semacam ini tidak selalu terjadi setiap waktu. Dari 10 pemustaka, mungkin hanya 1-2 yang bermasalah. Begitu pula yang tidak mengembalikan buku. Entah apa pun alasannya.
“Ada yang seperti itu, tapi ya tidak banyak,” ungkap Pipit.
Kondisi buku yang rusak tentu akan menjadi tanggung jawab pustakawan untuk melakukan perbaikan. Pasalnya, sebelum buku siap untuk dipinjam kembali harus diperbaiki dahulu. Sehingga kerusakan yang lebih fatal dapat terhindarkan ke depannya.
Namun begitu, Pipit mengaku bahwa sering mendapati pemustaka yang telaten dengan buku pinjamannya. Bahkan, ada beberapa anak yang dengan sadar mengembalikan buku sebelum jatuh tempo.
“Kadang saya beri apresiasi karena sudah tertib. Sebagai bentuk reward saja,” tutur alumnus SMPN 4 Pare tersebut.
Sementara itu, pustakawan diyakini juga harus mampu meningkatkan minat baca atau literasi di sekitarnya. Terlebih, sekarang tantangannya semakin besar. Dengan adanya gempuran teknologi. Banyak anak yang kini menjadi kecanduan dengan gawai.
“Ini juga tantangannya pustakawan sekarang. Kami juga dituntut untuk menarik minat baca dari masyarakat,” ucap Zaky Yahya, 22, mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam.
Menurut Zaky, rendahnya minat baca tersebut juga disumbang karena tingginya penggunaan gawai di tingkat anak-anak. Sehingga kecenderungan atau kebiasaan membaca lewat buku fisik menjadi menurun. “Efek pandemi kemarin juga membuat tren atau minat baca ke perpustakaan jadi berkurang,” tandas Zaky.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah