Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bahaya Stres yang Berujung Bunuh Diri, Ini Penjelasan Psikolog

Habibaham Anisa Muktiara • Selasa, 27 Juni 2023 | 17:57 WIB
caption

Kasus bunuh diri di Kediri cukup tinggi. Salah satunya seorang laki-laki nekat melompat dari jembatan. Kejadian serupa juga terjadi di daerah lain. Bagaimana tanggapan psikolog tentang fenomena tersebut.

"Dari aspek psikologis, orang yang mengambil langkah bunuh diri sebetulnya tidak terjadi secara tiba-tiba,” jelas Psikolog Vivi Rosdiana. Sebab ada perjalanan psikologis dari orang tersebut, dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya.

Saat seseorang memilih bunuh diri, dalam benak mereka berpikir bahwa perbuatannya tersebut adalah cara untuk mengakhiri permasalahannya. Dalam pikiran seseorang yang bunuh diri, mereka ingin mengakhiri permasalahan, namun dengan cara yang salah.  

Ternyata sebelum seseorang melakukan ekskusi, sebelumnya sudah terdapat riwayat melakukan percobaan bunuh diri. Penyebab keinginan bunuh diri ini diawali adanya permasalahan hidup. Sayangnya permasalahan tersebut tidak terakomodasi, hingga tidak terselesaikan. Sehingga akhirnya menjadi menumpuk, dan menyebabkan stres.

Berdasarkan ilmu psikologi, stress terdapat tingkatannya. Mulai dari tingkatan rendah, menengah, hingga berat. Akumulasi seseorang tidak dapat mengurai, menyelesaikan, hingga menuntaskan masalahnya dapat menjadi tumpukan-tumpukan stres yang berakhir dengan depresi. “Sehingga bunuh diri bukan untuk mengakhiri hidupnya, namun melainkan mengakhiri penderitaan karena beban atau tekanan dalam hidupnya,” imbuhnya.

Sama seperti seseorang terkana penyakit, orang yang hendak melakukan bunuh diri juga ada tanda-tandanya. Pertama adalah perubahan mood yang drastis. Salah satu contohnya orang yang semulanya ceria, suka menyapa dan humble kemudian menjadi berubah. Namun perubahan tersebut berlangsung lama.

Perubahan mood yang terjadi dengan cepat, membuat seseoran tersebut juga akan mudah merasa cemas, menangis tiba-tiba, kehilangan semangat hidup, menjadi agresif, hingga merasa lelah atau letih berlebihan.“Jika tergolong berat, perubahan tersebut akan terjadi hingga beberapa hari dan minggu,” kata Vivi.

Tidak hanya perubahan perilaku, namun juga perubahan fisik. Perubahan fisik ini biasanya terlihat pada berat badan, seperti menjadi sangat kurus atau menjadi sangat gemuk. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh perubahan pola makan yang ekstrem.

Kasus bunuh diri tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja, namun juga dapat terjadi pada remaja hingga anak-anak. Sehingga saat mengetahui gejala-gejala tersebut, sebagai orang sekitarnya agar lebih peduli. Karena itu bisa jadi menyelamatkan nyawa mereka untuk  melakukan tindakan yang ekstrem. Salah satunya adalah bunuh diri.

Mencegah dengan Ubah Pola Aktivitas
Saat seseorang tidak bisa mengurai atau  menyelesaikan masalah yang dihadapinya, dari aspek psikologis, untuk menguranginya adalah dengan bercerita. “Saat orang sedang bertemu dengan teman atu sahabat, mereka akan melakukan sharing atau curhat,” terang Psikolog Vivi Rosdiana.

Menurutnya, segi positif dari hal tersebut adalah seseorang dapat mengeluarkan unek-uneknya, self healing, hingga berbagi cerita. Suatu hal yang terlihat kecil seperti itu, rupanya sangat bermanfaat. “Dalam bahasa awamnya untuk mengeluarkan sampah pada dirinya, yang menyebabkan tidak nyaman,” imbuhnya.

Ketika semua keluh kesah tersebut dapat dikeluarkan, seolah tangki permasalahan hidup pada seseorang tersebut menjadi kosong atau berkurang. Sehingga saat ada masalah baru akan masih bisa tertampung dengan baik oleh dirinya.

Sebagai orang terdekat, selain menjadi pendegar yang baik. Ada beberapa hal pencegahan yang bisa dilakukan, untuk mencegah seseorang untuk melakukan bunuh diri. Salah satunya adalah agar keluarga, kerabat, pasangan ataupun teman dengan orang yang mengalami gejala depresi tersebut bisa memberikan empati, semangat dan tentu tidak menghakimi orang tersebut.

Namun apabila dengan mengeluarkan keluh kesah masih belum bisa membuat seseorang melakukan keinginan untuk bunuh diri. Bisa dengan meminta bantuan kepada orang yang lebih ahli di bidangnya, seperti psikolog atau psikiater. “Orang-orang seperti itu memerlukan pendampingan dan konseling dari profesional untuk memperkuat mentalnya,” kata Vivi.

Ibu dari dua anak ini juga memberikan saran agar orang-orang yang depresi tersebut bisa bangkit dengan melakukan kesibukan yang positif. Karena jika sesorang tersebut sudah merasa hampa, tidak enak, itu bisa mencoba merubah pola aktifitas. Seperti mengatur kamar agar lebih menyenangkan, berolahraga atau menyalurkan hobinya.

Kegiatan-kegiatan tersebut tentu mampu meminimalisir perasaan depresi. Dan jangan lupa tetap terhubung dengan orang lain, baik di media sosial maupun secara langsung dengan orang yang dikenal dan bisa menguatkan.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#bahaya #bunuh diri #stress #psikologi