Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Via Ciptalia, Berawal dari Gagal Jadi Atlet Voli kemudian Beralih ke Sepak Takraw

Karen Wibi • Senin, 26 Juni 2023 | 17:43 WIB
TANGKAS: Mariska Yunita Sari, atlet atletik Kota Kediri saat berlatih lari gawang di Stadion Brawijaya.
TANGKAS: Mariska Yunita Sari, atlet atletik Kota Kediri saat berlatih lari gawang di Stadion Brawijaya.

Harapannya jadi atlet bola voli tak kesampaian karena posturnya yang pendek. Namun, kekurangan itu mampu dia ubah menjadi keuntungan. Hingga bisa menjadi satu dari dua pelatih sepak takraw yang ada di Jatim.

KAREN WIBI, Kota, JP Radar Kediri

“Semua orang pasti punya kekurangan. Kalau kekurangan saya salah satunya ya punya tubuh pendek,” ujar Via Ciptalia. Wanita ini adalah pelatih sepak takraw KONI Kota Kediri. Dia mengatakan itu karena berdasar pada kisahnya sendiri. Yang dia ceritakan dengan sedikit tersenyum. Bagaimana kekurangan yang dimiliki bisa menjadi jalan meraih kesuksesan.

Sejenak wanita yang saat itu berhijab coklat itu menghentikan cerita. Ganti berteriak ke arah para pemain yang tengah berlatih.

“Posisi bolanya sudah bagus, jangan ragu kalau mau smash,” teriaknya ke arah seorang atlet sepak takraw. Saat itu mereka sedang berlatih di lapangan SDN Pakunden 3 di Kecamatan Pesantren.

Di sela-sela memberi instruksi, Via bercerita tentang kekurangannya yang malah membawa berkah. Kekurangan itu adalah memiliki tubuh yang pendek. Yaitu sekitar 150 centimeter (cm). Meski umum bagi perempuan memiliki tinggi tersebut, namun menurut Via hal itu sempat membuatnya kurang bersyukur.

Kekurangan tersebut sudah dialami oleh Via sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Padahal saat itu dia ingin sekali menjadi atlet bola voli. Sama seperti kedua orang tuanya.

Sayangnya, selama ikut tim bola voli, Via selalu menjadi pilihan terakhir bagi pelatih. Dengan dalih dia terlalu pendek. Kalimat dari sang pelatih itu yang lalu membuat Via berkecil hati.

Selama bertahun-tahun Via terkurung dengan rasa tak bersyukurnya itu. Hingga suatu ketika, tidak sengaja mencoba bermain bola voli dengan cara yang berbeda. Yaitu dengan cara di-juggling. Saat men-juggling bola voli, ternyata langsung mahir. Padahal sebelumnya pun Via tak pernah berlatih mengontrol bola dengan kaki.

Singkat cerita, Via memutuskan menekuni olahraga sepak takraw. Hingga akhirnya dia menjadi pemain profesional. Tidak tanggung-tanggung, dia tercatat pernah mendapat empat medali emas di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Yaitu tiga medali emas di PON 2012 dan satu medali emas di PON 2016.

“Sama dapat dua perunggu. Satu di PON 2012 dan satu di PON 2016,” tambahnya.

Prestasi tersebut yang lalu membuat perempuan dari Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren, itu diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kemenpora. “Alhamdulillah itu semua dari sepak takraw,” ungkapnya.

Selang beberapa tahun kemudian, Via mengajukan untuk menjadi pelatih sepak takraw. Dengan alasan jika dirinya ingin lebih dekat dari rumah. Beruntung saat itu posisi pelatih takraw di Kota Kediri sedang kosong. Dengan senang hati Via pun memilih posisi tersebut.

Kini, sejak 2017, Via menjadi pelatih sepak takraw KONI Kota Kediri. Sembari melihat anak asuhnya, Via sedikit berkaca-kaca. Dengan lirih dirinya berujar jika hal yang dulunya paling tak disyukuri malah membawanya untuk sukses.

Alhasil masalah tinggi badan yang dianggapnya sebagai kekurangan kini dianggap sebagai berkah. Oleh sebab itu, Via selalu berpesan kepada semua orang untuk terus bersyukur. Meski tentang kekurangan yang dimiliki. Karena bisa saja hal tersebut yang membuatnya sukses di kemudian hari.

“Kalau kita mau bersyukur pasti sama Allah jalannya dibukakan,” ingatnya. 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#sepak takraw #atlet voli #atlet