Akhir-akhir ini hubungan inses sedang jadi topik yang banyak diperbincangkan. Fenomena hubungan sedarah tersebut ternyata masih terjadi di masyarakat. Pendekatan kepada pihak terkait penting agar kasus itu tak makin meningkat.
Inses merupakan istilah untuk menggambarkan hubungan seksual antara anggota keluarga yang memiliki hubungan darah dekat. Bisa terjadi pada orang tua dan anak atau saudara kandung. Tidak hanya melanggar norma, perbuatan ini juga ditentang agama.
“Secara psikologis terdapat istilah yang bernama konasi,” terang Psikolog Klinis Tatik Imadatus Sa’adti. Konasi adalah suatu hal dalam jiwa yang mengatur tentang hasrat. Mulai hasrat seksualitas, tidur, hingga makan dan minum.
Ia menjelaskan, jika ada seseorang melampiaskan atau menyalurkan hasratnya dilakukan sesuai dengan insting. Sebab, manusia memiliki otak berisi pengetahuan. Itulah yang mengontrol hasrat seksual tersebut.
Ketika menemui kasus seperti ini, ada insting dalam manusia tersebut. Namun salah dalam penyalurannya. Bisa tidak tepat secara waktu dan juga pasangannya. “Semua orang memiliki hasrat konasi, namun ukurannya ini dipengaruhi oleh kemampuan seseorang memilih dan memilah dari pengetahuan yang didapatkannya,” ungkap Tatik.
Tak hanya itu, terdapat beberapa faktor yang menjadi pemicu hubungan inses. Pertama, seseorang yang mengalami kelainan seksual, memiliki kepribadian terkait persoalan tersendiri dengan memiliki ciri-ciri sikap tertutup, tidak berani berbicara, tidak banyak berkomunikasi dan memiliki rasa percaya diri rendah.
Selain itu, faktor permasalahan ekonomi dan lingkungan. Sebagai contoh, saat seseorang percaya dukun yang memberi arahan melakukan hal tersebut untuk bertujuan memperkaya diri. Adapun contoh faktor lingkungan seperti saat seseorang salah menyikapi dalam menonton pornografi dan pasangannya tidak dapat memenuhi kebutuhannya dan mencari pelampiasan terhadap orang yang tidak tepat.
Dilihat dalam perspektif norma sosial, hukum, agama, dan sains, persetubuhan orang tua dan anak tidak benar dan menyimpang. Oleh karena itu, hampir dapat dipastikan baik orangtua maupun anak dewasa menyadari perilaku tersebut salah.
Kecuali bila individu bersangkutan mengalami masalah kesehatan mental tertentu yang berdampak pada disfungsi kognitif. Namun, untuk menjawab apa faktor yang menyebabkan persetubuhan inses ini berlangsung sekian lama, perlu diteliti secara mendalam.
“Hal ini perlu diteliti mendalam secara lebih lanjut. Beberapa hal yang perlu diperiksa antara lain, apakah ada paksaan, ancaman, ataupun manipulasi emosional yang mengakibatkan perilaku tersebut,” papar Tatik.
Inses juga membawa dampak bagi anak, khususnya kondisi psikologisnya. Bahkan, kejadian ini berpotensi membawa masalah dalam hubungan dengan pasangan sang anak nanti. Misalnya, trauma, harga diri rendah, putus asa dengan masa depan, masalah kepercayaan diri, dan sebagainya.
“Untuk itu perlu mendapatkan penanganan dan pendampingan psikologis segera oleh psikolog klinis agar membantunya menghadapi dan memproses yang terjadi sehingga tidak berdampak lebih buruk,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah